KABAR PERBATASANNATUNA

Air Bersih Natuna Terancam Kemarau, Perumda Siapkan Mobil Tangki

×

Air Bersih Natuna Terancam Kemarau, Perumda Siapkan Mobil Tangki

Sebarkan artikel ini
Caption: Direktur Perumda Tirta Nusa Kabupaten Natuna, Zaharuddin, S.Pd., saat diwawancarai terkait kesiapan menghadapi potensi kemarau panjang, keterbatasan fasilitas, dan upaya menjaga pasokan air bersih bagi masyarakat Natuna.

“Perumda Tirta Nusa Kabupaten Natuna menyiapkan langkah mitigasi menghadapi potensi kemarau panjang pada awal 2027, termasuk memperbaiki sumber air dan menambah armada mobil tangki. Direktur Perumda Tirta Nusa, Zaharuddin, S.Pd., menyebut keterbatasan fasilitas dan ketergantungan pada curah hujan menjadi tantangan utama dalam menjaga pasokan air bersih bagi masyarakat.”

NATUNA – Direktur Perumda Tirta Nusa Kabupaten Natuna, Zaharuddin, S.Pd., mengatakan perusahaan daerah tersebut mulai mempersiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi penurunan debit air baku pada akhir 2026 hingga awal 2027. Persiapan dilakukan setelah pihaknya berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk membahas perkiraan kondisi cuaca ke depan.

Menurut Zaharuddin, sumber air baku yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di Natuna sangat bergantung pada air permukaan dan curah hujan. Ketika musim kemarau berlangsung, debit air dapat menurun, sementara kebutuhan masyarakat terus meningkat.

“Air baku sendiri untuk Natuna ini adalah air permukaan. Nah, air permukaan itu 100 persennya mengharap dari curah hujan. Ketika beberapa bulan ke belakang kita memasuki musim kemarau, secara otomatis debit air itu berkurang. Dan kita tidak ada cadangan yang lain,” ujar Zaharuddin kepada Koran Perbatasan, Senin, (19/10/2026).

Ia menjelaskan, fasilitas penyediaan air bersih yang tersedia saat ini masih terbatas dan sebagian dibangun ketika jumlah penduduk Kecamatan Bunguran Timur masih berada pada kisaran belasan ribu jiwa. Kini, jumlah penduduk di wilayah tersebut telah mencapai sekitar 28.000 jiwa.

Pertumbuhan penduduk dan pembangunan fasilitas baru turut meningkatkan kebutuhan air bersih. Zaharuddin mencontohkan keberadaan Sekolah Rakyat dan pembangunan pasar yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar.

Menurutnya, pembangunan dan pembaruan fasilitas air bersih perlu menjadi perhatian agar kebutuhan masyarakat saat ini maupun perkembangan investasi di masa mendatang dapat terlayani.

“Fasilitas yang kita miliki saat ini betul-betul masih sederhana. Kalau fasilitas air bersih ini tidak kita bangun dari sekarang, itu menjadi kendala dan masalah yang besar ke depannya,” katanya.

Siapkan Perbaikan Sumber Air dan Mobil Tangki

Menghadapi potensi kemarau yang lebih panjang, Perumda Tirta Nusa menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Zaharuddin mengatakan pihaknya telah mengkaji kemungkinan penurunan debit air baku dan merencanakan perbaikan sumber air di sejumlah intake atau titik pengambilan air, termasuk yang berada di sungai.

Selain perbaikan sumber air, perusahaan juga berencana menambah armada mobil tangki untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat ketika pasokan melalui jaringan perpipaan mengalami keterbatasan.

Baca Juga:  Kasatpol PP : Usia 21 Tahun, Natuna Terlihat Berkembang

Langkah tersebut dipersiapkan untuk menghadapi periode awal 2027, yang menurut informasi BMKG yang diterima Perumda diperkirakan memasuki musim kemarau pada Januari. Persiapan juga menjadi perhatian karena Ramadan diperkirakan berlangsung pada Februari 2027.

“Kami sudah melakukan mitigasi. Hari Rabu kemarin melakukan rapat dengan BMKG. Informasinya, Januari kita sudah memasuki musim kemarau. Dari itu saya sudah mempersiapkan antisipasi potensi penurunan persediaan air baku,” ujarnya.

Zaharuddin menambahkan, dukungan pemerintah daerah juga dibutuhkan untuk menunjang operasional penanganan darurat, termasuk kebutuhan bahan bakar mobil tangki.

Ia mengingatkan bahwa upaya menjaga pasokan air tidak hanya bergantung pada perusahaan daerah. Masyarakat dan pelanggan juga perlu mempersiapkan cadangan air di rumah untuk menghadapi kemungkinan gangguan distribusi.

“Kalau ada rezeki, belilah tempat tampungan air yang mencukupi kira-kira untuk seminggu. Jadi ketika ada pembagian air dari PDAM, kami tidak harus bolak-balik di situ-situ saja. Karena kebutuhan kan banyak,” katanya.

Embung Sebayar Belum Menjangkau Seluruh Ranai

Selain mengandalkan sumber air permukaan dan sungai, Perumda Tirta Nusa juga menyiapkan pemanfaatan Embung Sebayar sebagai salah satu alternatif pasokan air. Namun, distribusi air dari embung tersebut belum dapat menjangkau seluruh wilayah Ranai Kota karena keterbatasan pipa penghubung.

Zaharuddin menjelaskan, air Embung Sebayar saat ini baru dapat dinikmati sebagian wilayah, di antaranya Bandarsyah dan Batu Hitam. Sejumlah daerah lain masih belum terhubung dengan jaringan pipa yang diperlukan untuk menyalurkan air dari embung.

Keterbatasan jaringan tersebut menjadi salah satu pekerjaan yang perlu diselesaikan agar potensi sumber air yang tersedia dapat dimanfaatkan lebih luas.

Ia juga menjelaskan bahwa kapasitas Embung Sebayar sekitar 50 liter per detik, sementara jumlah pelanggan Perumda yang disebutkannya mencapai sekitar 7.000 pelanggan. Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan perlunya pengembangan kapasitas dan fasilitas penampungan air untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang.

“Artinya kita harus punya embung lagi, atau embung itu kita lebarkan lagi. Kalau mau bagus, bagaimana cara kita mencari biaya atau anggarannya,” ujarnya.

Distribusi dan Penyesuaian Tarif Air

Dalam wawancara tersebut, Zaharuddin juga menjelaskan persoalan distribusi air di sejumlah wilayah. Ia menyebut pasokan di kawasan Air Lakon sempat terganggu ketika sumber air di gunung mengalami kekeringan saat musim kemarau.

Baca Juga:  Pompong Distribusi BBM Antar Pulau Terbakar

Sementara itu, distribusi di Ranai Darat menggunakan sistem gravitasi sehingga tekanan air dapat berbeda berdasarkan jarak pelanggan dari sumber air. Menurutnya, pelanggan yang berada lebih dekat dengan sumber cenderung memperoleh aliran lebih deras dibandingkan pelanggan yang lokasinya lebih jauh.

Ia berharap sistem distribusi dapat ditingkatkan melalui penggunaan fasilitas pemompaan yang memungkinkan tekanan air diatur lebih merata. Menurutnya, peningkatan pelayanan harus berorientasi pada kepuasan pelanggan, bukan sekadar air mengalir melalui jaringan.

“Kita bukan hanya sekadar melayani saja, tetapi melayani betul-betul memuaskan. Itu keinginan saya,” katanya.

Terkait penyesuaian tarif air yang menjadi pembicaraan masyarakat, Zaharuddin menegaskan bahwa kenaikan tarif tidak diberlakukan secara merata. Menurutnya, penyesuaian hanya diterapkan di wilayah yang distribusi airnya telah berjalan lancar.

Ia menyebut sejumlah wilayah, termasuk Air Lakon, Jemengan, dan Ranai Kota, belum mengalami penyesuaian tarif sebagaimana wilayah yang dinilai memperoleh layanan lebih lancar. Ia juga mengatakan kebijakan tersebut berkaitan dengan temuan dan arahan instansi pengawas yang perlu ditindaklanjuti.

“Kenaikan tarif itu tidak merata. Hanya daerah-daerah yang airnya lancar. Kami punya peta dari pembacaan meter. Jadi tidak semuanya,” ujar Zaharuddin.

Ia meminta masyarakat memahami kebijakan tersebut dengan mempertimbangkan kondisi pelayanan, ketentuan yang berlaku, serta kebutuhan pembenahan infrastruktur. Namun, persoalan tarif dan pemerataan distribusi tetap menjadi bagian penting dari tantangan pelayanan air bersih di Natuna.

Fasilitas Menjadi Kunci Pelayanan

Zaharuddin menegaskan, pembenahan fasilitas merupakan kebutuhan utama agar sumber air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal. Menurutnya, ketersediaan air dari embung maupun sumber air di kawasan perbukitan tidak akan cukup membantu jika jaringan perpipaan dan fasilitas distribusinya belum memadai.

Pemerintah daerah, kata dia, telah berupaya membangun fasilitas dengan dukungan pemerintah pusat melalui anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Meski demikian, kebutuhan peningkatan infrastruktur masih memerlukan perhatian dan pendanaan berkelanjutan.

Ia berharap pembaruan fasilitas dapat memperluas jangkauan pelayanan, memperbaiki tekanan air, dan mengurangi gangguan distribusi, terutama ketika musim kemarau menurunkan debit sumber air.

Bagi Perumda Tirta Nusa, tantangan ke depan bukan hanya menjaga air tetap tersedia, melainkan memastikan air dapat disalurkan secara lebih merata dan memuaskan bagi pelanggan di Kabupaten Natuna.


Laporan: Dini


📊 Views: 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *