KABAR PERBATASANKEPULAUAN RIAUNASIONALNATUNAPARLEMENTARIAPEMERINTAHANPENDIDIKANPOLITIKRAGAM PERBATASANSALAM PERBATASAN

Nahkodai HMI Cabang Natuna, Manifestasi Gerakan untuk Otonomi Provinsi Khusus

×

Nahkodai HMI Cabang Natuna, Manifestasi Gerakan untuk Otonomi Provinsi Khusus

Sebarkan artikel ini
Potret Ketua Umum HMI Cabang Natuna Fergiawan bersama Wakil Ketua Komisi II DPR RI sekaligus Presidium Majelis Nasional KAHMI Zulfikar Arse Sadikin S.IP., M.Si.

Narasi perjuangan otonomi khusus hanyalah paradigma yang menjadi asumsi belaka jika tidak memiliki daya gedor untuk diwujudkan dalam praksis nyata. Inilah manifesto politik yang bergema, mendorong sintesis pemikiran independensi etis Lafran Pane dan semangat revolusioner Tan Malaka menjadi basis seruan Otonomi Provinsi Khusus untuk Natuna-Anambas.

 

NATUNA – Fergiawan resmi dilantik sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Natuna periode 2025-2026 dalam sebuah prosesi yang digelar di Gerai Sisi Basisir, Rabu, 26 November 2025.

Pelantikan yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum Badko HMI Riau-Kepri, Wiriyanto Aswir, ini bukan sekadar reorganisasi sirkulasi elit organisasi, melainkan penegasan eksistensial HMI sebagai “mata air perkaderan” yang tak pernah surut di garda terdepan Republik ini.

​Dalam pidato perdananya, Fergiawan tidak hanya bicara soal manajemen organisasi, tetapi meletakkan landasan epistemik gerakan HMI Natuna ke depan dengan menawarkan sebuah diskursus menarik yaitu perkawinan silang antara independensi etis Lafran Pane dengan semangat aksi revolusioner Tan Malaka.

​Fergiawan membuka orasi kebudayaannya dengan penghormatan takzim kepada pendiri HMI, Lafran Pane. Pihaknya menyebut Lafran Pane sebagai peletak batu bata independensi etis di tengah badai guncangan revolusi 1947.

Namun Fergiawan juga memberikan autokritik tajamnya, bahwa jika hanya sekadar memegang teguh independensi tanpa daya gedor hanyalah “romantisme sejarah” belaka.

​”Kita berhutang nalar pada Ayahanda Lafran Pane. Namun, untuk mengeksekusi daya gedor, saya menarik benang merah dari mahakarya Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka atau Tan Malaka. Seorang pemimpin harus memiliki keberanian eksekusi, sebuah Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika) yang nyata untuk mengubah keadaan, bukan sekadar berdialektika dengan retorika di ruang hampa,” tegas Fergiawan.

Baca Juga:  Amanat Gubkepri Lantik Bupati dan Wakil Bupati Natuna

Potret Ketua Umum HMI Cabang Natuna Fergiawan saat menyampaikan kata sambutannya dalam acara pelantikan pengurus HMI Cabang Natuna.

​Fegiawan menekankan bahwa kader HMI di Natuna harus bertransformasi menjadi eksekutor gagasan. Praksis gerakan tidak boleh berhenti pada diskusi tekstual, melainkan harus membumi menjadi aksi yang mengubah realitas sosial.

​Manifestasi dari sintesa pemikiran tersebut dituangkan Fergiawan dalam target strategis yang ambisius, mencanangkan Natuna sebagai tuan rumah Intermediate Training (LK II) tingkat Nasional pada tahun 2026.

​”Kami ber-azam menarik gravitasi pemikiran mahasiswa se-Indonesia untuk hadir di tanah Natuna. Ini bukan sekadar pelatihan, melainkan upaya membawa diskursus intelektual nasional ke wilayah perbatasan,” ujarnya.

​Untuk mewujudkan agenda besar tersebut, serta rencana keikutsertaannya dalam Sekolah Pimpinan (Sepim) HMI di Jakarta pada akhir 2025, Fergiawan menyerukan pentingnya kolaborasi logistik yang solid.

Fergiawan juga menyebut dukungan terhadap pendidikan kader sebagai “investasi tak terlihat” yang dividennya akan dipanen daerah dalam bentuk kepemimpinan berkualitas di masa depan.

​Di hadapan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Fergiawan menegaskan posisi HMI secara presisi. Dirinya menolak subordinasi, namun membuka ruang sinergitas.

​”Kami hadir sebagai mitra kritis. Kritik kami adalah tanda cinta, dan dukungan kami adalah tanda komitmen. Kami siap menjadi kawan berpikir (partner in thinking) untuk menciptakan orkestrasi pembangunan yang harmonis, bukan sebagai bawahan yang sekadar mengiyakan kebijakan,” ucapnya lugas.

​Puncak pidato Fergiawan menyentuh isu fundamental mengenai masa depan geopolitik dan geoekonomi Natuna-Anambas. Dengan lantang, dirinya menyuarakan dukungan HMI terhadap wacana pembentukan provinsi tersendiri bagi kepulauan ini.

​Menurutnya, peningkatan status administratif Natuna dan Anambas bukan sekadar keinginan politis, melainkan sebuah “keniscayaan sejarah” mengingat potensi raksasa yang dimiliki wilayah ini di Laut Natuna Utara.

Baca Juga:  Pemkab Anambas Gandeng Kejaksaan Negeri Dalam Penggunaan Anggaran Covid-19

​”Anak-anak Melayu di kepulauan terpencil ini tidak boleh lagi menjadi penonton di negerinya sendiri, tetapi harus menjadi subjek determinan yang menentukan masa depannya. Otonomi yang lebih luas adalah kunci kesejahteraan masyarakat di beranda negeri. Hak-hak konstitusional dan martabat wilayah ini sebagai entitas integral Republik harus diakui secara utuh,” pungkas Fergiawan menutup dalam kata sambutannya.

​Pelantikan ini menjadi sinyal kuat bahwa di bawah kepemimpinan Fergiawan, HMI Cabang Natuna akan bergerak lebih agresif, intelektual, dan politis dalam mengawal isu-isu kedaerahan maupun kebangsaan. (KP).


Laporan : Dhitto


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *