Angka-angka ekonomi yang positif tak lagi mampu menutupi gejolak di dapur rakyat. Di balik laporan resmi yang tampak stabil, suara-suara lirih tentang kesulitan hidup justru kian nyaring tapi seolah luput dari perhatian pengambil kebijakan.
INDONESIA mencatat pertumbuhan ekonomi yang terus dirayakan dalam berbagai forum resmi dan laporan internasional. Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama, siapa sebenarnya yang menikmati pertumbuhan tersebut?
Data yang menyala hijau di layar presentasi pemerintah sering kali tak selaras dengan denyut kehidupan masyarakat kecil yang terus bergulat dengan harga-harga yang melonjak, pendapatan stagnan, dan layanan publik yang timpang.
Kebijakan ekonomi selama ini masih terlalu berorientasi pada indikator makro. PDB, inflasi, dan indeks keseimbangan perdagangan menjadi tolok ukur utama. Padahal angka tak selalu mencerminkan rasa. Di banyak wilayah, rakyat tetap harus memilih antara membeli bahan pokok atau membayar sekolah anak. Ketika negara sibuk menjaga neraca fiskal, banyak warga kehilangan keseimbangan hidupnya.
Kesalahan mendasar terletak pada absennya jembatan antara statistik dan solusi konkret. Pemerintah kerap mengandalkan narasi pertumbuhan sebagai justifikasi keberhasilan tapi abai pada fakta bahwa struktur ekonomi masih timpang. Bantuan sosial tak menyentuh sasaran, subsidi makin mengecil, dan program pemberdayaan seringkali hanya berakhir sebagai proyek pencitraan.










