NATUNA (KP),- Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri, Hardinansyah, SE, M.Si mengatakan penyusunan Master Plan Geopark Natuna terkendala oleh pandemi Covid-19.
Selain itu, kegiatan rutin even tahunan seperti Sail to Natuna yang telah mendapat dukungan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau dan Kementerian Pariwisata juga terkendala.
“Untuk rutinitas tetap berjalan. Cuma kita ada 26 event, tapi belum ada yang jalan. Jadi ada juga beberapa yang kita batalkan, seperti lomba renang dan Eksplor Natuna di Batam,” kata Hardinansyah, menjawab koranperbatasan.com di ruang dinasnya, Senin 08 Juni 2020.
Rencana yang telah terprogram itu, kata Hardinansyah, tidak dapat dilaksanakan bukan karena sengaja. Tetapi mengikuti arahan dari pemerintah pusat yang berlaku pada setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

“50 persen itu-kan dipangkas sesuai dengan arahan dari pusat. Kemudian diturunkan ke daerah. Pemangkasannya 50 persen belanja modal, 50 persen belanja barang dan jasa. Jadi termasuklah kegiatan-kegiatan yang kita jelaskan tadi,” ujarnya.
Menurut Hardinansyah, pembangunan fisik yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp3 milyar lebih juga terkendala. “Jadi itu juga tidak bisa berjalan. Kemudian untuk Geopark Natuna kita mengajukan uji global, salah satu syaratnya harus punya master plan. Jadi tidak bisa kita laksanakan, karena ada pemangkasan anggaran,” terangnya.
Sejauh ini, lanjut Hardinansyah, yang tidak terpangkas hanya anggaran rutin untuk pembayaran gaji. “Cuma yang tinggal macam gaji dan tunjangan itu, tetap. Kalau kegiatan-kegiatan yang harus menggunakan anggaran tidak berjalan. Anggarannya sudah dipangkas untuk satu tahun, berarti tahun ini tidak ada yang bisa berjalan,” jelasnya.
Hardinasyah memastikan tidak ada yang bisa diharapkan meskipun perubahan anggaran. “APBD-P kita tidak bisa berharap. Karena sekarang saja devisit, tapi untuk lebih jelas bisa tanya sama BPKAD. Karena mereka yang lebih tahu, kemungkinan – kemungkinan ada tambahan pendapatan. Mungkin yang pioritas bisa, tapi saya pikir agak kecil kemungkinan. Apa lagi macam event waktunya sudah lewat. Kemudian penyusunan master plan geopark itu, tidak cukup lagi waktu untuk dikerjakan. Jadi saya pikir tahun ini tidak ada,” pungkasnya.
Lebih jauh, Kepala Dinas yang akhir-akhir ini terpantau kerap melakukan ekspedisi langsung dibeberapa titik potensi wisata dan objek wisata Natuna tersebut menjelaskan ada DAK non fisisk yang bisa dilaksanakan.

“DAK non fisik itu, ada pelatihan seperti selam, kemudian capacity building. Jadi program kita tinggal bagaimana mempromosikan ini melalui media massa, facebook dan instagram. Sebetulnya tahun 2018 lalu jumlah kunjungan wisata ke Natuna itu sekitar 22.000. Tahun 2019 berhasil sampai 30.666 pengunjung. Artinya ada peningkatan. Tahun ini sebetulnya target kita 40.000 pengunjung, dan itu sudah ada, cuma kita batalkan,” tuturnya.
Sebagai Kadis Pariwisata Natuna, Hardinansyah mengingatkan keselamatan juga penting untuk dilestarikan secara bersama. “Intinya kita jangan tergesa-gesa. Kita masih zona hijau dan kesehatan masyarakat itu nomor satu. Untuk apalah ada kunjungan, kalau tadi zona hijau berubah jadi merah. Jadi kita tidak berharap seperti itu. Kita tetap berharap hijau, walaupun tidak ada wisatawan masuk,” imbuhnya.
Hardinansyah berharap Covid-19 cepat berlalu. “Walaupun kita menerapkan new normal sebagai tatanan kehidupan baru, agak kuatir. Sebenarnya Dinas Pariwisata untuk sektor pariwisata welcome dengan memenuhi protokol kesehatan. Sekarang kami sedang menginventarisir destinasi objek wisata mana saja yang bisa dikunjungi memenuhi persyaratan dari protokol kesehatan,” tutupnya. (KP).
Laporan : Sandi / Johan










