NATUNA (KP),- Pengrajin sagu salah satu potret kehidupan masyarakat Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, yang menjadi mata pencaharian pokok. Begitulah yang dijalani Riduan, warga Desa Sebadai Hulu, Kecamatan Bunguran Timur Laut.
Riduan menceritakan dirinya sudah puluhan tahun menjadi pengrajin sagu. Menurutnya sagu mempunyai keunikan tersendiri, dimana bisa diolah menjadi berbagai makanan khas daerah, khususnya di Natuna.
“Sagu bisa kita olah menjadi makanan khas daerah seperti tabel mando, kernas, dan kuah tiga. Tanpa sagu tentunya tidak lengkap,” kata Riduan menjawab koranperbatasan.com dikediamannya, Rabu, 30 Desember 2020.
Untuk menghasilkan sagu yang siap diolah tentunya harus melewati beberapa proses yang cukup panjang dan memakan waktu cukup lama. Berawal dari penebangan pohon sagu, sampai dengan pengupasan kulit luar untuk mendapatkan bagian dalam pohon.
“Setelah diambil bagian dalam pohon, selanjutnya diparut halus, disaringkan menggunakan air. Air dari hasil saringan diwadahkan hingga bagian bawah menjadi beku dan menghasilkan sagu mentah/sagu basah,” ujar Riduan.
Setelah menghasilkan sagu mentah, tambah Riduan tahap selanjutnya ditapis menggunakan pengayak, digoyang-goyang atau dibolak-balik, lalu masukan dalam kawah dan dikeringkan menggunakan bara api, hinga menghasilkan sagu butir.
“Untuk 1 karung (ukuran 50kg) sagu mentah/sagu basah, proses pengeringan menjadi Sagu Butir memakan waktu lebih kurang 3 hari,” pungkas Riduan.
Sebagai penutup, Riduan menuturkan untuk harga jual sagu mentah dihitung satu gantang Rp 5.000, sementara Sagu Butir satu gantang Rp 10.000.
“Bagi yang berminat bisa menghubungi melalui saluran telepon ke nomor 082284203504,” tutup Riduan. (KP).
Laporan : Johan










