NATUNA

Budidaya Ikan Air Tawar Terkendala Pakan Mahal dan Pasar Terbatas

×

Budidaya Ikan Air Tawar Terkendala Pakan Mahal dan Pasar Terbatas

Sebarkan artikel ini
Kepala Bidang Pengelolaan dan Pemberdayaan Usaha Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Natuna, Habibi, S.Pi.

“Dinas Perikanan Kabupaten Natuna terus melakukan pembinaan terhadap kelompok budidaya ikan air tawar guna menjaga ketersediaan protein lokal, meski sektor ini masih menghadapi kendala tingginya harga pakan dan keterbatasan pasar.”

Dinas Perikanan Kabupaten Natuna terus mendorong pengembangan budidaya ikan air tawar sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah. Namun, tingginya harga pakan dan terbatasnya pasar lokal masih menjadi tantangan utama bagi para pembudidaya.

NATUNA — Kepala Bidang Pengelolaan dan Pemberdayaan Usaha Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Natuna, Habibi, S.Pi., mengatakan komoditas utama budidaya ikan air tawar di Natuna saat ini adalah ikan lele dan nila. Kedua komoditas tersebut masih memiliki pasar, meskipun konsumsi masyarakat terhadap ikan air tawar masih relatif terbatas.

“Produksi kita sebenarnya tidak bisa terlalu banyak. Kalau berlebih, pelaku usaha akan kesulitan menjualnya karena pasar lokal terbatas,” ujar Habibi kepada koranperbatasan.com saat diwawancarai di ruang kerjanya, Kantor Dinas Perikanan, Jumat, 6 Maret 2026.

Menurutnya, masyarakat Natuna secara umum masih lebih terbiasa mengonsumsi ikan laut dibanding ikan air tawar. Konsumen ikan air tawar biasanya berasal dari masyarakat yang pernah tinggal di luar daerah.

Habibi menjelaskan hasil budidaya ikan air tawar di Natuna saat ini masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lokal. Jika produksi melimpah, pelaku usaha sulit menyalurkan hasil panen ke daerah lain karena kalah bersaing dari sisi biaya produksi.

Sebagai contoh, harga ikan lele di Natuna bisa mencapai sekitar Rp30 ribu per kilogram, sementara di Batam bisa lebih murah karena biaya produksi lebih rendah.

“Kita tidak bisa bersaing dari segi harga. Ongkos kirim dan biaya pakan saja sudah tinggi,” katanya.

Baca Juga:  Pokdarwis Pantai Teluk Selahang Siapkan Regenarasi Pelaku Budaya

Selain itu, sebagian kelompok pembudidaya juga belum mampu mengembangkan produk olahan bernilai tambah seperti abon atau olahan ikan lainnya yang bisa memperluas pasar.

Dinas Perikanan Natuna melakukan pembinaan kepada kelompok budidaya ikan melalui berbagai program, mulai dari pembentukan kelompok, pendampingan administrasi, hingga pemantauan hasil produksi.

Bantuan yang diberikan berupa benih ikan dari UPTD Balai Benih Ikan milik pemerintah daerah. Benih tersebut diberikan secara gratis kepada kelompok yang memenuhi kriteria pembinaan.

“Benih yang kita berikan berasal dari produksi balai benih pemerintah dan diberikan secara gratis kepada kelompok yang dibina,” jelas Habibi.

Fokus pengembangan budidaya ikan air tawar saat ini berada di wilayah Bunguran Tengah, khususnya kawasan SP 1 hingga SP 3. Selain itu terdapat beberapa kelompok budidaya di Bunguran Timur dan Bunguran Timur Laut.

Habibi menilai budidaya ikan air tawar memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan daerah karena dapat diproduksi sepanjang tahun dan tidak tergantung musim seperti perikanan tangkap. Selain itu, usaha budidaya ikan juga dapat dilakukan dengan modal relatif kecil dan memanfaatkan lahan pekarangan rumah.

“Budidaya ikan air tawar ini penting untuk ketahanan pangan karena proteinnya tinggi dan tidak tergantung musim tangkap di laut,” paparnya.

Namun demikian, masyarakat masih perlu didorong untuk meningkatkan konsumsi ikan air tawar agar pasar lokal semakin berkembang. Salah satu kendala terbesar yang dihadapi pembudidaya ikan air tawar adalah mahalnya harga pakan komersial.

Jika perhitungan biaya produksi tidak tepat, usaha budidaya berpotensi merugi karena harga jual ikan tidak bisa dinaikkan mengikuti kenaikan harga pakan. Selain pakan, pembudidaya juga menghadapi risiko penyakit ikan yang dapat menyebabkan kematian massal di kolam jika tidak ditangani dengan baik.

Baca Juga:  Ekonomi Lesu Tantangan Serius Pertumbuhan Balita di Natuna

Untuk mendukung keberlanjutan usaha budidaya, Dinas Perikanan Natuna tengah menyiapkan regulasi agar pelaku usaha perorangan dapat membeli benih ikan langsung dari balai benih daerah. Selama ini bantuan benih hanya diberikan kepada kelompok budidaya dalam bentuk hibah.

Ke depan, pelaku usaha mandiri juga akan diberikan akses untuk membeli benih melalui mekanisme resmi yang sedang diproses pemerintah daerah.

“Kita ingin balai benih menjadi pusat stok benih yang bisa diakses kapan saja oleh pelaku usaha,” kata Habibi.

Dinas Perikanan juga terus mendorong penguatan kelembagaan kelompok budidaya. Selama ini masih banyak kelompok yang terbentuk hanya ketika ada bantuan pemerintah.

Kelompok budidaya diharapkan memiliki struktur yang lebih kuat dan berbadan hukum sehingga dapat menjalankan usaha secara berkelanjutan.

“Harapannya, kelompok tidak hanya aktif saat ada bantuan, tetapi benar-benar menjadi wadah untuk mengembangkan usaha bersama,” pungkas Habibi. (KP).


Laporan : Dhitto


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *