“Tujuh doktor putra asli Natuna mendirikan Archipelago Natuna Research Center (ANRC), lembaga riset independen yang diarahkan untuk memperkuat pembangunan Natuna melalui penelitian, kajian kebijakan, dan rekomendasi berbasis data.”
NATUNA – Direktur Eksekutif Archipelago Natuna Research Center (ANRC), Dr. H. Amirudin, MPA., menyampaikan tujuh doktor putra asli Natuna telah membentuk ANRC sebagai lembaga riset independen yang diarahkan untuk memperkuat pembangunan Natuna melalui penelitian, kajian kebijakan, dan rekomendasi berbasis data.
ANRC secara hukum telah memperoleh Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-0000211.AH.01.07.Tahun 2026. Tujuh doktor putra asli Natuna membentuk Archipelago Natuna Research Center (ANRC), sebuah lembaga riset yang diarahkan untuk memperkuat pembangunan Natuna melalui penelitian, kajian kebijakan, dan rekomendasi berbasis data.
Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif ANRC, Dr. H. Amirudin, MPA., dalam siaran pers mengenai kehadiran lembaga riset tersebut. Para pendiri ANRC terdiri dari:
- Dr. H. Umar Natuna, M.Pd.I.
- Dr. H. Amirudin, MPA.
- Dr. H. Syahidun, MM.
- Dr. H. Tirtayasa, MA.
- Dr. Asmara Juana, M.Si.
- Dr. H. Kamaruddin, MM.
- Dr. Syahidin, MA.
Menurut Amirudin, ANRC kini hadir sebagai lembaga yang secara hukum telah memperoleh Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-0000211.AH.01.07.Tahun 2026 bukan sekedar lembaga kajian.
Amirudin menjelaskan, ANRC lahir dari kesadaran bahwa berbagai persoalan Natuna membutuhkan penelitian yang serius, berbasis data, dan dilihat dari berbagai disiplin ilmu.
Sebagai daerah kepulauan dan perbatasan dengan posisi strategis, Natuna menghadapi persoalan yang saling berkaitan, mulai dari pembangunan ekonomi, pendidikan, kemaritiman, kesejahteraan masyarakat, tata kelola pemerintahan, lingkungan, sumber daya alam, sosial-kebudayaan, hingga hubungan pusat dan daerah.
Karena itu, ANRC memosisikan diri sebagai knowledge partner yang mempertemukan ilmu pengetahuan, data empiris, dan kebutuhan pembangunan. Hasil kajian ANRC dapat dikembangkan dalam bentuk research report, policy paper, policy brief, rekomendasi kebijakan, kajian akademik, serta forum ilmiah dan diskusi publik.
Migas Hanya Salah Satu Bidang Kajian
Amirudin menegaskan, ANRC tidak didirikan khusus untuk menangani persoalan minyak dan gas. Migas memang merupakan salah satu isu strategis Natuna yang dapat menjadi objek penelitian.
Namun, bidang kajian ANRC jauh lebih luas, meliputi pembangunan perbatasan, kebijakan publik, pendidikan, ekonomi, kemaritiman dan ekonomi biru, sosial-kebudayaan, Islam dan Tamaddun Melayu, geopolitik, lingkungan, sumber daya alam, desentralisasi fiskal, hubungan pusat-daerah, serta berbagai persoalan strategis lainnya.
Dengan demikian, migas merupakan salah satu tema penelitian ANRC, bukan identitas maupun satu-satunya agenda lembaga.
Independen dan Terbuka
Menurut Amirudin, ANRC berkomitmen menjaga independensi akademik dalam menentukan agenda penelitian, mengolah data, melakukan analisis, dan menyampaikan hasil kajian.
Pada saat yang sama, ANRC terbuka membangun kolaborasi dengan pemerintah, DPRD, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, organisasi masyarakat, media, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
ANRC juga membuka ruang bagi akademisi, peneliti, profesional, praktisi, generasi muda, serta putra-putri Natuna di berbagai daerah dan negara untuk berkontribusi sesuai kompetensi masing-masing.
Membangun Ekosistem Pengetahuan Natuna
Amirudin menyampaikan, ANRC tidak hadir untuk mengambil ruang siapa pun. Sebaliknya, ANRC ingin menambah ruang bagi penelitian, pengetahuan, dialog, dan gagasan mengenai masa depan Natuna.
Bagi ANRC, pembangunan daerah membutuhkan lebih dari sekadar sumber daya dan anggaran. Pembangunan juga membutuhkan data yang kuat, penelitian yang independen, analisis yang mendalam, dan kebijakan yang berbasis bukti.
“Dari Natuna, ANRC ingin ikut membangun tradisi tersebut,” demikian disampaikan Amirudin.
ANRC membawa semangat “Dari Natuna, untuk Natuna, melalui ilmu pengetahuan, integritas riset, dan kerja bersama.”
Laporan: Awan










