ANAMBAS – Di tengah laut biru yang memeluk gugusan pulau Anambas, kapal-kapal yacht satu per satu berlabuh. Namun di balik keelokan pemandangan dan decak kagum para pelancong asing, ada harapan yang diam-diam dipupuk oleh pemerintah daerah: agar keindahan tak hanya ditatap, tapi juga menghidupkan nadi ekonomi masyarakat.
“Kita harap mereka ini bukan cuma singgah menikmati alam, tapi juga tinggalkan kontribusi, bukan langsung ke pemerintah, tapi ke masyarakat,” kata Effi Sjuhairi, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Anambas kepada koranperbatasan.com.
Menurutnya, setiap kali kapal yacht bersandar, sejatinya potensi perputaran ekonomi tengah terjadi. Wisatawan yang turun ke darat, kata Effi, bukan sekadar melancong. Mereka berbelanja, mencicipi kuliner lokal, membeli kelapa muda di pinggir jalan, hingga keliling pulau dengan paket tur yang dikelola warga.
“Kalau mereka naik ke darat, ya harus belanja lah. Selama di Anambas mereka pasti butuh sesuatu, dan di situlah masyarakat bisa jual,” ujarnya.
Namun, tidak semua potensi bisa langsung digarap daerah. Soal labuh kapal, misalnya, laut adalah ranah wewenang provinsi. Pemerintah kabupaten tak bisa serta merta menarik pungutan, meski peluangnya cukup menjanjikan.
“Kalau itu kewenangan kabupaten, mungkin kita udah pungut parkirnya. Tapi sekarang masih di provinsi. Setahu saya, sampai hari ini belum ada pungutan resmi dari mereka,” jelas Effi.
Meski demikian, masih ada celah pemasukan tak langsung. Salah satunya dari pajak restoran sebesar 10 persen yang dibayar wisatawan saat bersantap di rumah makan. Begitu pula kontribusi dari BNPB dan proses visa yang dikelola secara digital via BRI.
Bicara soal fasilitas, Anambas saat ini punya keterbatasan. Kapasitas berlabuh hanya bisa menampung sekitar 15 kapal dalam satu waktu.
“Itu pun mesti antre. Hari ini masuk, besok keluar. Lokasi berlabuh pun dibagi, dari depan Masjid Agung, Tanjung Momong, sampai Temburun,” bebernya.
Jauh-jauh hari, masterplan pengembangan pelabuhan yacht sudah dirancang. Tapi semua terganjal satu hal klasik: anggaran.
“Kita udah punya blueprint pelabuhan pariwisata, tinggal cari uangnya aja buat realisasi,” katanya.
Effi tak lupa menyentil peran media. Menurutnya, media adalah corong promosi yang tak kalah penting dari promosi formal.
“Kalau kalian tulis yang bagus, orang minat datang. Kalau kalian tulis yang buruk, ya orang malas. Sekarang kan media bukan cuma koran—YouTube, TikTok juga. Jadi kita saling bantu lah,” pungkasnya. (KP).
Laporan : Azmi










