NATUNA (KP),- Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau berkomitmen memberikan pelayanan terbaik apakah itu, kepada peserta JKN-KIS maupun pasien umum.
Oleh karena itu, dibutuhkan informasi dasar pelayanan, fasilitas, sarana dan prasarana, serta cakupan pasar yang bergantung pada tata kelola sistem, kapabilitas SDM, bangunan fisik dan peralatan serta sumber daya yang memadai.
“Harapan saya, pertama rumah sakit ini bisa memaksimalkan apa yang telah menjadi visi dan misi Pemda, yaitu menjadi rumah sakit rujukan,” kata dr. Imam Syafari, MPH menjawab koranperbatasan.com di ruang dinasnya, Selasa 7 Juli 2020.
Sebagai Direktur RSUD Natuna, dr. Imam menyebutkan salah satu kosekuensi merialisasikan rumah sakit rujukan adalah ketersediaan anggaran untuk memenuhi sarana dan non prasarana.
“Misalnya kami minta jenis scen, tolong dong di kasih. Kami minta anggaran untuk spesialis yang belum ada, tolong dong di kasih. Kira-kira seperti itu lah. Jadi harapan kami, ketika visi misi RSUD sudah tercapai, berarti kami sudah bisa untuk pengembangan yang lebih lanjut lagi,” tuturnya.
Dampak dari semua itu, kata dr. Imam adalah perlu adanya perhatian serius pemerintah terhadap keberadaan dan atau kebutuhan RSUD Natuna selaku Rumah Sakit Type C.
“Karena mendatangkan dokter spesialis itu, tidak murah. Dokter spesialis itu, perbulannya Rp40-45 juta. Artinya apa perlu alokasi anggaran dari Pemda, karena di kasih anggaran segitu saja belum ada dokter spesialis. Sampai sekarang dari tahun 2007 kami minta dokter spesialis anak saja belum ada,” ujarnya.

Sejauh ini, lanjut dr. Imam, RSUD Natuna hanya ada program kerjasam antara Pemda dengan beberapa universitas. “Jadi maunya kami, besok-besok kita sudah punya dokter spesialis menetap di sini. Cuman sekarang investasi SDM dua atau tiga tahun kedepan. Ada banyak adek-adek kita yang sekolah spesialis. Insyaallah bisa terpenuhi semuanya,” imbuh dr. Imam.
Menurut dr. Imam, pelayanan di Rumah Sakit Type C berdasarkan regulasi dari peraturan yaitu, melayani empat dasar tiga penunjang. Empat dasar itu, mulai dari melayani spesialis anak, bedah dan kebidanan hingga pelayanan spesialis penyakit dalam. Sedangkan penunjangnya adalah pelayanan spesialis radiologi atau ronsen, laboratorium patologi klinik dan anestesi dokter bagian membuat operasi bius.
“Karena ini satu-satunya rumah sakit yang kita kebangkan, tentunya tidak cukup hanya berdasarkan empat dasar dan tiga penunjang itu. Kita juga memerlukan tambahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, di tambah pelayanan dokter spesialis mata, THT, neologi dan dokter giginya. Jadi dokter-dokter spesialis itu, juga ada di UGD,” terangnya.
Dijelaskan dr. Imam kekurangan dokter spesialis menjadi satu-satunya kendala di RSUD Natuna selama ini. “Dokternya masih kurang. Jadi ketersediaan spesialisnya kita kurang. Dokter anak sampai sekarang kita gak punya. Makanya di kaper dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ada program kerjasama, sehingga kita di kirim tiap bulan dokter residen namanya,” papar dr. Imam.
Kehadiran para dokter yang sedang menjalani pendidikan untuk menjadi seorang spesialis dari hasil kerjasama tersebut menurut dr. Imam didatangkan secara bergantian dalam hitungan bulan. “Dikerjakan di sini, setiap bulan kita ganti-ganti. Untuk spesialis laboratorium patologi klinik kita kerjasama dengan Fakultas UI. Kemudian dokter anestesi kerjasamanya dengan Fakultas Airlangga. Kalau yang lain-lainnya kita ada,” sebutnya.
Dari penjelasan dr. Imam, RSUD Natuna selama ini hanya ada beberapa dokter spesialis yang bekerja secara tetap, diantaranya dua orang dokter bedah. ”Kita juga punya sendiri dokter penyakit dalam, THT, syaraf, gigi, Obgyn dan spesialis neurologi. Jadi kita juga ada dokter tambahan yang dibiayai oleh Pemda. Kemudian kita ada kerjasama antara Pemda, dalam hal rumah sakit dengan pihak UI disitu ada hak dan kewajiban kita,” ungkapnya. (KP).
Laporan : Boy Iqbal / Yani










