KABAR PERBATASANKEPULAUAN RIAUNASIONALNATUNAPOTRET PERBATASANSALAM PERBATASAN

Petani Cemaga Tengah Andalkan Cabai Meski Harga Fluktuatif, Harapkan Pupuk dan Alat Bajak

×

Petani Cemaga Tengah Andalkan Cabai Meski Harga Fluktuatif, Harapkan Pupuk dan Alat Bajak

Sebarkan artikel ini
Muhammad Sharif, Ketua Gapoktan Desa Cemaga Tengah, menunjukkan tanaman cabai di kebunnya, Natuna.
Potret suasana saat wawancara bersama Muhammad Syarif, petani cabai sekaligus Ketua Gapoktan Desa Cemaga Tengah, saat berada di kebun cabainya.

NATUNA – Hampir 13 tahun sudah Mohammad Syarif menekuni dunia pertanian di Desa Cemaga Tengah, Kecamatan Bunguran Selatan, Kabupaten Natuna, sejak pertama kali mencoba bercocok tanam pada 2011 harus jatuh bangun dengan berbagai komoditas sebelum akhirnya memutuskan fokus pada cabai sejak 2019.

“Awalnya saya tanam bermacam-macam, ada cabai sedikit, ada mentimun, semangka, jagung. Masih coba-coba mana yang bisa lebih menghasilkan. Baru tahun 2019 saya fokus ke cabai, karena lebih menjanjikan,” ujar Syarif kepada koranperbatasan.com di kebun cabainya, Selasa, 26 Agustus 2025.

Syarif menggarap lahan seluas sekitar tujuh hektare. Namun lahan itu bukan miliknya. Ia mendapat kepercayaan dari pemilik kebun kelapa untuk mengelola lahan kosong di antara pohon kelapa.

“Lahannya punya orang lain, tapi kita diberi izin untuk menanam tanaman jangka pendek seperti hortikultura. Hasil panen tidak diminta bagi, hanya modal semua dari kita sendiri,” jelasnya.


Potret kebun cabai yang di kelola oleh Mohammad Syarif.
Potret kebun cabai yang di kelola oleh Mohammad Syarif.

Dari total tujuh hektare, separuhnya ditumbuhi kelapa, sementara sisanya dimanfaatkan untuk tanaman hortikultura. Dengan kondisi itu, Syarif mengatur strategi agar bisa menanam komoditas yang sesuai.

Mulai 2019, Syarif beralih fokus ke cabai. Sesekali ia kombinasikan dengan jagung karena menurut penyuluh pertanian, kedua komoditas itu cocok ditanam berdampingan.

Alasannya sederhana, cabai bisa menghasilkan lebih besar meski risikonya juga tinggi. Dari pengalaman menanam 2.000 batang cabai, Syarif pernah menghasilkan sekitar dua ton dalam satu musim panen.

“Umur cabai biasanya dua bulan produktif, bisa sampai 20 kali panen. Dari 2.000 batang, saya pernah dapat 2 ton. Tapi soal harga, itu sangat bergantung pasar. Kadang Rp110 ribu per kilo, tapi pernah juga jatuh sampai Rp15 ribu,” ungkapnya.

Baca Juga:  Aii Boba Natuna Hadirkan Minuman Kekinian Harga Mulai Rp8 Ribu

Potret kebun cabai yang di kelola oleh Mohammad Syarif.

Syarif memaparkan, kunci sukses cabai terletak pada pengelolaan media tanam sejak awal. Tanah harus digemburkan, dibuat bedengan, lalu ditutup plastik mulsa agar lebih terjaga kelembapannya.

“Tanaman butuh nutrisi seperti manusia. Kita harus tahu kapan pupuk untuk kesuburan, kapan untuk daya tahan. Kalau ada hama, kita harus tahu jenisnya. Kalau jamur, beda lagi obatnya. Kalau salah obat, tanaman bisa mati,” jelasnya.

Syarif menambahkan, tantangan terbesar adalah pengendalian penyakit dan hama. Harga obat-obatan di Natuna jauh lebih mahal dibanding di Jawa atau Pontianak. “Bisa dua kali lipat lebih mahal. Itu membuat banyak petani gagal,” ujarnya.

Hasil panen cabai umumnya dijual ke pasar. Jika panen besar, Syarif biasa menghubungi tengkulak yang datang langsung ke ladang. Selisih harga dengan pasar sekitar Rp5.000 per kilo.

“Kalau ke pasar kita bisa jual lebih tinggi, tapi capek juga angkutnya. Kalau ke tengkulak, mereka ambil di ladang. Bedanya tipis,” jelasnya.

Selain untuk pasar, Syarif juga melayani pembeli eceran yang datang langsung ke kebunnya. Hasil panen tersebut menjadi sumber utama biaya rumah tangganya.

“Uang dari panen ya untuk sekolah atau biaya kuliah anak, makan minum sehari-hari. Kalau ada lebih, baru dipakai untuk kebutuhan lain,” katanya.

Sejak fokus ke cabai, Syarif baru mendapat bantuan pupuk dan tangki sprayer dari Dinas Pertanian Provinsi Kepri pada 2023. Setahun kemudian, 2024, ia baru merasakan pupuk subsidi dari Kabupaten Natuna melalui skema RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok).

“Itu pun baru sekali-sekali. Obat-obatan belum pernah dibantu, bibit juga belum. Jadi, kebanyakan kami modal sendiri,” jelasnya.


Potret suasana saat wawancara bersama Muhammad Syarif, petani cabai sekaligus Ketua Gapoktan Desa Cemaga Tengah.
Potret suasana saat Mohammad Syarif memaparkan tentang pengendalian penyakit dan hama sebagai tantangan terbesar petani cabai serta berbagai permasalahan yang kerap kendala utama.

Menurut Syarif, tiga kendala utama petani cabai Natuna adalah pupuk, obat, dan alat bajak. Tanpa pupuk subsidi, petani sulit membuka lahan luas. Sementara obat-obatan sangat mahal, membuat perawatan tidak maksimal.

Baca Juga:  Sosialisasi Hinga Survei ke Rumah Warga Akan Dilakukan Pemkab Anambas dalam Mencegah dan Menekan Kasus Stunting

“Kendalanya juga alat bajak. Di Bunguran Besar ini hanya ada dua traktor besar dari dinas, tapi itu harus antre lama. Kadang kita ingin tanam di bulan tertentu, malah tertunda karena nunggu giliran. Pas dapat giliran, malah musim hujan, akhirnya gagal,” keluhnya.

Sebagai Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Cemaga Tengah, Syarif berharap pemerintah lebih memperhatikan kebutuhan dasar petani.

“Kami harap pupuk subsidi ada setiap tahun, alat bajak kecil dibantu untuk tiap kelompok, dan kartu tani bisa segera diberikan ke petani aktif. Dengan begitu, kami bisa menanam tepat waktu dan hasilnya maksimal,” pungkasnya. (KP).


Laporan : Fergi


📊 Views: 12

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *