“Pemerintah Desa Teluk Sunting berhasil menekan prevalensi stunting hingga nol kasus melalui penguatan Integrasi Layanan Primer dan intervensi gizi berkelanjutan.”
Kepala Desa Teluk Sunting, Syahroni, menyatakan wilayah yang dipimpinnya kini berhasil mencapai nol kasus stunting berkat penguatan intervensi gizi spesifik dan pemantauan kesehatan berkelanjutan melalui skema Integrasi Layanan Primer (ILP).
ANAMBAS – Desa Teluk Sunting, Kecamatan Siantan Tengah, Kabupaten Kepulauan Anambas mencatatkan capaian penting dalam upaya penanganan stunting. Pemerintah desa memastikan wilayah tersebut kini berada pada posisi zero stunting setelah sebelumnya masih ditemukan kasus gangguan pertumbuhan pada balita.
Pencapaian tersebut disampaikan Kepala Desa Teluk Sunting, Syahroni, dalam wawancara usai kegiatan buka puasa bersama di Masjid Al-Hidayah, Kamis (5/3/2026).
Menurut Syahroni, keberhasilan tersebut bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari kebijakan dan program yang dijalankan secara sistematis melalui penguatan program Integrasi Layanan Primer (ILP).
“Secara data, pada tahun lalu kami masih mencatatkan adanya temuan kasus. Namun melalui konsistensi program ILP di tahun 2026 ini, kami bersyukur Desa Teluk Sunting sudah berada di posisi nol kasus stunting,” ujarnya.
Program tersebut mencakup sejumlah langkah strategis, antara lain pendistribusian Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita, pemberian vitamin secara berkala, serta kunjungan rumah atau home visit oleh kader kesehatan.
Keberhasilan ini juga tidak lepas dari sinergi lintas sektor yang melibatkan puskesmas setempat, pemerintah Kecamatan Siantan Tengah, serta kader ILP yang menjadi ujung tombak pelaksanaan program di lapangan.
Dari sisi anggaran, Pemerintah Desa Teluk Sunting mengalokasikan dana sebesar Rp50 juta pada tahun anggaran berjalan untuk mendukung program penanganan stunting. Dana tersebut diprioritaskan pada pemenuhan gizi serta operasional pengawasan kesehatan.
Meski demikian, Syahroni mengakui saat ini belum terdapat alokasi khusus berupa insentif finansial langsung kepada keluarga terdampak, karena fokus utama pemerintah desa adalah pemulihan kesehatan fisik balita melalui intervensi gizi dan layanan kesehatan.
Untuk menjaga capaian tersebut tetap stabil, pemerintah desa melakukan evaluasi program secara berkala setiap tiga bulan guna memastikan tidak muncul kasus baru.
Menariknya, tantangan sosial yang sering muncul di sejumlah wilayah lain, seperti penolakan edukasi kesehatan, tidak ditemukan di Desa Teluk Sunting. Masyarakat dinilai sangat kooperatif dan terbuka terhadap program kesehatan yang dijalankan kader.
Menutup keterangannya, Syahroni menegaskan pentingnya dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas, terutama dalam hal sinkronisasi program pusat dan daerah serta akses informasi teknis.
Ia berharap status zero stunting yang telah dicapai dapat dipertahankan demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia di desa tersebut pada masa mendatang. (KP).
Laporan: Azmi










