KABAR PERBATASANNATUNAPOLITIKSUARA RAKYAT

Natuna Memanas, Anizar Kritik Bupati Cen Sui Lan Dinilai Kacang Lupa Kulit

×

Natuna Memanas, Anizar Kritik Bupati Cen Sui Lan Dinilai Kacang Lupa Kulit

Sebarkan artikel ini
Anizar Sulaiman usai menyampaikan kritik terhadap kepemimpinan Bupati Natuna dalam wawancara di kediamannya di Sekalong, Bunguran Timur Laut, Selasa (07/04/2026).

“Kritik tajam kembali mencuat di Natuna, menyoroti kepemimpinan daerah yang dinilai mulai menjauh dari harapan masyarakat.”

NATUNA – Ketua Umum Ikatan Pelajar Riau Yogyakarta 1992–1993, Anizar Sulaiman, menyampaikan kritik keras terhadap kepemimpinan Bupati Natuna saat ini, dalam wawancara yang berlangsung di kediamannya di Dusun Sekalong, Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Selasa (07/04/2026).

Sebagai Aktivis 1998, Anizar menilai kemenangan kepala daerah saat ini tidak lepas dari ekspektasi besar masyarakat yang sebelumnya melihat rekam jejak kandidat sebagai anggota DPR-RI cukup menjanjikan. Menurutnya, sosok tersebut dulu aktif membawa aspirasi masyarakat di wilayah Kepulauan Riau, termasuk Natuna, sehingga memunculkan harapan besar akan perubahan.

Namun, ia mengingatkan sejak awal kandidat tersebut sejatinya adalah “pendatang baru” di Natuna. Dukungan yang besar, kata Anizar, lebih disebabkan oleh kekecewaan masyarakat terhadap kepemimpinan petahana sebelumnya, sehingga publik mencari alternatif baru. Ia menilai, meskipun berstatus pendatang, tingkat pengenalan terhadap sosok tersebut justru terbangun secara cukup masif melalui pemberitaan media massa yang intens dan rutin, sehingga mempengaruhi persepsi ruang publik.

Memang saat itu terdapat kelemahan pada kandidat petahana. Berbagai isu di bawah kepemimpinan Wan Siswandi dan Rodhial Huda memicu kekecewaan publik, sehingga sosok Cen Sui Lan meski dengan ketokohan yang relatif terbatas dipandang sebagai harapan baru untuk menebus kegagalan tersebut.

Namun, Anizar menegaskan sejak awal sebenarnya sudah terlihat bahwa kekuatan politik Cen Sui Lan di Natuna tidak cukup solid. Ia bahkan menyinggung kekalahan Cen Sui Lan dari Rizki Faisal dalam kontestasi internal Partai Golkar, meski berstatus petahana DPR-RI, sebagai indikator jelas lemahnya basis dukungan politik yang dimiliki.

Dalam pandangannya, faktor kunci kemenangan bukan semata kekuatan kandidat, melainkan peran besar tokoh berpengaruh daerah. Ia menyebut mantan Bupati Natuna, Daeng Rusnadi, sebagai figur sentral yang menjadi “magnet politik” dalam memenangkan pertarungan tersebut. Tanpa keterlibatan aktif dan masif dari tokoh tersebut, Anizar meyakini hasilnya akan berbeda.

Baca Juga:  Songsong Hari Jadi Polwan, Polres Natuna Laksanakan Polwan Goes To School

Sebagai Pemerhati Kebijakan Publik, ia juga menyoroti strategi politik yang digunakan saat kampanye, termasuk munculnya istilah seperti “Mujapati” (Mudah Jumpa Bupati) dan “Sepakat” (Sering-sering Jumpa Masyarakat). Menurutnya, konsep tersebut lebih merupakan konstruksi strategi politik yang efektif saat kampanye, namun kini dinilai tidak sepenuhnya tercermin dalam realitas pemerintahan.

Anizar mengungkapkan saat ini banyak keluhan masyarakat terkait sulitnya bertemu langsung dengan bupati. Ia menyebut interaksi yang terjadi cenderung terbatas pada agenda tertentu dan tidak terbuka secara luas bagi masyarakat umum.

“Kalaupun bisa dijumpai, itu lebih karena agenda beliau sendiri, bukan karena masyarakat yang ingin bertemu lalu diterima dengan terbuka,” ujarnya.

Ia juga menilai adanya kecenderungan diskriminatif dalam menerima kelompok masyarakat tertentu. Bahkan, beberapa elemen masyarakat disebut mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses komunikasi dengan kepala daerah.

Lebih jauh, Anizar menegaskan setelah terpilih sebagai Bupati Natuna, Cen Sui Lan justru dinilai tidak menjalankan konsep “Mujapati” dan “Sepakat” yang dahulu digaungkan oleh Daeng Rusnadi saat kampanye. Ia menilai kondisi ini bukan sekadar inkonsistensi, melainkan bentuk pengingkaran terhadap komitmen politik yang menjadi kunci kemenangan.

Menurutnya, kegagalan menerjemahkan konsep tersebut di tengah kepemimpinan saat ini memperkuat kesan bahwa ada sikap tidak menghargai peran besar pihak-pihak yang telah berjuang memenangkan kontestasi politik tersebut.

Anizar pun melontarkan kritik yang lebih tajam melalui perumpamaan yang sarat makna.

“Kalau kondisi ini benar terjadi, itu yang kita sebut sebagai kacang lupa kulit. Artinya, tidak pandai berterima kasih terhadap jasa besar yang telah mengantarkan pada kemenangan, tetapi kemudian dilupakan setelah berkuasa,” tegasnya.

Meski demikian, ia menegaskan penilaian akhir terhadap tingkat kepuasan politik tetap berada pada tokoh yang berperan besar dalam kemenangan tersebut. Ia membuka kemungkinan akan berdialog langsung untuk mengetahui pandangan yang lebih objektif terkait situasi saat ini. (KP).

Baca Juga:  Suryadi: 26 Tahun Natuna, Pendidikan Unggul Pilar Kemajuan

Laporan: Red


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *