“Program Safari Ramadhan STAI Natuna di Masjid An-Nur mengintegrasikan metode retorika emosional dan filantropi Islam untuk memperkuat kohesi sosial serta antusiasme ibadah masyarakat.”
NATUNA — Presiden Mahasiswa STAI Natuna Muhammad Raus menginisiasi gerakan Safari Ramadhan di Masjid An-Nur, Singgang Bulan pada Selasa, 24 Februari 2026, sebagai upaya strategis dalam mengaktivasi diskursus keagamaan dan mempererat kohesi sosial melalui pendekatan dakwah persuasif.
Hal ini disampaikan Raus kepada koranperbatasan.com via Whatsapp pada Rabu, 25 Februari 2026.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Pondok Pesantren Mahasiswa ini memposisikan akademisi muda sebagai garda terdepan dalam menghidupkan syiar Islam di wilayah perbatasan. Menurut Raus, urgensi kegiatan ini terletak pada peran sentral kampus berbasis Islam di Natuna untuk mentransformasi nilai-nilai teologis menjadi praktik sosial yang nyata di tengah masyarakat.
Ketua Umum pelaksana kegiatan, Reno Saputra, melalui Raus menegaskan bahwa esensi dari safari ini adalah sinkronisasi antara silaturahmi formal dengan revitalisasi malam-malam Ramadhan. Melalui tausiyah agama yang terstruktur, tim bertujuan mengeksplorasi potensi spiritualitas masyarakat agar tetap konsisten dalam menjalankan ritus ibadah. Sebagai representasi institusi pendidikan tinggi Islam, para mahasiswa dituntut untuk memvalidasi peran mereka dalam pengabdian masyarakat melalui program yang inklusif dan edukatif.
Dalam sesi ceramah yang berlangsung mulai pukul 21.20 hingga 22.00 WIB, Raus menerapkan metodologi dakwah yang bersifat self-reflective. Dengan menggunakan pendekatan emosional yang memadukan unsur humor dengan narasi dakwah mendalam, Raus memantik audiens untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri terkait kualitas ibadah harian. Teknik komunikasi dua arah yang hangat dan penuh senyum menjadi katalisator dalam membangun hubungan spesial antara kaum intelektual muda dan masyarakat lokal, sehingga materi yang disampaikan dapat terinternalisasi dengan baik.
“Pendekatan yang kami gunakan bersifat personal dan menyentuh sisi kemanusiaan. Kami mengajak masyarakat merenungkan kembali rutinitas ibadah mereka, apakah sudah optimal atau masih memerlukan akselerasi. Sambutan masyarakat sangat ramah terhadap materi segar dan humoris menunjukkan bahwa pesan dakwah dapat diterima lebih efektif melalui kanal komunikasi yang luwes,” ujar Raus.
Selain aspek diskursif, kegiatan ini juga mencakup aksi filantropi berupa wakaf Al-Qur’an dan pemberian jam dinding untuk fasilitas Masjid An-Nur. Langkah ini dipandang sebagai bentuk kontribusi material guna menunjang infrastruktur ibadah di Singgang Bulan.
Raus berharap intervensi spiritual dan sosial ini mampu menjadi pemantik semangat bagi masyarakat dalam menjalankan ibadah di bulan suci, sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa bukan sekadar agen perubahan di ruang kelas, melainkan juga di mimbar-mimbar sosial. (KP).
Laporan : Dhitto










