HUKUM & KRIMINALKABAR PERBATASANNATUNAPOTRET PERBATASAN

Saat Dibutuhkan Beralasan, Warga Kecewa Speed Boat Puskel Digunakan Sesuka Hati

×

Saat Dibutuhkan Beralasan, Warga Kecewa Speed Boat Puskel Digunakan Sesuka Hati

Sebarkan artikel ini
Speed Boat Puskemas Keliling, saat bersandar di Pelabuhan Sedanau

NATUNA – Warga Kelurahan Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, merasa kesal atas penggunaan Speed Boat Puskemas Keliling (Puskel) tidak digunakan sebagaimana mestinya.

Pasalnya Speed Boat Puskel tersebut sempat diketahui digunakan oleh pihak Puskesmas Sedanau, membawa orang memenghadiri resepsi pernikahan di Kampung Segeram dan melakukan piknik di Pulau Jalik.

Sedangkan ketika ada warga Sedanau hendak di rujuk ke Rumah Sakit Umum Dearah (RSUD) Natuna untuk berobat terpaksa harus mengeluarkan uang pribadi dengan jumlah yang tidak sedikit.

Hal itu diungkapkan oleh Baharullazi saat mendatangi Kantor Redaksi koranperbatasan.com, Jalan Hangtuah, Air Lakon, Kelurahan Ranai Kota, Kecamatan Bunguran Timur, Minggu 26 Desember 2021 malam.

Baharullazi, Warga Balau, Kelurahan Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, saat berada di Kantor koranperbatasan.com.

Warga Balau, Sedanau ini mengaku kehadiran dirinya di kantor media siber milik anak daerah tersebut atas permintaan beberapa warga di Kelurahan Sedanau.

“Tadi pagi bang, orang itu pergi menghadiri undangan ke Segeram, kemudian pulangnya piknik di Pulau Jalik. Memang yang nikah orang Puskesmas, tapi ini kan untuk emergency atau keadaan darurat, mana tahu orang itu joget-joget sukaria, di Sedanau ada kejadian, bagaimana coba?,” ungkapnya.

Rasa kecewa Baharullazi atas penggunaaan Puskel bukan pada peruntukannya terlihat begitu besar. Dihadapan beberapa wartawan koranperbatasan, ia menegaskan jika memang pihak Puskesmas Sedanau hendak bersukaria, kenapa tidak menggunakan transportasi lain saja?.

“Sedangkan masyarakat mau menggunakan saat di rujuk ke RSUD Natuna, harus bayar  sampai Rp 1.500.000,” ujarnya.

Terpisah Azuan, warga RT 002 RW 006 Kelurahan Sedanau yang mengaku sempat mengabadikan momen dalam bentuk rekaman video saat Speed Boat Puskel tersebut digunakan, ketika diminta keterangan juga mengungkapkan rasa kecewanya sebagaimana disampaikan Baharullazi.

Baharullazi memposting penggunaan Speed Boot Puskel di laman facebook menggunakan akun Baharullazi Lazi.

“Tadi pas pulang dari Pulau Jalik saya rekam, sekitar jam empat sore,” kata Azuan kepada koranperbatasan.com melalui telepon saluler, Minggu 26 Desember 2021 malam.

Kekecewaan tersebut disampaikannya kepada koranperbatasan.com mengingat ketika ada warga yang benar-benar membutuhkan Speed Boat Puskel dalam keadaan darurat, seperti hendak melahirkan dan rujuk ke RSUD Natuna, selalu saja dibuat kebingungan dengan biaya yang harus dikeluarkan.

“Jika memang betul-betul tidak ada dananya, tolong diserahkan kepada pengusaha untuk dikelola sementara bang. Ketika memang ada yang cartar untuk keperluan lain, uangnya itu digunakan untuk mengantar orang yang sakit ke Pelabuhan Binjai. Jangan kebetulan orang sakit tidak bisa diantar, sedangkan untuk keliling ke acara pesta bisa,” bebernya.

Baca Juga:  Masalah Ekonomi Mendominasi Penyebab Perceraian di Natuna

Azuan juga membenarkan bahwa Baharullazi memang diminta oleh warga untuk mendatangi Kantor Redaksi koranperbatasan.com, menindaklanjuti dan mempertanyakan hal tersebut agar didapati solusi menjelang anggaran opersional Speed Boat Puskel itu dikeluarkan oleh Pemda Natuna.

“Kapan dana muncul?. Jadi untuk saat sekarang bagaimana solusinya, sebelum dana operasional itu turun,” pungkasnya.

Lebih jauh Azuan menegaskan jika anggaran opersional untuk Puskel nantinya sudah tersedia oleh pemerintah, ia berharap penggunaan Speed Boat Puskel difokuskan hanya untuk mengantar pasien sakit.

Gambar screnshoot rekaman video yang diunggah Azuan.

Tak hanya Baharullazi dan Azuan, warga Penyong Kelurahan Sedanau yang mengaku bernama Bahari, juga melontarkan kekesalannya terkait temuan penggunaan Speed Boat Puskel oleh pihak Puskesmas Sedanau untuk menghadiri resepsi pernikahan dan piknik.

“Kita sesalkan seperti itu. Puskel itu kan untuk orang sakit, saat ada yang membutuhkan baru baru bisa berangkat,” katanya kepada koranperbatasan.com melalui telepon saluler, Minggu 26 Desember 2021 malam.

Selain itu, ia juga mengaku kecewa atas biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat saat ingin menggunakan Speed Boat Puskel untuk membawa pasien rujukan ke RSUD Natuna.

“Warga Penyong pernah kena, malam itu memang dilayani, cuma warga terpaksa harus siapkan uang minyak sebesar Rp1,5 juta. Jika tidak ada uang minyak, mana bisa jalan Puskel itu, karena kata mereka tidak ada uang yang disiapkan dari Pemda,” tutur Bahari.

Menurutnya, Pemda Natuna memang harus menganggarkan anggaran operasional kepada pihak Puskesmas untuk Puskel. Tujuannya agar masyarakat yang sakit dan benar-benar membutuhkan pertolongan dapat terlayani kapan saja.

“Jika tidak mau anggarkan, kasih saja speed boat itu ke pengusaha, biar mereka yang hendelnya. Menurut saya Pemda Natuna memang harus bertanggung jawab dengan masaalah ini,” cetusnya.

Kepala Puskesmas Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, Dr. Wan Ari, ketika dikonfirmasi membenarkan Speed Boat Puskel sempat digunakan untuk membawa rombongan menghadiri resepsi pernikahan di Kampung Segeram dan mampir di Pulau Jalik.

“Kebutulan ada bidan pegawai Puskesmas bertugas di Postu Segeram nikah dengan orang Segaram, jadi hari ini resepsinya dan kita sebagai kawan-kawan sekantor merasa tidak enak jika tidak pergi, makanya kita pergi. Memang menggunakan Puskel, kebetulan tidak ada pasien,” sebut Wan Ari menjawab koranperbatasan.com melalui telepon saluler, Minggu 26 Desember 2021 malam.

Speed Boat Puskel dalam perjalanan pulang dari Kampung Segeram dan Pulau Jalik menuju Sedanau.

Ia memastikan, selama menghadiri resepsi pernikahan dan mampir di Pulau Jalik, bagi pegawai piket tetap terus berjaga di Puskemas Sedanau.

Baca Juga:  DPD Partai Golkar Natuna Berbagi Kain Sarung dan Paket Sembako di Desa Mekar Jaya

“Jika memang ada emergency, kita sudah siapkan tenaga, pasti mereka akan telepon jika ada pasien masuk, pasien emergency kan masuk UGD dulu, bukan dari rumah langsung di rujuk,” tuturnya.

Dalam hal ini, Wan Ari juga mengaku penggunaan Speed Boat Puskel saat itu tidak ada pemeberitahuan ke dinas terkait. Pegawai yang ikut menghadiri resepsi dan piknik berjumlah lebih dari 20 orang. Sedangkan yang piket jaga di Puskesmas Sedanau sebanyak 2 orang.

“Iya inisiatif dari kawan-kawan, kita menggunakan Puskel pun bayar, kumpulkan duit Rp75 ribu satu orang untuk beli bensin dan oli, memang tidak ada duit operasional dari Pemda untuk itu,” terangnya.

Ia menceritakan Speed Boat Puskel tersebut digunakan dari Sedanau menuju Segeram pada hari Minggu, 26 Desember 2021 pukul 09.30 Wib, memakan waktu lebih kurang 30 menit. Siang harinya, pulang dari Segeram mereka menyempatkan singgah di Pulau Jalik menunggu air laut pasang.

“Iya singgah sebentar, represing juga, karena kawan-kawan kita nakes ini capek juga kerja. Kan kerja sampai Sabtu, bukan Jum’at, 24 jam kita harus siap selama satu minggu itu. Di Jalik tidak sampai satu jam, sebelum ashar kita sudah haluan ke Sedanau, sampainya lepas ashar. Dari Sedanau ke Jalik itu kan tidak sampai 15 menit,” kata Wan Ari menceritakan yang terjadi.

Wan Ari mengaku tidak keberatan dengan apa yang disampaikan warga ke koranperbatasan.com, katanya terserah publik menilai, yang jelas dirinya dan nakes-nakes ini pun manusia biasa.

Bahkan ia memastikan bukan setiap hari minggu pihaknya menggunakan Puskel tersebut, hanya saja kebetulan terdapat momen pernikahan pegawai Puskesmas Sedanau yang bertugas di Postu Segeram.

“Bukan pergi sengaja mau piknik, kebetulan ada kawan nikah tadi, balik mampir sebentar ke Jalik, sekedar poto-poto juga sudah,” bebernya.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna, Hikmat Aliansyah.

Sementara Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Natuna, Hikmat Aliansyah mengaku telah memberi teguran secara lisan kepada pihak Puskesmas Sedanau.

“Sanksi teguran secara lisan sudah diberikan,” tulis Hikmat menjawab koranperbatasan.com melalui pesan WhatsApp, Senin 27 Desember 2021.

Kata Hikmat, jika masih diulangi maka tindaklanjut kedepan tergantung pelanggaran yang dilakukan.

“Kita lihat nanti pelanggaran seperti apa,” ujarnya singkat.

Lebih jauh Hikmat memastikan, untuk anggaran operasional Speed Boat Puskel itu sudah disiapkan pada tahun 2022 mendatang.

“Untuk anggaran tahun depan sudah disiapkan, nanti juga bisa diklaim ke BPJS untuk biaya rujukan,” terangnya.

Hanya saja Hikmat belum dapat memastikan berapa total anggaran yang disiapkan sebab Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) belum diterima. (KP).


Laporan : Johan


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *