“Lembaga Wakaf Al-Muna STAI Natuna terus mengembangkan program wakaf produktif serta memperluas gerakan infak mahasiswa secara berkelanjutan.”
Ketua Lembaga Wakaf Al-Muna STAI Natuna, Dallah, S.E., M.E., menyampaikan lembaga yang telah berjalan selama lima tahun ini terus mengembangkan program wakaf produktif dan kegiatan sosial keagamaan di lingkungan kampus, Jumat (10/4/2026).
NATUNA – Lembaga Wakaf Al-Muna yang berada di bawah naungan Yayasan Abdi Ummah dan STAI Natuna terus menunjukkan peran aktif dalam mengembangkan program sosial keagamaan di Kabupaten Natuna.
Ketua Lembaga Wakaf Al-Muna, Dallah, menjelaskan bahwa lembaga tersebut telah berdiri dan beroperasi selama kurang lebih lima tahun dengan berbagai program unggulan.
“Lembaga Wakaf Al-Muna ini sudah bergerak selama lima tahun. Kami memiliki beberapa program, salah satunya program kurban yang setiap tahun dilaksanakan di berbagai titik,” ujarnya.
Program kurban tersebut tidak hanya dilaksanakan di lingkungan kampus, tetapi juga menjangkau beberapa wilayah di Natuna seperti Segeram, Kelarik, hingga Pian Tengah.
“Pemotongan hewan kurban tidak hanya di kampus, tapi juga di beberapa lokasi lain agar manfaatnya lebih luas,” katanya.
Dallah menjelaskan lembaga ini diinisiasi oleh berbagai unsur, mulai dari dosen, staf, pengelola STAI Natuna, hingga pihak luar yang masih memiliki keterkaitan dengan kampus.
“Pengurus berasal dari dosen, staf, dan juga pihak yayasan. Ada juga dari luar seperti Kepala SMP IT NIQ yang juga alumni STAI Natuna,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan kegiatan terbaru, ia mengakui kondisi cuaca sempat memengaruhi tingkat kehadiran mahasiswa.
“Karena hujan, sebagian mahasiswa tidak bisa hadir. Namun untuk tamu undangan seperti pihak perbankan syariah, yayasan, dan dosen, alhamdulillah hampir semua hadir,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menilai kegiatan tetap berjalan sesuai dengan target undangan yang telah direncanakan.
Ke depan, Lembaga Wakaf Al-Munawwarah menargetkan pengembangan wakaf produktif sebagai program unggulan, salah satunya melalui pengelolaan kebun pisang.
“Harapan kami kegiatan ini berkelanjutan, terutama wakaf produktif yang direncanakan berupa kebun pisang,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga mendorong partisipasi aktif mahasiswa dalam kegiatan infak yang dirancang lebih fleksibel.
“Kami berharap mahasiswa bisa terus berkontribusi melalui infak. Nantinya infak bisa dilakukan setiap hari dan dikumpulkan setiap Jumat,” jelasnya.
Untuk memudahkan partisipasi, lembaga juga menyediakan berbagai metode pembayaran, baik secara tunai maupun non-tunai.
“Bisa melalui transfer rekening atau QRIS, dan juga bisa secara tunai melalui koordinator mahasiswa (Kosma),” katanya.
Dallah menambahkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan para Ketua Suku Mahasiswa (Kosma) untuk menyosialisasikan program tersebut ke seluruh mahasiswa.
“Kami akan mengundang Kosma agar bisa menyampaikan kepada teman-temannya di kelas masing-masing, sehingga kegiatan infak ini bisa berjalan lebih merata,” tuturnya.
Ia berharap program ini dapat menjadi gerakan kolektif yang tidak hanya berdampak pada kampus, tetapi juga bagi masyarakat luas di Natuna. (KP).
Laporan: Dini










