Lebih lanjut, Ibrahim mengungkapkan bahwa sumber pendapatan daerah Natuna masih terlalu bergantung pada sektor migas dan ekspor pasir kuarsa. “Pendapatan kita terbatas. Migas dan pasir kuarsa dulu jadi tumpuan, tapi sejak ekspor pasir ke Tiongkok berhenti, pendapatan daerah terganggu. Dampaknya besar, termasuk ke TPP pegawai dan pembangunan pemerintah,” ujarnya.
Meski begitu, ia melihat sektor pariwisata dan kuliner lokal berpeluang besar untuk dikembangkan, hanya saja dukungan anggaran masih terbatas karena sistem bagi hasil dengan Provinsi Kepulauan Riau.
“Kalau Natuna nanti bisa menjadi provinsi sendiri, hasilnya bisa lebih fokus untuk pembangunan daerah perbatasan,” harapnya.
Mengenai perlambatan pembangunan, Ibrahim menilai hal itu bisa disebabkan oleh kebijakan yang kurang tepat, baik dari pusat maupun daerah. “Kebijakan bisa jadi bagus di pusat, tapi pelaksanaannya di daerah tidak sesuai. Kita perlu arah kebijakan yang jelas, mana sektor prioritas yang perlu difokuskan,” tuturnya.
BACA JUGA : 26 Tahun Natuna, Kepala Dinas Pariwisata Soroti Tantangan Akses dan Potensi Besar Perikanan
Dalam pesannya kepada Bupati Cen Sui Lan dan Wakil Bupati Jarmin, Ibrahim berharap agar kebijakan pemerintah daerah berpihak kepada rakyat kecil. “Saya berharap pemimpin kita amanah, jujur, dan adil. Tolong perhatikan ekonomi rakyat kecil. Buka lapangan ekonomi kreatif, wirausaha-wirausaha baru agar ekonomi di Natuna hidup,” pesannya.
Ia menambahkan, kemajuan akan mengikuti bila sektor ekonomi rakyat bergerak. “Kalau perdagangan lancar, ekspor-impor jalan, insyaallah Natuna akan tumbuh. Hidupkan lagi potensi sumber daya yang bisa menghasilkan pendapatan daerah,” ujar Ibrahim.
Pada sektor pendidikan, ia menyoroti keterbatasan guru dan ruang belajar di Natuna. “Sekolah negeri jumlahnya masih terbatas. Banyak anak belajar bergantian karena ruangnya tidak cukup. Pemerintah harus membangun sekolah baru di wilayah padat penduduk agar semua siswa bisa bersekolah,” sarannya.
BACA JUGA : Abdul Rahman: Natuna Tak Bisa Sendiri, Kolaborasi Jadi Kekuatan
Ia juga mengkritisi kondisi fisik gedung sekolah negeri yang kurang terawat. “Gedung-gedung sekolah tampak kusam dan tua. Cat pudar, atap bocor. Kabupaten lain tiap tahun melakukan perawatan, kita jarang sekali. Mudah-mudahan Ibu Bupati memperhatikan hal ini,” tegasnya.
Kepada anggota DPRD Natuna, Ibrahim memberikan pesan tajam agar tetap berpihak pada rakyat. “Bapak ibu duduk di DPRD karena suara rakyat. Gunakan amanah itu dengan bijak, jangan korupsi, kolusi, atau nepotisme. Fokuslah pada rakyat, bukan kekayaan pribadi,” katanya.
Menutup wawancara, ia mengajak seluruh pemimpin Natuna untuk lebih sering turun langsung ke masyarakat. “Bupati dan wakil bupati harus lebih sering mendengar aspirasi rakyat. Jangan teruskan kebiasaan yang membuat Natuna mundur. Kita harus berani berubah demi kemajuan bersama,” pungkasnya. (KP).
Laporan : Nisa










