“Kondisi air bersih di Kabupaten Kepulauan Anambas semakin mengkhawatirkan akibat menyusutnya debit air dan keterbatasan infrastruktur.”
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Kepulauan Anambas, Andiguna Kurniawan Hasibuan, mengungkapkan bahwa kondisi ketersediaan air bersih di wilayahnya saat ini mulai kritis akibat penurunan debit air dan terbatasnya daya tampung embung.
ANAMBAS – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas melalui UPTD SPAM terus berupaya menjaga pasokan air bersih di tengah ancaman krisis yang mulai terasa. Kepala Dinas PUPRPRKP, Andiguna Kurniawan Hasibuan, menjelaskan bahwa sistem pemeliharaan jaringan air selama ini bergantung pada kebutuhan, dengan anggaran berkisar antara Rp300 hingga Rp400 juta per tahun.
Pemeliharaan dilakukan secara teknis dengan mengganti pipa yang rusak atau putus, termasuk penyambungan ulang jaringan yang terdampak. Kondisi geografis yang menantang, seperti pipa yang berada di bawah jalan maupun rumah warga, sering memaksa petugas mencari jalur baru untuk distribusi air.
“Kita lakukan pemeliharaan jika ada pipa putus, kita sambung. Kalau jalurnya sulit, kita cari jalur baru,” jelas Andiguna.
Ia juga menyoroti bahwa faktor cuaca menjadi tantangan besar. Berdasarkan analisis musim dari BMKG, Anambas menghadapi dua musim utama dengan kecenderungan kemarau yang lebih panjang, yang berdampak langsung pada sumber air baku.
Saat ini, sumber air utama berasal dari embung Gunung Sama dan Gunung Lintang di wilayah Tarempa, serta instalasi di Batu Tabir untuk wilayah Siantan Selatan. Namun, kondisi tampungan menunjukkan penurunan drastis. Dari kapasitas 60 ribu meter kubik di Gunung Sama, kini tersisa sekitar 15 hingga 20 ribu meter kubik. Sementara di Gunung Lintang, kapasitas juga mengalami penyusutan signifikan.
“Kalau diprediksi, daya tampung ini mungkin hanya bertahan dua sampai tiga minggu ke depan,” ungkapnya.
Distribusi air saat ini masih mengandalkan sistem pompa, bukan gravitasi. Hal ini menyebabkan layanan harus dibatasi dalam jam tertentu. Selain itu, penggunaan pompa juga memicu risiko kerusakan pipa karena adanya tekanan udara dalam jaringan.
“Kalau angin bertemu air, itu bisa menyebabkan pipa pecah. Karena itu, kami terus melakukan kontrol setiap hari,” tambahnya.
Dalam upaya meningkatkan pelayanan, pihak UPTD SPAM juga membentuk grup WhatsApp di setiap wilayah layanan untuk memberikan informasi kepada masyarakat terkait jadwal distribusi maupun gangguan layanan.
Ke depan, pemerintah daerah merencanakan pembentukan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) agar pengelolaan SPAM lebih mandiri dan responsif, terutama dalam pengadaan material seperti pipa yang selama ini terkendala proses administrasi dan lelang.
Sebagai langkah antisipasi jika kondisi memburuk, pemerintah juga menyiapkan distribusi air melalui hidran umum dan tangki air di titik-titik rawan.
“Kami menghimbau masyarakat untuk bijak dan hemat menggunakan air, karena musim kemarau diprediksi akan panjang,” tutup Andiguna. (KP).
Laporan: Azmi










