NATUNA

Manfaatkan Tanah Wakaf, STAI Bertekat Hadirkan Pendidikan Berbasis Pesantren dan Wisata Sejarah Kampung Segeram  

×

Manfaatkan Tanah Wakaf, STAI Bertekat Hadirkan Pendidikan Berbasis Pesantren dan Wisata Sejarah Kampung Segeram  

Sebarkan artikel ini
Masjid tua yang terbuat dari kayu di Segeram.

NATUNA – Menjadikan Segeram sebagai kampung binaan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna sudah berlangsung sejak tahun 2017 lalu. Pengabdian yang dilakukan mahasiswa-mahasiswi, disambut baik oleh masyarakat setempat.

Kampung tua yang berada di Kelurahan Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau ini diyakini masyarakat banyak menyimpan nilai sejarah masa lalu. Bahkan diyakini kampung tua ini pula, dahulunya menjadi Pusat Pemerintahan Melayu pertama di Natuna. Namun hingga sampai saat ini, fakta akurat perjalanan sejarah panjang tersebut masih belum terungkap, melainkan sekedar cerita rakyat.

Pada tanggal 19 Februari 2022, STAI Natuna kembali menghadirkan mahasiswa-mahasiswi untuk melaksanakan pengabdian atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama dua bulan. Berbeda dari tahun-tahun akademik sebelumnya, disamping program yang dimiliki masing-masing posko, kali ini mahasiswa-mahasiswi diminta berjuang menyelesaikan persoalan tanah wakaf.

“Kemarin Aki Zurman pernah mewakafkan tanah beliau untuk STAI, nanti kedepannya Insya Allah rencananya dibuatkan museum sejarah,” ungkap Aprianti, Sekretaris Posko 1 Segeram kepada koranperbatasan.com, Kamis 3 Maret 2022.

Kata Aprianti, orang yang disebutnya Aki Zurman juga mewakafkan sebuah peluru masa penjajahan yang ditemukan di tanah Segeram. Peluru tersebut rencananya akan diletakkan di museum sejarah.

“Permasalahan tanah awalnya surat tidak bisa dibuat, setelah ketemu pada momen Isra Mi”raj Senin malam, kami mempertanyai hal itu kepada pak camat. Kata beliau (Camat Bunguran Barat-red), kemarin dari Keluruhan Sedanau bisa buatkan surat hibah untuk jembatan gantung. Jadi kata pak camat Insya Allah dapat, tinggal perundingan sama pak lurah,” terangnya.

Menurut sosok perempuan yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Mahasiswa DEMA STAI Natuna tersebut, jika museum sejarah itu berhasil dibangun, maka bisa menjadi salah satu prospek peningkatan ekonomi masyarakat setempat. Sebab bisa dijadikan destinasi wisata kampung sejarah, karena tidak hanya peluru saja, tetapi masih banyak peninggalan-peninggalan yang telah ditemukan akan diletakkan di museum nantinya.

“Mungkin kami ke Sedanau bang, untuk menindaklanjuti surat tanah wakaf tadi,” imbuhnya.

Baca Juga:  Camat Hadirkan Semua Pihak, Muara Sungai Setedung Sepakat Dibobol Kembali

Lebih jauh Aprianti menuturkan, tidak hanya Aki Zurman, orang yang disebutnya H. Umar juga telah mewakafkan tanah. Sejak hari Minggu, 27 Februari 2022, ia bersama ketua dan rekan-rekan mahasiswa Posko 1 sudah mulai bergerak membersihkan lokasi tersebut.

“Alhamdulilah sudah lumayan lapang bang,” tuturnya.

Mahasiswa posko 1 Segeram bersihkan tanah wakaf.

Saat dikonfirmasi, Ketua STAI Natuna, H. Umar Natuna, S.Ag, M.Pd.I membenarkan bahwa saat ini mahasiswa Posko 1 Segeram sedang menyelesaikan persoalan surat menyurat tanah wakaf. Katanya, pengabdian yang dilakukan mahasiswa-mahsiwi kali ini bertema “Pengembangan Masyarakat Berbasis Wakaf”. Diharapkan mahasiswa mampu menyelesaikan surat menyurat, agar selain wacana pembangunan meseum sejarah, pengembangan pendidikan berbasis pesantren di Segeram juga bisa ditindaklanjuti oleh pihak STAI Natuna selaku nazhir wakaf.

“Gerakan wakaf di Segeram adalah bagian pengembangan amal sosial dalam Islam. Sedangkan peruntukan utamanya adalah pengembangan pendidikan berbasiskan pesantren, yakni sunni institut. Rencana sementara terintegrasi dengan SMP satu atap, dan kedepan akan bangun gedung tersendiri di tanah wakaf. Untuk tenaga pengajar akan bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-hikam Depok. Selain itu tanah wakaf akan diperuntukkan membangun museum sejarah Kampung Segeram, agar berbagai peninggalan ada tempat menyimpan atau replikanya,” terangnya, Jum’at 4 Maret 2022.

Menurut Umar, jika kedua wacana itu terwujud, maka kesempatan menikmati pendidikan bagi masyarakat sekitar akan lebih luas, dan berbagai khazanah serta harta peninggalan sejarah akan terpelihara. Bahkan nantinya akan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan ziarah. Sebab di Segeram juga banyak memiliki makam-makam tua.

Hadirnya destinasi wisata kedepan, Umar menilai akan memiliki prospek terhadap peningkatan ekonomi masyarakat Segeram. Dikarenakan pengunjung yang datang bisa membeli hasil produksi masyarakat seperti belacan, calok, madu dan lain-lain.

Umar berharap, wacana dari STAI Natuna ini mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna.

“Semoga dapat mendukung dan mempermudah berbagai urusan administrasi dan pembangunan insfratruktur penunjang seperti jalan dan air minum,” harapnya.

Peluru yang ditemukan warga Segeram, dan siap untuk diletakkan di meseum sejarah nantinya.

Menanggapi wacana tersebut, Ketua Rukun Warga (RW) 007 Segeram, Heru Diwan Arpas menyebut masyarakat Segeram dan Semintih menyambut baik hal itu. Diharapkan kedepan anak-anak di Segeram menjadi lebih baik dan mengenal apapun yang akan diajarkan oleh pihak STAI Natuna.

Baca Juga:  Kasatpol PP : Usia 21 Tahun, Natuna Terlihat Berkembang

“Nah terlepas dari itu, jika pesantren itu selesai dibangun, kita berharap ada orang yang menetap disitu dan selalu diisi seminggu 3 kali atau setiap minggu. Jadi anak-anak disini terjadwal,” sebutnya, Jum’at 4 Meret 2022.

Diakui Heru, terkait wacana pembangunan gedung museum dan memiliki destinasi wisata, memang itu yang selama ini diinginkan oleh masyarakat Segeram.

“Saya sangat senang apa bila STAI mau melakukan itu. Berdasarkan anggaran kami memang tidak mampu, namun mempromosikan hasil produksi kami setuju dan siap dukung,” ujarnya.

Kata Heru, pengasilan masyarakat Segeram saat ini dominan memanfaatkan hasil laut, seperti udang, gonggong dan kerang lainnya. Udang diproduksi masyarakat untuk pembuatan calok dan belacan.

“Hasil ini tidak bisa kita pastikan jumlah produksinya, karna musiman,” paparya.

Menurut Heru, terlepas mendukung wacana STAI Natuna, ada persolan besar untuk menjadikan kampung tua Segeram maju. Salah satunya akses jalan menuju Segeram saat ini masih memprihatinkan.

“Tujuan kami adalah menjadikan Segeram kampung adat di Kabupaten Natuna. Segeram dikenal dengan kampung tua, selain peninggalan sejarah, sebagai penunjang kita punya masjid tua yang terbuat dari kayu. Jadi segeram bisa menjadi kampung adat dan wisata religius,” pungkasnya.

Lanjut Heru, Segeram sudah memiliki wadah yaitu masjid tua, tinggal bagaimna pihak STAI Natuna mengelolanya menjadi salah satu destinasi wisata.

“Mungkin seperti bangunan tua yang ada di Lingga dan Penyengat, tanpa mengubah sedikitpun bentuk aslinya. Saat ini masjid tua tersbut masih berdiri kokoh, walau ada sebagian yang sudah rusak. Kita berharap semoga wacana STAI Natuna lekas terealisasi,” tutupnya. (KP).


Laporan : Johan


 

📊 Views: 90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *