“Pelaksanaan ujian praktik dan kebijakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SMPN 1 Bunguran Timur Natuna menuai tantangan teknis sekaligus kebingungan di kalangan siswa dan pihak sekolah.”
NATUNA – Kepala Sekolah SMPN 1 Bunguran Timur, Zurna, S.Pd., mengungkapkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pasca libur telah dimulai dengan upacara wajib, sekaligus diikuti rangkaian ujian praktik siswa kelas 9 yang berlangsung selama 3 hari, yaitu tanggal 30, 31 Maret, dan tanggal 01 April.
Aktivitas pendidikan di SMPN 1 Bunguran Timur kembali berjalan normal sejak 30 Maret 2026. Hari pertama masuk sekolah langsung diawali dengan upacara bendera, sesuai dengan edaran yang mewajibkan seluruh sekolah melaksanakan kegiatan tersebut.
“Dari awal memang dianjurkan upacara. Jadi kita masuk tanggal 30 itu langsung upacara,” ujar Zurna saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/4/2026).
Memasuki pekan pertama, sekolah langsung dihadapkan pada agenda ujian praktik bagi siswa kelas 9. Ujian praktik yang paling menyita perhatian siswa yaitu mata pelajaran seni budaya. Siswa yang tampil di panggung halaman tengah sekolah menarik animo siswa kelas 7 dan 8 untuk menonton “pentas seni” tersebut.
Zurna menjelaskan pelaksanaan ujian praktik berdampak pada efektivitas pembelajaran kelas 7 dan 8.
“Ketika kelas 9 ujian praktik, kelas 7 dan 8 itu seperti menonton pentas seni. Jadi kurang efektif karena ada gangguan dari kegiatan praktik tersebut,” jelasnya. Sehingga sekolah mengambil kebijakan mengizinkan siswa kelas 7 dan 8 untuk menonton pertunjukan tersebut. Selesai kegiatan ujian praktik kelas 9, siswa kelas 7 dan 8 kembali belajar sampai jam pelajaran usai.
Di sisi lain, siswa kelas 9 juga akan mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA). Sesuai dengan edaran dari disdikbud siswa kelas 7 dan 8 difakultatifkan untuk mendukung kelancaran TKA agar suasana ujian kondusif. Namun, kondisi tersebut tidak selalu berjalan sesuai harapan.
“Kita harapkan mereka belajar di rumah, tapi anak-anak menganggap fakultatif itu libur,” tambahnya.
Sementara itu, Zurna menilai kebijakan pelaksanaan TKA di tingkat SMP masih belum sepenuhnya memiliki tujuan yang jelas.
“Kalau untuk SMA mungkin jelas, untuk lanjut ke perguruan tinggi. Tapi kalau SMP ini masih agak membingungkan, sebenarnya untuk apa,” ujarnya.
Ia menyebutkan berdasarkan informasi yang diterima, TKA digunakan untuk pemetaan mutu pendidikan, menggantikan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) yang kini telah dihapus.
“Sekarang semua sudah termasuk di TKA, termasuk survei lingkungan belajar dan karakter siswa,” jelasnya.
Meski demikian, muncul berbagai pertanyaan dari siswa terkait urgensi mengikuti TKA, terutama bagi mereka yang telah diterima di sekolah swasta.
“Ada siswa yang bertanya, ‘Bu, kami tidak ikut saja, karena sudah diterima di sekolah swasta’. Tapi kita tetap sampaikan bahwa ini bagian dari kebijakan,” kata Zurna.
TKA sendiri hanya menguji dua mata pelajaran utama, yakni Bahasa Indonesia untuk literasi dan Matematika untuk numerasi
Dengan jumlah siswa kelas 9 mencapai 258 orang, pihak sekolah terpaksa menerapkan sistem dua gelombang dalam empat hari. Setiap hari terdiri dari tiga sesi dan per sesinya hanya dapat menampung 45 siswa, menyesuaikan dengan keterbatasan alat yang tersedia.
“Kita bagi tiga sesi dalam sehari, masing-masing 45 siswa. Karena alat hanya mendukung segitu, jadi harus dibagi dalam beberapa ruangan,” ungkapnya.
Sementara itu, ujian sekolah untuk kelas 9 tetap akan dilaksanakan pada awal bulan Mei, sebagai bagian dari penilaian akhir siswa sebelum kelulusan. (KP).
Laporan: Dini










