NATUNA – Di usia Kabupaten Natuna yang menginjak 26 tahun, optimisme untuk terus membangun masih bergaing kencang di tengah berbagai tantangan yang menghadang. Namun di balik semangat tersebut terselip sebuah kenyataan pahit bahwa keterisolasian dan mahalnya biaya transportasi masih menjadi ‘PR besar’ yang menghambat laju pembangunan dan minat investor, menjadikan sektor perikanan sebagai satu-satunya penopang ekonomi yang paling menonjol hingga saat ini.
Hal ini diungkapkan secara gamblang oleh Sudirman, S.A.P., CLP., NL.P., Lurah Bandarsyah, Kecamatan Bunguran Timur, dalam sebuah wawancara bersama koranperbatasan.com di ruang kerjanya, Kamis, 30 Oktober 2025.
Menurut Sudirman, meski perkembangan Natuna sudah terlihat luar biasa dibandingkan masa awal pembentukannya, kemajuan itu masih berjalan tertatih jika dibandingkan dengan daerah lain, termasuk kabupaten pemekaran seperti Anambas.
“Kita menyadari memang kondisi Natuna itu di arah perbatasan. Jadi, perhatian pemerintah pusat dan provinsi itu sangat berperan. Kemudian yang tidak kalah penting adalah investor untuk melirik kabupaten kita. Namun dengan beberapa kendala seperti transportasi itu sangat berpengaruh sekali,” tegas Sudirman dengan nada serius.
Pria yang akan genap berusia 50 tahun pada Februari 2026 ini membeberkan fakta memilukan tentang disparitas harga tiket. Begitu tingginya perbandingan harga tiket melalui jalur transportasi udara dari Kabupaten Natuna menuju daerah lain, demikian pula sebaliknya dari luar untuk masuk Natuna. Ketimpangan yang begitu tampak jelas ini seolah benar-benar berpengaruh terhadap aspek pembangunan dan peningkatan ekonomi daerah.
“Perbandingan harga tiket kita ke kabupaten lain sangat timpang. Misalnya, dari Batam ke Jakarta itu bisa lebih murah. Namun, maskapai penerbangan khususnya transportasi udara ke Natuna harganya tinggi. Jadi itu salah satu faktor utama kenapa kita agak lambat berkembang,” ujarnya.
Sudirman menambahkan bahwa masalah transportasi ini adalah pekerjaan rumah bersama, bukan hanya tugas pemerintah daerah.
“Ini adalah PR kita bersama untuk bagaimana ke depan supaya transportasi jalur udara bisa lancar dan yang terpenting, murah. Kalau misalnya lancar tapi tetap mahal, sama saja kita tetap akan susah juga ,” tambahnya prihatin.
Dalam analisisnya terhadap sektor unggulan, Sudirman memaparkan bahwa saat ini, hanya sektor perikanan yang perkembangan nyatanya dapat disaksikan oleh masyarakat luas. Menurutnya, sektor ini telah menjadi tulang punggung bagi banyak masyarakat pesisir Kabupaten Natuna, terlebih dengan karakteristik geografis Natuna yang merupakan wilayah kepulauan.
“Sektor yang benar-benar terlihat dan menonjol di Kabupaten Natuna saat ini adalah perikanan. Tidak dapat dipungkiri, perikanan banyak menumbuhkan pengusaha-pengusaha baru dan menjadi tumpuan hidup bagi para nelayan kita yang mampu memanfaatkan hasil laut secara langsung,” paparnya.
Akan tetapi Sudirman juga tidak menampik adanya persaingan yang harus dihadapi oleh nelayan tradisional. “Walaupun di sektor lain itu ada juga, tapi tidak semenonjol perikanan. Sektor inilah yang saat ini sangat membantu warga tempatan, mengingat ciri khas warga kita adalah masyarakat pesisir pantai. Namun, kita juga harus jujur melihat adanya persaingan antara nelayan tradisional dengan nelayan dari luar,” imbuh Sudirman, yang telah dua tahun menjabat sebagai Lurah Bandarsyah.
Ketika ditanya mengapa hanya sektor perikanan yang mampu berkembang pesat sementara sektor lainnya seperti pertanian, perkebunan, dan peternakan hingga pertambangan masih tertatih-tatih, Sudirman menjelaskan bahwa kemajuan sebuah sektor tidak hanya bergantung pada kemauan daerah semata.
“Untuk memajukan sektor yang lain bukan sekadar campur tangan atau permintaan dari daerah saja, tetapi juga membutuhkan andil yang kuat dari pemerintah provinsi dan pusat. Selain transportasi, kendala lain yang akan dihadapi adalah bagaimana membuat sektor-sektor potensial seperti pertanian bisa lebih menonjol ke depannya dan mampu memberikan manfaat jangka panjang,” jelasnya.
Meski demikian, Sudirman menyimpan optimisme terhadap masa depan. Pihaknya melihat adanya potensi yang mulai bermunculan, salah satunya adalah sektor pertambangan. “Mudah-mudahan nanti perusahaan luar juga bisa masuk, sehingga perputaran ekonomi untuk warga kita bisa lebih stabil. Saya juga berharap sektor pertanian kita bisa unggul di masa yang akan datang,” harapnya.
Memasuki usia ke-26 tahun Kabupaten Natuna, Sudirman yang merupakan abdi negara langsung di level kelurahan menekankan pentingnya dua hal yang sangat berpengaruh sebagai pilar awal dalam upaya membangun kekuatan ekonomi daerah yaitu pada sinergi yang solid antara eksekutif dan legislatif, serta peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) putra-putri daerah.
Kepada DPRD dan Bupati Natuna, Sudirman juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya ikatan tali kolaborasi dan sinergi yang kuat untuk benar-benar mewujudkan pembangunan kekuatan ekonomi daerah.
“Saya sebagai lurah yang berada di bawah kepemimpinan eksekutif memahami bahwa sinergi ini adalah salah satu pendukung utama pembangunan. Karena jika tidak ada keselarasan antara eksekutif dan legislatif maka pembangunan akan lebih susah untuk diwujudkan, mengingat fungsi DPRD adalah pengawasan. Mari kita jalankan tupoksi masing-masing dengan baik,” pesannya.
Sementara itu, untuk masyarakat Natuna pada umumnya dan warga Bandarsyah khususnya, seruannya adalah mendukung penuh program-program pemerintah daerah. “Khususnya warga saya di Bandarsyah, mari kita dukung bersama pembangunan daerah Kabupaten Natuna. Apalagi sekarang dipimpin oleh Bupati yang baru, mari kita dukung program-program pemerintah, karena setiap program unggulan pemimpin pasti dirancang sebagai yang terbaik untuk warganya sendiri,” ajaknya.
Namun dibalik semua upaya tersebut, peningkatan sumber daya manusia adalah kunci yang paling penting. Oleh karena itu Sudirman kembali mengingatkan bahwa investasi terbesar untuk memacu kemajuan Natuna terletak pada peningkatan kualitas manusia.
“Pesan saya untuk kemajuan Kabupaten Natuna yang lebih utama adalah mari kita sama-sama meningkatkan SDM, khususnya putra-putri daerah. Karena ilmu yang dimiliki oleh anak-anak kita merupakan investasi yang paling berharga. Ke depannya, hanya dengan SDM yang tinggi dan unggul kita dapat mengunggulkan Kabupaten kita agar lebih maju lagi,” tutupnya penuh keyakinan.
Sebagai penutup perbincangan, Sudirman juga meninggalkan sebuah perenungan mendalam terkhusus untuk para pemimpin dan masyarakat Kabupaten Natuna sendiri bahwa ‘Negeri Melayu’ yang terletak di ujung paling utara dari republik ini masih berjuang melawan tantangan geografis dan infrastrukturnya yang paling mendasar. Namun dengan semangat gotong royong, sinergi pemerintahan, dan fokus pada pembangunan SDM, harapan untuk melihat Natuna sebagai kabupaten yang maju dan mandiri di perbatasan negeri bukanlah sebuah mimpi yang mustahil untuk diwujudkan. (KP).
Laporan : Dhitto










