NATUNA

Hadirkan Sastrawan, STAI Gelar Dialog Sastra dan Budaya Melayu Natuna

×

Hadirkan Sastrawan, STAI Gelar Dialog Sastra dan Budaya Melayu Natuna

Sebarkan artikel ini
Ketua STAI Natuna, H. Umar Natuna, S.Ag, M.Pd.I menyampaikan kata sambutan dalam kegiatan Dialog Sastra dan Budaya Melayu Natuna, Rabu 9 Februari 2022.

“Mahasiswa/i harus menulis jika ingin umurnya panjang. Raja Ali Haji lahir pada tahun 1808, meninggal tahun 1873. Tapi hari ini Raja Ali Haji masih hidup. Orang-orang tidak berhenti membicarakan Raja Ali Haji, baik dalam bentuk makalah, skripsi, tesis, disertasi dan lain-lain. Begitu juga dengan B.M Syamsuddin, beliau meninggal tahun 1997. Sampai hari ini, masih ada orang membaca karyanya dan menulis tentangnya”. (Abdul Kadir Ibrahim, Sastrawan Kepulauan Riau).


NATUNA – Terwujudnya Studi Islam Berbasis Tamadun Melayu yang menjadi visi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna. Mahasiswa/i diminta untuk menggali dan membuat skripsi tentang khazanah tamadun melayu tersebut. Terutama kepada mahasiswa/i yang mengikuti Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), serta Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

Menurut Ketua STAI Natuna, H. Umar Natuna, S.Ag, M.Pd.I ketiga dari lima program studi yang ada di STAI Natuna ini, sangat bersentuhan dengan dunia budaya dan sastra. Oleh sebab itu, STAI Natuna menggelar Dialog Sastra dan Budaya Melayu Natuna, Rabu 9 Februari 2022 malam. Dialog yang berlangsung di Aula STAI Natuna tersebut, menghadirkan seorang Sastrawan Kepulauan Riau, Abdul Kadir Ibrahim sebagai narasumber, dan Aprianti Wakil Presiden Mahasiswa DEMA STAI Natuna selaku moderator.

Sastrawan Kepulauan Riau, Abdul Kadir Ibrahim memberikan materi kepada peserta Dialog Sastra dan Budaya Melayu Natuna.

“Natuna kaya dengan khazanah masa lalu, di Kelarik banyak sekali peninggalan-peninggalan. Begitu juga dengan daerah lainnya seperti Segeram, Subi, itu luarbiasa. Tetapi tidak banyak yang menulis, sehinga khazanah itu kehilangan jejaknya. Mudah-mudahan silaturahim ini akan memberikan makna yang lebih dalam. Melahirkan regenerasi pada bidang sastra dan budaya, khususnya di STAI Natuna ini,” harap Umar.

Baca Juga:  Rafki Chandra Apresiasi Bakti Sosial Pers Natuna

Sedangkan Sastrawan Kepulauan Riau, Abdul Kadir Ibrahim dalam penyampaiannya mengatakan, bersyukurlah menjadi masyarakat Natuna. Sebab salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Kepulauan Riau ini, mempunyai jejak sejarah panjang tentang budaya dan kebudayaan.

Ostivia Widiyanti dari Komunitas Natunasastra membacakan puisi Aku Sayang, salah satu karya Abdul Kadir Ibrahim.

“Kita sudah mewarisi kebudayaan sejak 2000 tahun sebelum Masehi. Karena di Natuna ini bersadarkan penelitian Arkeologi Medan, ditemukan Kapak Batu di sekitar wilayah Senubing dan lain-lain, menandakan ada kehidupan manusia pada masa itu,” ungkapnya.

Menurut putra daerah Natuna asal Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara tersebut, salah satu suku bangsa yang mewarisi manusia masa lampau secara terus menerus, yakni mempunyai bahasa tersendiri.

Mahasiswa STAI Natuna berkolaborasi dengan Komunitas Natunasastra menampilkan Gurindam Dua Belas.

