Ujicoba Penerapan 5 Hari Kerja di OKU “Gagal” Sabtu Siswa Kembali Sekolah

0
193
Potret-salah-satu-aktifitas-belajar-mengajar-di-sekolah-wilayah-Ogan-Komering-Ulu-Sumatera-Selatan

BATURAJA, (KP),- Ujicoba penerapan sistem belajar mengajar, pembelajaran  5 hari kerja di Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan untuk SMA/SMK ternyata tidak bertahan lama. Buktinya baru satu tahun ajaran, sistem ini “Gagal” lalu kembali pada aturan lama 6 hari kerja, hingga hari Sabtu siswa kembali belajar seperti tahun sebelumnya.

Salah satu contoh sekolah yang sudah merealisasikan Wacana Menteri Pendidikan Nasional itu adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 OKU. Pihak sekolah yang sudah satu tahun menjalankan program “coba coba” kementerian itu, akhirnya mengembalikan kegiatan belajar mengajar ke 6 hari kerja terhitung tahun ajaran baru tahun 2018.

Menurut pengakuan Kepala Sekolah SMK N 2 OKU Drs. Rohan Tanjung, yang dikonfirmasi pada Jumat (20/7/2018), SMKN 2 yang dipimpinya kembali memberlakukan kegiatan belajar mengajar seperti semula atau 6 hari kerja. Pertimbanganya, selama pembelajaran diterapkan, sehabis jam istirahat para siswa banyak yang mengantuk. Penomena ini jelas berdampak pada syistem belajar mengajar yang berlangsung hingga pukul 16.00 WIB

“ Diperparah lagi, banyak siswa tidak makan siang, walau kesempatan istirahat diberikan, hingga factor lelah, mengantuk, dan kelaparan juga mengakibatkan kurang efektifnya siswa menyerap pelajaran. Berangkat dari masalah inilah, dewan guru mengusulakan agar pembelajaran dikembalikan lagi ke proses belajar mengajar seperti semula, yakni 6 hari kerja. Dengan 6 hari kerja, secara otomatis jadwal belajar mengajarnya juga kembali berubah, hari Senin hingga Kamis siswa masuk kelas pukul 07.00WIB, dan pulang pukul 13.30 WIB, hari Jumat pulang pukul 11.00 WIB, dan hari Sabtu pulang pukul 12.30 WIB. Jadwal ini berbeda dengan pembelajaran yang mewajibkan siswa pulang sekolah pukul 16.00 WIB,” kata Rohan Tanjung.

Terpisah pengamat pendidikan bumi Sebimbing Sekudang Dr. Bambang Sulistio mengatakan, full day school dibuat menjadi sebuah kebijakan dengan berbagai pertimbangan. Salah satu pertimbangan dimaksud, adalah banyak anak yang justru memanfaatkan waktu diluar sekolah untuk kegiatan yang positip,  masih bersifat uji coba yang artinya, belum diwajibkan untuk semua sekolah. Kita juga harus memahami bahwa saat penerapan banyak respon yang pro maupun kontra. Saya yakin pertimbangan para pemangku kebijakan itu sudah sangat matang dan bijak, ungkapnya. (Syahril).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here