“Ketua Umum Generasi Anak Melayu Kepri Bersatu (GERAM Kepri Bersatu), Aryandi, S.E., mengajak berbagai pihak memperkuat pelestarian budaya Melayu melalui edukasi dan kolaborasi lintas lembaga. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan silaturahmi dan edukasi filosofi tanjak serta tata cara pemakaian kain samping bersama General Manager Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang, Mohamad Setiadi Dermawan Wakan, Jumat (6/11/2026).”
TANJUNGPINANG – Generasi Anak Melayu Kepri Bersatu (GERAM Kepri Bersatu) menjalin silaturahmi dengan General Manager Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang, Mohamad Setiadi Dermawan Wakan, Jumat (6/11/2026).
Pertemuan yang berlangsung di Gedung Engku Puteri Hamidah, PT Angkasa Pura Indonesia (Persero), Kantor Cabang Bandara Internasional RHF Tanjungpinang tersebut menjadi ruang edukasi mengenai filosofi, adab, adat istiadat, serta tata cara pemakaian tanjak warisan dan pengikatan kain samping.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sarana memperkenalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam busana tradisional Melayu. Tanjak dan kain samping bukan hanya pelengkap penampilan, melainkan bagian dari warisan budaya yang mencerminkan sejarah, identitas, adab, dan kebanggaan masyarakat Melayu.
Melalui kegiatan tersebut, GERAM Kepri Bersatu berupaya menumbuhkan pemahaman bahwa pelestarian budaya harus dimulai dengan mengenal dan memahami maknanya, kemudian menerapkannya secara tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Umum GERAM: Kami Tidak Akan Pernah Bosan Melestarikan Budaya Melayu
Ketua Umum GERAM Kepri Bersatu, Aryandi, S.E., menegaskan bahwa pelestarian budaya Melayu merupakan tanggung jawab bersama, terutama bagi generasi muda sebagai penerus warisan leluhur.
“Kami tidak akan pernah bosan menyosialisasikan dan memperkenalkan warisan budaya Melayu kepada masyarakat. Ini merupakan kewajiban kami sebagai generasi muda Melayu agar budaya peninggalan leluhur tidak hilang ditelan zaman,” tegas Aryandi.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui kegiatan seremonial atau peringatan hari-hari tertentu. Budaya harus terus dihidupkan melalui edukasi, praktik, dan pembiasaan dalam kehidupan masyarakat, termasuk penggunaan tanjak dan kain samping dalam kegiatan adat, kebudayaan, serta acara resmi yang sesuai.
Ia juga mengajak generasi muda Melayu agar tidak merasa malu atau minder mengenakan busana tradisional sendiri. Sebaliknya, tanjak dan kain samping harus dipandang sebagai identitas yang patut dijaga dan dibanggakan.
“Jangan pernah malu memakai tanjak warisan dan berkain samping. Itu bagian dari jati diri dan warisan yang ditinggalkan oleh leluhur kita. Jika bukan kita yang menjaga dan melestarikannya, siapa lagi? Jangan sampai anak cucu kita kelak hanya mengenal tanjak dan kain samping melalui cerita atau gambar, tanpa memahami makna dan cara pemakaiannya,” ujarnya.
Aryandi menambahkan, semangat mengangkat budaya Melayu harus tumbuh dari kesadaran masyarakat sendiri. Generasi muda perlu tampil percaya diri membawa identitas budayanya tanpa mengabaikan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi.
“Jadilah tuan di negeri sendiri, di tanah yang bertuah ini, tanah Melayu. Kita harus bangga dengan akar budaya kita, menghormati warisan leluhur, dan memastikan nilai-nilai luhur Melayu tetap hidup di tengah masyarakat,” tambahnya.
GM Bandara RHF Sambut Baik GERAM dan Buka Peluang Kolaborasi
General Manager Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang, Mohamad Setiadi Dermawan Wakan, menyambut baik kunjungan silaturahmi GERAM Kepri Bersatu beserta kegiatan edukasi budaya yang dilakukan organisasi tersebut.
Ia mengapresiasi langkah kalangan muda yang tidak hanya menunjukkan kepedulian terhadap adat istiadat Melayu, tetapi juga mengambil peran aktif dalam menjaga dan mempertahankan warisan budaya agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.
Menurutnya, kepedulian generasi muda terhadap budaya daerah merupakan hal positif yang perlu terus didukung. Upaya memperkenalkan filosofi tanjak, tata cara pemakaian kain samping, serta nilai-nilai adat Melayu menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya di tengah perkembangan zaman.
Mohamad Setiadi juga menyatakan kesiapan untuk membuka peluang kolaborasi dengan GERAM Kepri Bersatu dan memberikan dukungan semaksimal mungkin terhadap kegiatan pelestarian budaya, sesuai kapasitas dan ketentuan yang berlaku.
Ia menyambut baik apabila GERAM Kepri Bersatu ingin menyelenggarakan kegiatan kebudayaan di lingkungan Bandara RHF, dengan tetap memperhatikan mekanisme, perizinan, dan ketentuan operasional yang berlaku.
Keterbukaan tersebut diharapkan menjadi awal terbangunnya sinergi antara komunitas pelestari budaya dan pihak pengelola bandara dalam memperkenalkan kekayaan budaya Melayu kepada masyarakat yang lebih luas.
Dukungan dan kolaborasi lintas lembaga dinilai penting agar pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab komunitas tertentu, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.
GERAM Dorong Pemerintah Lebih Serius Perhatikan Warisan Budaya Melayu
Dalam kesempatan tersebut, GERAM Kepri Bersatu juga mendorong pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota, agar memberikan perhatian lebih serius terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu.
Menurut GERAM, pelestarian budaya membutuhkan dukungan nyata, bukan hanya sebatas slogan atau kegiatan seremonial. Diperlukan program berkelanjutan yang mampu mendekatkan budaya Melayu kepada masyarakat, khususnya pelajar dan generasi muda.
Pemerintah diharapkan dapat memperluas ruang promosi budaya melalui festival, pameran, pertunjukan adat, sosialisasi di sekolah, serta pelatihan mengenai filosofi tanjak, tata cara pemakaian busana Melayu, penggunaan kain samping, dan pemahaman adat istiadat Melayu.
Selain itu, dukungan terhadap komunitas, sanggar budaya, budayawan, pengrajin tanjak, serta para pelaku pelestarian adat juga perlu diperkuat agar pengetahuan dan keterampilan tradisional tidak terputus akibat minimnya regenerasi.
GERAM Kepri Bersatu turut mendorong pemerintah mengkaji penyusunan regulasi yang mendukung perlindungan dan pelestarian warisan budaya Melayu, baik melalui peraturan daerah maupun peraturan gubernur, sesuai kewenangan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Regulasi tersebut diharapkan menjadi landasan bagi program pelestarian berkesinambungan, termasuk pembinaan komunitas budaya, pelatihan generasi muda, pendokumentasian pengetahuan adat, pengenalan budaya Melayu di lingkungan pendidikan, serta dukungan anggaran sesuai prioritas dan ketentuan yang berlaku.
Dengan adanya kebijakan yang jelas dan dukungan berbagai pihak, pelestarian budaya diharapkan tidak hanya bergantung pada inisiatif organisasi atau kelompok masyarakat tertentu, tetapi menjadi gerakan bersama yang berjalan secara konsisten.
Kolaborasi Jadi Kunci Menjaga Marwah Budaya Melayu
Kegiatan silaturahmi dan edukasi budaya yang dilaksanakan GERAM Kepri Bersatu bersama jajaran Bandara RHF Tanjungpinang menjadi contoh bahwa pelestarian warisan budaya dapat dimulai melalui langkah sederhana, yakni mengenal, memahami, dan mempraktikkan tradisi secara benar.
Sambutan positif dan keterbukaan terhadap peluang kolaborasi dari pihak Bandara RHF menjadi dorongan bagi GERAM Kepri Bersatu untuk memperluas ruang edukasi budaya melalui kerja sama dengan berbagai lembaga dan pemangku kepentingan.
GERAM Kepri Bersatu berharap semangat mencintai budaya sendiri terus tumbuh di tengah generasi muda Kepulauan Riau. Tanjak dan kain samping hendaknya tidak sekadar menjadi simbol dalam acara adat, tetapi juga menjadi pengingat akan sejarah, jati diri, adab, dan tanggung jawab dalam menjaga warisan leluhur.
Melestarikan budaya Melayu bukan sekadar mempertahankan peninggalan masa lalu, melainkan memastikan identitas dan nilai-nilai luhur tetap hidup, dipahami, serta diwariskan kepada generasi masa depan.
Laporan: Deny Jebat