“Adakah orang lain mengerti bahasa kita?. Mbe hal, dek hal, koh mbe ndok, dek sek lalu, dek nak lalu kohndok. Adakah orang mengerti itu?. Dek sek lio lalu, dek sek pekdeh lalu, itu yang lembutnya. Kita harus bangga, saya bangga sekali,” cetusnya.

Katanya disamping bahasa, masyarakat yang mewarisi kebudayaan lama mempunyai khazanah kesenian. Dan itu ada di Natuna, seperti Seni Tingkah Alu Selesung, Langlang Buana, Mendu dan lain-lain.

“Yang paling autentik adalah tingkah alu, itu khazanah lama. Dan banyak lagi kesian kita, salah satunya main gasing. Gasing kita berbeda dengan gasing daeah lain, jadi berbahagialah kita menjadi pewaris kebudayaan masa lampau itu,” ujarnya.

Peserta Dialog Sastra dan Budaya Melayu Natuna.

Ia mengaku, sebagai sorang sastrawan yang menjadi penulis tentang berbagai hal, tidak pernah lupa dengan Natuna. Baik itu dalam puisi, cerpen, essay, bahkan apapun selalu dikaitkan dengan khazanah Natuna.

Baca Juga:  Tim Reaksi Cepat BPB Damkar Natuna Evakuasi Ular Piton Sepanjang 2,9 Meter

“Bahasa Natuna selalu saya masukan dalam tulisan-tulisan saya. Ketika kita menyadari bahwa kita punya potensi budaya, bahasa luar biasa, kesenian, bahkan kita punya yang disebut pantang mali. Mali duduk depan lawang, nandek dilangkah leh andu. Mali makan petang aqi nandek dilimpa andu dengan seqai, luar biasa. Itu warisan nenek moyang kita, dan dari situlah kita bisa menulis,” pungkasnya.

Ketua STAI Natuna, H. Umar Natuna, S.Ag, M.Pd.I menyerahkan cendera mata kepada Sastrawan Kepulauan Riau, Abdul Kadir Ibrahim.

Menurutnya, menjadi Mahasiswa/i STAI Natuna sangatlah beruntung. Sebab STAI Natuna berdiri di daerah jantung kebudayaan, bagian kebudayan melayu. Banyak tradisi dan ciri khas lokal, seperti Malok Saguk, Tipeng Mando maupun lainnya, itu warisan masa lampau. Karena itu, ia mengjak kepada Mahasiswa/i STAI Natuna, untuk berkarya.

“Tulislah apa yang bisa ditulis. Menulis itu jangan dipirkan, kalau dipikirkan pasti tidak jadi. Menulis itu adalah berangkat dari apa yang ada di dalam perasaan, hati, akal dan pikiran, segera kita tulis,” imbuhnya.

Lanjutnya, apakah itu dua, tiga atau empat kata, ditulis seketika itu juga. Orang menyebutnya sebagai inti isi, ilham, bisikan melaikat, bisikan hati. Berjuta-juta kali dibisikan, jika tidak dipindahkan ke dalam media tulis, maka itu tidak akan menjadi apa-apa.

Ketua STAI Natuna, H. Umar Natuna, S.Ag, M.Pd.I dan Sastrawan Kepulauan Riau, Abdul Kadir Ibrahim poto bersama.

“Menulis itu dari gagasan dan ide yang murni. Dari beberapa kata itulah nanti bisa diolah menjadi puisi, prosa, karya ilmiah dan lainnya, pasti bisa,” tuturnya meyakinkan.

Selanjutnya, Dialog Sastra dan Budaya Melayu Natuna dilajutkan dengan sesi tanya jawab. Adapun peserta dialog berjumlah 50 orang, terdiri dari Mahasiswa/i STAI Natuna, UKM dan HM unit STAI Natuna, Dosen STAI Natuna, dan Komunitas Natunasastra serta Kompas Benua. (KP).


Laporan : Johan


 

📊 Views: 111

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *