“Inovasi olahan jamur tiram dari Batu 11 Srikaton, Kota Tanjungpinang mulai menarik perhatian masyarakat dan pelaku UMKM, bahkan berpotensi menembus pasar Batam hingga Singapura.”
Pekerja budidaya jamur tiram “Kolam Pinggu”, Samuel, mengungkapkan bahwa usaha olahan jamur tiram yang dirintisnya di wilayah Batu 11 Srikaton, Kota Tanjungpinang, mulai menunjukkan perkembangan positif dan menarik minat pasar yang lebih luas. Produk jamur segar hingga berbagai olahan makanan dari jamur tiram tersebut kini semakin diminati masyarakat dan berpotensi menembus pasar luar daerah.
TANJUNGPINANG – Inovasi olahan jamur tiram dari budidaya “Kolam Pinggu” di Batu 11 Srikaton, Kota Tanjungpinang, mulai menarik perhatian masyarakat serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Usaha yang awalnya hanya bersifat coba-coba ini justru berkembang pesat dan mulai dilirik pasar yang lebih luas.
Tim Koran Perbatasan mendatangi langsung lokasi budidaya jamur tiram tersebut pada Minggu, 8 Maret 2026 sekitar pukul 19.40 WIB. Dalam wawancara di lokasi, Samuel menjelaskan bahwa usaha budidaya jamur tiram tersebut sebenarnya baru dirintis sejak akhir November 2025.
Menurutnya, pada tahap awal ia hanya mencoba menanam jamur tiram secara sederhana dan menjual hasil panen kepada teman-teman serta kerabat terdekat. Namun di luar dugaan, respon pasar cukup baik dan banyak yang tertarik dengan kualitas serta rasa jamur yang dihasilkan.
“Awalnya hanya coba-coba saja menanam jamur tiram. Saya jual ke teman-teman dan kerabat. Ternyata banyak yang suka dan permintaannya terus bertambah,” ujar Samuel.
Melihat peluang tersebut, Samuel kemudian mulai serius mengembangkan usaha budidaya dan olahan jamur tiram. Ia bahkan mulai memikirkan pengembangan jaringan distribusi untuk memperluas pasar hingga ke Batam dan Singapura.
Selain menjual jamur segar, Samuel juga menciptakan berbagai menu makanan dari bahan dasar jamur tiram yang kini semakin diminati masyarakat. Kreativitas dalam mengolah jamur menjadi berbagai hidangan dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi produk budidaya tersebut.
Dalam menjalankan usaha ini, Samuel tidak bekerja sendiri. Ia dibantu rekannya, Atta, yang berperan memasarkan berbagai produk olahan jamur tiram ke sejumlah bazar kuliner di Tanjungpinang.
Salah satu lokasi pemasaran yang sering diikuti adalah King Bazar Ganet, yang dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan bazar kuliner dan UMKM yang ramai dikunjungi masyarakat.
Berbagai menu olahan yang diciptakan terbilang cukup unik dan jarang ditemukan di pasaran. Jika selama ini masyarakat lebih mengenal jamur enoki sebagai lalapan seblak, Samuel justru menghadirkan inovasi menu dari jamur tiram.
Beberapa di antaranya seperti jamur krispi, bakwan jamur, jamur asam pedas manis, telur dadar jamur, hingga nugget jamur. Beragam menu tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung bazar yang ingin mencoba kuliner baru.
Sejumlah konsumen yang telah mencicipi olahan tersebut mengaku rasanya lezat dan memiliki cita rasa yang berbeda dibandingkan olahan jamur yang biasa mereka temui.
Dalam beberapa waktu terakhir, olahan jamur tiram dari Batu 11 Srikaton ini bahkan mulai viral di kalangan pelaku UMKM di Kota Tanjungpinang. Kreativitas dalam mengolah jamur menjadi berbagai menu baru dinilai sebagai peluang usaha yang menjanjikan sekaligus menghadirkan pilihan kuliner sehat bagi masyarakat. (KP).
Laporan: Venti










