KEUANGANOPINISALAM PERBATASAN

Dari Angka Menuju Aksi: Saatnya Pemerintah Dengarkan Jeritan Ekonomi Rakyat

×

Dari Angka Menuju Aksi: Saatnya Pemerintah Dengarkan Jeritan Ekonomi Rakyat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi piring kosong dengan grafik ekonomi tumbuh, menjadi simbol ironi antara angka makro yang menjulang dan realita rakyat yang tidak kunjung sejahtera.

Padahal rakyat tidak menolak pertumbuhan, mereka hanya menuntut pemerataan manfaatnya. Apa artinya surplus APBN jika harga kebutuhan pokok terus naik? Apa maknanya target-target fiskal jika di desa-desa masih banyak keluarga yang tak bisa mengakses layanan kesehatan dasar? Rakyat tidak butuh janji, mereka butuh kebijakan yang berpihak dan berdampak langsung.

Dalam konteks ini, pemerintah harus mulai mendengar dengan lebih jernih. Jeritan ekonomi rakyat adalah indikator awal kegagalan sistemik. Tak cukup merespons dengan narasi optimistis perlu transformasi kebijakan yang mendasar mulai dari perbaikan basis data kemiskinan, realokasi anggaran untuk layanan publik esensial, hingga transparansi dan partisipasi warga dalam proses perencanaan anggaran.

Kebijakan fiskal semestinya hadir sebagai alat redistribusi keadilan bukan sekadar instrumen efisiensi. Jika negara terus mendorong efisiensi anggaran tanpa memperhitungkan daya tahan masyarakat, maka yang terjadi bukan lagi perbaikan ekonomi, melainkan pendalaman krisis sosial.

Dari angka menuju aksi, pemerintah harus lebih dari sekadar mengatur. Ia harus hadir dan berpihak. Karena ketika rakyat bersuara, yang dibutuhkan bukan reaksi kosmetik, tapi perubahan struktural yang nyata. Ekonomi rakyat bukan soal tren atau grafik, melainkan tentang kepastian bahwa setiap keluarga punya ruang hidup yang layak dalam sistem yang adil.


Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan


Baca Juga:  Ketika Belanja Negara Diperketat, Apakah Rakyat Masih Bisa Bertahan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *