KEUANGANOPINISALAM PERBATASAN

Efisiensi Anggaran, Efek Domino ke Ekonomi Mikro Warga

×

Efisiensi Anggaran, Efek Domino ke Ekonomi Mikro Warga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi struk belanja panjang dengan harga tinggi di samping dompet receh mencerminkan realitas ekonomi mikro warga di tengah efisiensi anggaran negara.

Dalam perspektif ekonomi pembangunan, hal ini dikenal sebagai “trickle-down stagnation”, yakni situasi ketika kebijakan makro tidak mampu meneteskan manfaatnya ke level mikro. Dalam jangka pendek, hal ini menurunkan daya beli masyarakat, dan dalam jangka panjang dapat memperparah ketimpangan sosial.

Lebih parah lagi, banyak keluarga di kelas bawah harus menyesuaikan pola konsumsinya secara drastis. Konsumsi protein hewani dikurangi, biaya pendidikan anak dipangkas, dan pelayanan kesehatan menjadi barang mewah. Ini bukan semata-mata soal pengeluaran, tapi soal erosi terhadap kualitas hidup yang sulit dipulihkan.

Sebagai negara dengan populasi besar dan perekonomian yang bertumpu pada konsumsi domestik, Indonesia tidak bisa hanya melihat efisiensi dari sisi nominal anggaran. Efisiensi fiskal tanpa strategi perlindungan sosial adalah kebijakan yang kering dari sisi keberpihakan. Rakyat tidak bisa diminta berhemat sendirian ketika instrumen negara menarik diri dari kewajiban distribusi keadilan.

Solusinya bukan dengan memperbanyak retorika tanggung jawab individu, tetapi dengan memperkuat fondasi jaring pengaman sosial dan menciptakan skema intervensi fiskal yang adaptif dan progresif. Di saat anggaran harus efisien, pengaruhnya terhadap kelompok rentan seharusnya tetap dimitigasi secara adil.

Efisiensi anggaran tidak boleh menjadi tameng untuk mengabaikan realita ekonomi mikro warga. Sebab, ketika negara mulai menghemat, rakyat kecil tak punya tempat untuk menyimpan beban yang bertambah. Jika kebijakan makro tidak menyertakan sensitivitas terhadap kondisi akar rumput, maka efek domino yang ditimbulkannya bisa jauh lebih destruktif dari yang dibayangkan para pembuat kebijakan.


Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan


Baca Juga:  Ketika Anggaran Negara Diselamatkan, Rakyat Justru Dikorbankan: Di Mana Nurani Fiskal?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *