Bekerja di pulau seberang dan jarang pulang ke kampung halaman, tentu membuat ibu saya merasa rindu. Bagaimana tidak?, setiap harinya hanya berkomunikasi melalui media sosial tanpa bertatap muka secara langsung.
Siang yang cerah, sekira pukul 13.30 WIB, saya menyempatkan diri untuk minum secangkir air kopi hangat di sebuah warung kopi yang berada di Ranai ibu kota Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
Menikmati rasa air kopi dengan perpaduan resep yang diracik secara khas oleh bapak Murdifin pemilik warung kopi, tiba-tiba handphone saya berdering. Ternyata bunyi deringan itu menandakan adanya panggilan video call melalui aplikasi WhatsApp dari ibu kandung saya, Safar Lela Wati. Saya pun menerima panggilan itu.
“Assalamu’alaikum, kenapa mak?,” kata saya.
“Wa’alaikum salam, abang di mana?,” tanya ibu.
“Di warung kopi mak,” jawab saya.
“Mak mau ke Ranai sore nanti, ayah antar pakai pompong,” lanjut ibu.
“Iyalah mak,” ujar saya.
“Iya, mak kasih tahu itu saja,” sebutnya lagi.
“Iyalah mak, kabari jika sudah berangkat, Assalamu’alaikum,” tutur saya.
“Iya bang, Wa’alaikum salam,” ibu menutup panggilan itu.
Sore harinya, Rabu, 28 September 2022 ibu mulai melakukan perjalanan dari Pulau Sedanau yang juga kampung halaman saya. Karena harus menyeberang lautan, maka sesuai yang dikatakan ibu bahwa ia diantar oleh ayah saya, Karnadi menggunakan pompong (perahu nelayan lokal).
Untuk sampai ke Ranai, ibu harus melewati beberapa daerah terlebih dahulu. Banyak jalur yang bisa ditempuh menggunakan transportasi laut, mulai dari Desa Binjai, Desa Kelarik, Selat Lampa dan Kampung Semintih. Karena yang terdekat dan tercepat yakni Kampung Semintih, maka ibu dan ayah memutuskan untuk menuju ke sana. Ibupun kembali mengabari saya melalui video call.
“Mak sudah mau jalan menuju Semintih,” ibu mengabari.
“Iyalah mak, langsung ke Ranai atau menginap?,” tanya saya.
“Menginap dulu satu malam,” jawab ibu.
Butuh waktu lebih kurang selama 30 menit, untuk ibu dan ayah sampai ke Kampung Semintih. Ibu menginap di Kampung Semintih bukanlah tanpa sebab, melainkan karena tidak ada lagi transportasi darat (taxi) yang beroperasi menuju ke Ranai sore hari itu. Usai mengantar ibu, ayah saya langsung pulang ke Pulau Sedanau.
Keesokan harinya, Kamis, 29 September 2022 pagi, ibu melanjutkan perjalanan lebih kurang satu jam menuju ke Ranai menggunakan taxi. Sesampainya ibu di Ranai, saya bersama kedua adik kandung Arvin dan Rendi menyambut kedatangan ibu. Raut wajah ceria yang tampak dibalik senyuman ibu, jelas menggambarkan kegembiraan. Apalagi kedatangan ibu juga disambut oleh cucu pertamanya Aerin dan menenantunya Era (isrti Arvin). Inilah yang menjadi tujuan utama ibu menuju ke Ranai, untuk menemui anak, cucu dan menantunya.
“Cucu, nenek datang,” seketika ibu langsung memeluk dan menggendong cucunya.
Berada di Ranai selama tiga hari, tentu dimanfaatkan ibu untuk melepas kerinduan bersama anak, cucu dan menantu. Momentum kebersamaan dengan keluarga ini, ibu mengajak anak, cucu dan menantu berjalan-jalan di seputaran wilayah Ranai kota. Bahkan menonton langsung pelaksanaan Tournament Piala Bupati Natuna Tahun 2022, baik pertandingan bola kaki maupun bola voli dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Natuna ke-23. Dimana puncak HUT kabupaten itu akan berlangsung pada 12 Oktober 2022.
Di rumah kontrakan yang berbeda namun berdekatan, saya tinggal sendirian sementara yang lainnya bersama Arvin. Saat itu ibu memilih menginap di rumah kontrakan Arvin.
Ibu sempat memantau kondisi rumah kontrakan yang saya tempati, dimana rumah ini disediakan oleh atasan tempat saya bekerja. Melihat galon kosong dan yang ada hanyalah air putih di dalam sebuah botol mineral, ibupun langsung merespon.
“Beli bang air galon,” ucap ibu.
“Sangaja tidak beli mak, tinggal sendiri pakai botol cukup,” jawab saya.
Ibu hanya terdiam dan hanya tersenyum.
Sabtu, 1 Oktober 2022 siang, ibu hendak akan kembali pulang ke Pulau Sedanau. Waktu itu saya sedang berada di luar melakukan aktivitas pekerjaan. Tiba-tiba saya dihubungi oleh Rendi memberitahukan hal itu.
“Mak suruh pulang ke rumah, jam satu mau pulang ke Sedanau,” sebut Rendi melalui pesan WhatsApp.
Sayapun segera menuju ke kontrakan Arvin. Tak lama kemudian, taxi datang. Saya bersama adik-adik memasukan barang bawaan ibu ke dalam taxi.
“Mak pulang dulu,” ucap ibu saat kami anak dan menantunya bersalaman, seraya ibu memeluk dan mencium pipi cucunya sebelum masuk ke dalam taxi.
Belum jauh taxi meninggalkan area kontrakan, sontak membuat saya kaget. Sebab ketika masuk di dalam kontrakan yang saya tempati, terlihat galon yang awal mulanya kosong itu sudah terisi air.
Begitulah kasih sayang ibu untuk anaknya. Hal ini mengingatkan saya dengan sebuah peribahasa “kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah”.
Begitu juga Allah telah memerintahkan hamba-Nya untuk berbakti kepada orang tua melalui sejumlah firman-Nya.
“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya itu selama tiga puluh bulan. Sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim,” (Qs. Al-Ahqaf : 15).
“Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali,” (Qs. Luqman : 14).
Semoga kita semua bisa memetik hikmah dibalik kisah ini. (*).
- Penulis : Johan Narjo
- Wartawan koranperbatasan.com










