NATUNA – Agustus merupakan bulan yang dinanti-nantikan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Karena Agustus adalah saksi bisu sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ada banyak peristiwa penting yang terjadi di bulan ini hingga menghantarkan Indonesia ke pintu kemerdekaan.
Hampir 76 tahun Indonesia merdeka. Pada awal Agustus 1945 silam, Indonesia masih berada di bawah kekuasaan Jepang. Para tokoh pejuang kemerdekaan pun masih mencari berbagai jalan untuk bisa mewujudkan cita-cita luhur mereka.
Perang Dunia II yang berlangsung dari 1 September 1939 hingga 2 September 1945 menjadi celah bagi tokoh pejuang kemerdekaan untuk membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajah. Kekalahan Jepang atas Sekutu menjadi salah satu pintu menuju kemerdekaan Indonesia.
Disisi lain bulan Agustus juga membawa berkah bagi penjual aksesoris kemerdekaan. Saat memasuki bulan Agustus, para penjual aksesoris kemerdekaan mulai menghiasi pinggiran jalan untuk menjajakan dagangannya.
Seperti di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, hasil pantauan wartawan koranperbatasan.com, para penjual bendera, umbul-umbul dan aksesoris bernuansa merah putih lainnya sudah menempati beberapa tempat seperti di Jalan Datuk Kaya Wan Moh. Benteng dan Jalan Soekarno-Hatta, Ranai.
Wawan Setiawan, pria asal Bandung ini mengaku sejak awal bulan Agustus sudah menjajakan bendera, umbul-umbul, serta background bernuansa merah putih di Jalan Soekarno-Hatta tepatnya di depan Pantai Piwang.
“Dari tanggal 1 Agustus pak. Ada tiga macam yang dijual yaitu bendera, umbul-umbul dan background,” katanya menjawab koranperbatasan.com Selasa, 03 Agustus 2021.
Untuk harga kata Wawan bervariasi, mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 500 ribu. “Ada juga yang ukuran kecil untuk sepeda motor 10 ribuan, terus pompong 15 ribu, rumah 50 ribu, kantor 75 ribu, dan background ini 500 ribu per 10 meter,” terangnya.
Menurut Wawan, dari awal berjualan masih sepi pembeli. Belum ada gerakan laku banyak, masyarakat saja yang beli. Untuk kantoran belum semua.
“Biasanya yang laku keras itu sekolahan yang beli. Penyambutannya kurang meriah kalau ada korona, jadi sepi,” ujarnya.
Wawan yang mengaku sudah 3 musim berjualan di Natuna. Rencananya akan berjualan sampai tanggal 15, setelah itu pulang ke kampung halaman.
“Berhubung saya berjualan bendera, saya harap masyarakat maupun pemerintah setempat agar dapat membeli dan suasananya jadi semarak di Natuna ini,” tutupnya. (KP).
Laporan : Johan










