KABAR PERBATASANPOTRET PERBATASANTANJUNGPINANG

Hujan Tak Reda, Nelayan Dompak Gelisah

×

Hujan Tak Reda, Nelayan Dompak Gelisah

Sebarkan artikel ini
Nelayan pompong kecil di Pulau Dompak menyusuri sungai keruh akibat hujan deras Ramadan 2026. Jum'at (20/02/2026).

“Nelayan pompong sungai di Dompak kesulitan mencari nafkah akibat hujan yang turun tanpa jeda sejak pertengahan Ramadan 2026.”

TANJUNGPINANG – Nelayan pompong sungai di Pulau Dompak, Ambok (62), mengaku gelisah karena hujan tak reda sejak tanggal 16 hingga 20 memasuki Ramadan 2026 membuat air sungai di Pulau Dompak, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau berubah keruh dan memperkuat arus. Kondisi tersebut menyebabkan ikan dan kepiting yang biasa menjadi sumber penghasilan mereka sulit ditangkap.

Hujan yang turun hampir tanpa jeda selama lima hari terakhir menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi para nelayan sungai di Dompak. Aliran sungai yang sebelumnya jernih kini berubah kecokelatan akibat lumpur dari hulu, disertai arus yang lebih deras.

Berbeda dengan nelayan yang melaut ke perairan lepas, nelayan Dompak menggantungkan hidup pada aliran sungai dan muara. Setiap subuh mereka berangkat menggunakan pompong kecil untuk memasang jaring dan bubu di titik-titik langganan tangkapan. Namun sejak hujan mengguyur berturut-turut, sungai tak lagi bersahabat.

“Dari tanggal 16 sampai hari ini tanggal 20, hujan terus. Air sungai jadi keruh sekali. Biasanya ikan dan kepiting mudah dapat, sekarang susah sekali,” ujar Ambok sambil menunjuk air sungai berwarna cokelat pekat.

Menurutnya, sebelum hujan datang, penghasilan dari menjual ikan dan kepiting ke pasar bisa mencapai Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per hari. Hasil tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur, membeli lauk sahur dan berbuka, bahkan menyisihkan sebagian untuk biaya sekolah anak. Namun dalam beberapa hari terakhir, pendapatan mereka merosot tajam.

“Jangankan ratusan ribu rupiah, untuk mencapai Rp100 ribu saja terasa berat. Kadang hasilnya tidak sebanding dengan minyak pompong. Tapi kami tetap turun, karena kalau tidak turun, tidak ada pemasukan sama sekali,” katanya.

Baca Juga:  Bazar King Ganet Ramai dan Favorit

Hal serupa diungkapkan Junaidi (58). Ia mengatakan air keruh membuat ikan sulit terlihat dan kepiting jarang masuk ke dalam bubu.

“Air keruh membuat ikan sulit terlihat, kepiting juga jarang masuk bubu. Arus sungai jadi lebih kuat, jadi pompong kecil kami sulit dikendalikan,” ujarnya.

Menurutnya, para nelayan sungai tidak memiliki banyak pilihan. “Kami ini cuma cari di sungai, bukan ke laut dalam. Kalau sungai sudah keruh begini, ya kami bingung mau cari ke mana lagi,” ungkapnya.

Di tengah ibadah puasa, mereka tetap turun ke sungai sejak subuh dengan harapan memperoleh hasil untuk dijual sore hari. Namun tak jarang, yang didapat hanya beberapa ekor ikan kecil yang jauh dari cukup untuk kebutuhan keluarga.

Kondisi ini bukan hanya soal menurunnya pendapatan, tetapi juga tentang kecemasan terhadap kebutuhan makan keluarga, biaya listrik, serta kebutuhan harian lainnya.

Hingga awal Ramadan ini, para nelayan sungai di Dompak berharap hujan segera reda dan air kembali jernih. Mereka tetap bertahan, turun ke sungai setiap pagi, dengan harapan esok hari membawa hasil yang lebih baik. (KP).


Laporan: Novita


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *