NATUNAPEMBANGUNAN DAERAHPENDIDIKAN

27 Tahun Natuna, Ida Susanti Ungkap Tiga Tantangan Pendidikan

×

27 Tahun Natuna, Ida Susanti Ungkap Tiga Tantangan Pendidikan

Sebarkan artikel ini
Kepala SMAN 1 Bunguran Timur, Hj. Ida Susanti, S.Pd., menyampaikan perkembangan pendidikan sekaligus menyoroti tiga tantangan sekolah di Natuna, yakni akses internet, fasilitas laboratorium, dan kendala geografis.

“Memasuki usia ke-27 tahun, Kabupaten Natuna dinilai telah menunjukkan perkembangan positif di sektor pendidikan, tetapi masih menghadapi sejumlah persoalan yang perlu dibenahi. Kepala SMAN 1 Bunguran Timur, Hj. Ida Susanti, S.Pd., mengungkap tiga tantangan utama yang masih dihadapi sekolah, yakni akses internet yang belum stabil, keterbatasan fasilitas laboratorium, serta kendala geografis dalam penyediaan sarana dan prasarana pendidikan.”

NATUNA – Kepala SMAN 1 Bunguran Timur, Hj. Ida Susanti, S.Pd., menilai perkembangan pendidikan di Kabupaten Natuna pada usia ke-27 tahun menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.

Menurut Ida, pemerataan akses pendidikan mulai dirasakan. Di SMAN 1 Bunguran Timur, perkembangan tersebut terlihat dari peningkatan kualitas guru, antusiasme siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, serta prestasi peserta didik yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Di usia Natuna yang ke-27 tahun ini, perkembangan pendidikan di Natuna sangat signifikan. Jika dibandingkan beberapa tahun yang lalu, akses pendidikan sudah lebih merata. Di SMAN 1 Bunguran Timur, kami melihat peningkatan dari segi kualitas guru, antusiasme murid untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, dan prestasi murid dari tahun ke tahun semakin meningkat,” ujar Ida kepada koranperbatasan.com melalui WhatsApp, Kamis (8/10/2026).

Namun, menurut Ida, kemajuan tersebut masih dibarengi sejumlah tantangan yang harus mendapat perhatian. Ia menyebut ada tiga persoalan utama yang masih dihadapi dalam mendukung proses pembelajaran di sekolah.

Pertama, persoalan sarana digitalisasi, terutama akses internet yang belum stabil. Kedua, keterbatasan fasilitas Laboratorium IPA dan Laboratorium Komputer. Ketiga, persoalan infrastruktur pendukung yang dipengaruhi kondisi geografis Natuna sebagai wilayah kepulauan.

“Kami masih menghadapi berbagai tantangan, yaitu sarana digitalisasi, akses internet yang masih belum stabil, fasilitas Laboratorium IPA dan Laboratorium Komputer, serta infrastruktur pendukung akibat faktor geografis,” jelasnya.

Baca Juga:  Natuna Sambut Tim Penilai Geopark Nasional, Siap Tampilkan Potensi Kawasan Strategis

Internet Sekolah Masih Belum Stabil

Ida menilai kebutuhan terhadap sarana digital semakin penting dalam menunjang proses pendidikan. Namun, akses internet yang belum stabil masih menjadi salah satu kendala yang dihadapi sekolah.

Persoalan ini menjadi perhatian karena kegiatan pendidikan saat ini semakin membutuhkan dukungan teknologi dan akses informasi digital.

Bagi sekolah di wilayah kepulauan seperti Natuna, ketersediaan jaringan internet yang stabil menjadi bagian penting dalam pemerataan kualitas pendidikan.

Laboratorium IPA dan Komputer Masih Jadi Perhatian

Selain digitalisasi, Ida menyebut keterbatasan fasilitas Laboratorium IPA dan Laboratorium Komputer sebagai tantangan lain.

Menurutnya, keberadaan fasilitas pembelajaran yang memadai dibutuhkan untuk mendukung proses pendidikan dan meningkatkan kemampuan peserta didik.

Keterbatasan sarana tersebut menjadi salah satu pekerjaan yang perlu diperhatikan agar kemajuan kualitas guru dan prestasi siswa dapat diimbangi dengan fasilitas belajar yang memadai.

Faktor Geografis Hambat Pengiriman Sarana

Tantangan ketiga berkaitan dengan kondisi geografis Natuna. Ida mengatakan pengiriman sarana dan prasarana dari luar daerah membutuhkan waktu cukup lama.

Kondisi cuaca juga terkadang menjadi faktor yang menghambat proses pengiriman kebutuhan sekolah.

“Pengiriman sarana prasarana dari luar daerah masih membutuhkan waktu yang lama serta kondisi cuaca yang kadang menghambat,” ungkapnya.

Menurut Ida, kondisi geografis tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam memenuhi kebutuhan sarana pendidikan secara cepat.

Program Unggulan Tetap Berjalan

Di tengah berbagai keterbatasan, SMAN 1 Bunguran Timur tetap menjalankan sejumlah program unggulan untuk mendukung perkembangan peserta didik.

Ida menyebut program tersebut antara lain ekstrakurikuler seni budaya, pembiasaan Kalcer (Kamis Ceria) yang berisi literasi dan numerasi, pembiasaan Imtaq setiap Jumat, serta Bunga-Bunga Srindit yang diselaraskan dengan Raya Smansa.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah dalam mengembangkan kemampuan siswa sekaligus menjaga nilai budaya.

Baca Juga:  IPSI Natuna Gelar Youth Fighter Championship 2026 Berbasis IT

Sekolah Ikut Meriahkan HUT ke-27 Natuna

Dalam rangka memperingati HUT ke-27 Kabupaten Natuna, SMAN 1 Bunguran Timur juga menggelar sejumlah kegiatan. Kegiatan tersebut meliputi upacara bersama dan doa syukur untuk Natuna, gotong royong di lingkungan sekolah, serta ikut memeriahkan pawai budaya.

Keterlibatan sekolah dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan kepedulian terhadap daerah sekaligus memperkuat kebersamaan dan pelestarian budaya.

Tiga Harapan untuk Pendidikan Natuna

Memasuki usia ke-27 Kabupaten Natuna, Ida menyampaikan tiga harapan utama untuk mendukung keberlanjutan pendidikan di daerah perbatasan.

Pertama, peningkatan sarana dan prasarana sekolah, terutama fasilitas digital dan akses internet bagi sekolah-sekolah di wilayah kepulauan. Kedua, perhatian terhadap kesejahteraan dan peningkatan kompetensi guru agar kualitas tenaga pendidik terus berkembang.

Ketiga, dukungan beasiswa bagi siswa berprestasi dan kurang mampu agar mereka memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Menurut Ida, dukungan tersebut penting agar generasi muda Natuna tidak hanya mendapatkan pendidikan yang berkualitas, tetapi juga memiliki kesempatan untuk bersaing di tingkat yang lebih luas.

“Semoga di usia yang ke-27, Natuna semakin maju, pendidikan berkualitas, dan murid-murid bisa bersaing di tingkat nasional tanpa meninggalkan identitas budayanya,” tutupnya.


Laporan: Dini


📊 Views: 68

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *