HUKUM & KRIMINALKEAMANAN PERBATASANTANJUNGPINANG

Imigrasi Tanjungpinang Perkuat Pencegahan TPPO dan PMI Nonprosedural 

×

Imigrasi Tanjungpinang Perkuat Pencegahan TPPO dan PMI Nonprosedural 

Sebarkan artikel ini
Kantor Imigrasi Kelas I TPI Tanjungpinang menggelar Media Gathering dan sosialisasi pencegahan TPPO bersama insan pers di Tanjungpinang, Kamis (13/8/2026).

“Kantor Imigrasi Kelas I TPI Tanjungpinang memperkuat pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan menyoroti tawaran kerja ilegal dan keberangkatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) secara nonprosedural yang berpotensi menjerumuskan masyarakat menjadi korban eksploitasi.” 

Kantor Imigrasi Kelas I TPI Tanjungpinang memperkuat upaya pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) melalui edukasi kepada masyarakat dan insan pers agar lebih waspada terhadap berbagai modus perekrutan tenaga kerja ilegal serta keberangkatan calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) secara nonprosedural. 

TANJUNGPINANG — Kantor Imigrasi Kelas I TPI Tanjungpinang terus memperkuat langkah pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), terutama terhadap berbagai modus tawaran pekerjaan yang berpotensi menjerumuskan masyarakat menjadi korban eksploitasi. 

Dalam materi sosialisasi TPPO, Imigrasi menjelaskan perdagangan orang merupakan tindakan mencari, membawa, memindahkan, atau menerima seseorang melalui penipuan, pemaksaan maupun pemanfaatan kerentanan untuk memperoleh keuntungan melalui eksploitasi. Praktik tersebut dapat terjadi di dalam negeri maupun lintas negara. 

Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah keberangkatan calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) secara nonprosedural. Dalam upaya pencegahan, Imigrasi memiliki peran melalui pemeriksaan dokumen perjalanan, tujuan keberangkatan, serta pengawasan lalu lintas orang di tempat pemeriksaan imigrasi. 

Berdasarkan materi yang disampaikan, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Tanjungpinang mencatat penangguhan pemberian paspor sebanyak 40 kasus. Selain itu, terdapat penundaan keberangkatan terhadap tujuh orang di Pelabuhan Sri Bintan Pura. 

Materi tersebut juga mencantumkan penundaan keberangkatan PMI nonprosedural di seluruh Indonesia sebanyak 8.287 orang. Data itu menunjukkan persoalan keberangkatan pekerja migran yang tidak sesuai prosedur masih membutuhkan perhatian dan pencegahan bersama. 

Upaya pencegahan juga didorong melalui pembentukan desa binaan dengan melibatkan perangkat desa. Langkah berbasis masyarakat tersebut penting karena pencegahan TPPO tidak hanya dilakukan ketika seseorang berada di pintu keberangkatan, tetapi perlu dimulai dari lingkungan masyarakat. 

Imigrasi turut mengingatkan masyarakat agar mewaspadai berbagai modus perekrutan. Salah satunya tawaran pekerjaan dengan gaji sangat tinggi, tetapi jenis pekerjaan yang ditawarkan tidak jelas. 

Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap pihak yang menjanjikan keberangkatan cepat tanpa melalui prosedur resmi, tidak memberikan kontrak kerja, maupun menyerahkan dokumen dalam bahasa yang tidak dipahami calon pekerja. 

Untuk menghindari modus tersebut, masyarakat diminta menerapkan prinsip CEK, JANGAN, PASTIKAN, dan LAPORKAN sebelum menerima tawaran pekerjaan ke luar daerah maupun luar negeri. 

Masyarakat perlu mengecek identitas perusahaan maupun pihak yang menawarkan pekerjaan. Data pribadi seperti KTP, paspor, dan rekening juga tidak boleh diberikan sembarangan kepada pihak yang belum jelas identitas dan legalitasnya. 

Calon pekerja juga diminta memastikan lowongan pekerjaan benar-benar resmi dan dapat diverifikasi. Apabila menemukan tawaran kerja atau proses perekrutan yang mencurigakan, masyarakat diimbau segera melaporkannya kepada pihak berwenang. 

Tidak hanya masyarakat, insan pers juga dinilai memiliki peran penting dalam upaya pencegahan TPPO. Media diharapkan turut mengedukasi masyarakat mengenai modus perdagangan orang serta mengingatkan publik agar tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan ilegal. 

Pers juga diharapkan menyebarluaskan informasi resmi dari pemerintah dan aparat penegak hukum secara cepat serta bertanggung jawab. 

Di sisi lain, pemberitaan mengenai kasus TPPO harus tetap mengedepankan perlindungan terhadap korban. Identitas maupun informasi yang berpotensi memperburuk kondisi korban perlu menjadi perhatian dalam proses pemberitaan. 

Melalui sinergi antara Imigrasi, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, pemerintah desa, masyarakat, dan insan pers, upaya pencegahan TPPO diharapkan dapat dilakukan sejak dini. 

Masyarakat pun diingatkan bahwa kewaspadaan sebelum menerima pekerjaan dan melakukan perjalanan menjadi langkah penting untuk mencegah terjerumus dalam praktik perdagangan orang. 

Pesan pencegahan yang disampaikan cukup tegas satu langkah waspada sebelum berangkat dapat menyelamatkan masa depan dan mencegah masyarakat menjadi korban perdagangan orang. (KP) 


Laporan: Ides 


 

📊 Views: 9
Baca Juga:  Polresta Tanjungpinang Gelar Pangan Murah, Beras SPHP Diserbu Warga 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *