“Ketidakpastian geopolitik global mendorong Indonesia memperkuat strategi ketahanan energi nasional melalui kolaborasi dan kebijakan baru sektor migas.”
Indonesian Petroleum Association (IPA) menyoroti dampak geopolitik global terhadap ketahanan energi nasional dalam forum Leadership Roundtable Talk yang digelar di Jakarta, Senin (20/4/2026).
JAKARTA – Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, isu ketahanan energi kembali menjadi perhatian utama pemerintah dan pelaku industri di Indonesia.
Disrupsi rantai pasok, dinamika kawasan, hingga persaingan global dalam menarik investasi energi mendorong perlunya strategi yang lebih adaptif dan kolaboratif.
Hal tersebut menjadi fokus dalam forum Leadership Roundtable Talk (LRT) yang merupakan bagian dari rangkaian Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) ke-50.
Forum tahunan ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku industri, hingga pakar sektor hulu migas untuk membahas arah kebijakan energi nasional.
Sejumlah tokoh penting dijadwalkan hadir, di antaranya Wakil Menteri ESDM RI Yuliot, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu, Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi Purnomo Yusgiantoro, hingga pimpinan perusahaan migas internasional.
Dalam forum tersebut, dibahas pentingnya diversifikasi sumber energi serta penguatan kolaborasi regional lintas sektor guna meningkatkan ketahanan energi nasional.
Selain itu, Indonesia juga dituntut untuk mampu bersaing dalam menarik investasi hulu migas di tengah meningkatnya risiko geopolitik dan keterbatasan alokasi modal global.
Pemerintah sendiri telah menetapkan kebijakan strategis dengan tidak mengizinkan ekspor minyak mentah oleh kontraktor guna memastikan pasokan energi dalam negeri tetap terjaga.
Kebijakan ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor serta menjaga stabilitas energi nasional.
Indonesian Petroleum Association (IPA) menyatakan dukungannya terhadap kebijakan tersebut, dengan catatan pelaksanaannya tetap memperhatikan keseimbangan kepentingan semua pihak.
Direktur Eksekutif IPA, Marjolijn Wajong, menegaskan bahwa kebijakan ini tidak akan merugikan kontraktor selama diterapkan dengan prinsip “no gain no loss”.
“Perusahaan migas tetap mendapatkan kepastian penjualan karena minyak akan diserap oleh Pertamina dengan harga setara,” ujarnya.
Meski demikian, IPA mengingatkan pentingnya pengelolaan masa transisi agar tidak mengganggu operasional di lapangan.
“Pengalihan lifting dari ekspor ke domestik harus berjalan lancar agar tidak menimbulkan disrupsi produksi,” tambahnya.
Melalui forum ini, diharapkan tercipta kesamaan pandangan antara pemerintah dan pelaku industri dalam merumuskan kebijakan energi yang berkelanjutan.
Forum tersebut juga menjadi wujud komitmen bersama dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menjaga daya tarik investasi sektor migas Indonesia di tengah dinamika global. (KP).
Laporan: Pandawa










