“PSHT Pusat Madiun Cabang Natuna berpartisipasi dalam Pawai Budaya Natuna 2026 bersama Reog Ponorogo Sanggar Singo Mudo dengan membawa semangat Memayu Hayuning Bawana, menjaga lingkungan, serta memperkuat persaudaraan tanpa membedakan suku, agama, dan ras.”
NATUNA – Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pusat Madiun Cabang Natuna turut memeriahkan Pawai Budaya Natuna 2026 dengan menghadirkan atraksi pencak silat, berkolaborasi bersama Reog Ponorogo dari Sanggar Singo Mudo, sekaligus melakukan aksi peduli lingkungan sepanjang rute pawai, Minggu (16/8/2026).
Keikutsertaan PSHT dalam pawai budaya yang digelar untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut menarik perhatian masyarakat. Selain memperkenalkan seni pencak silat, kehadiran Reog Ponorogo semakin menambah keberagaman budaya Nusantara yang ditampilkan di tengah masyarakat Natuna.
Namun, rombongan PSHT tidak hanya hadir untuk menampilkan atraksi. Mereka membawa filosofi Memayu Hayuning Bawana, yang dimaknai sebagai upaya menjaga dan merawat keharmonisan alam serta lingkungan sekitar.
Panitia Pelaksana dari PSHT, Muhammad Rifa’i, mengatakan keikutsertaan mereka dalam Pawai Budaya Natuna 2026 telah dipersiapkan jauh hari agar tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga membawa pesan positif kepada masyarakat.
“Untuk tahun ini kita lebih ada persiapan. Jauh-jauh hari sudah kita persiapkan, tidak dadakan. Kemudian kami juga membawa momen Memayu Hayuning Bawana, yaitu menjaga alam dan sekitarnya. Jadi rombongan kami membawa tong sampah. Setiap sampah yang kami temui di jalan, kami kumpulkan,” ujar Muhammad Rifa’i saat diwawancarai koranperbatasan.com di kawasan Pantai Piwang.
Dalam kegiatan tersebut, PSHT menyiapkan konsumsi untuk sekitar 100 orang. Jumlah tersebut menjadi perkiraan peserta dan unsur pendukung yang terlibat dalam rombongan.
“Kalau PSHT, dari konsumsi yang kami siapkan itu sekitar 100 orang. Kurang-kurang pun tidak banyak, lebih-lebih pun tidak banyak. Kisarannya segitu,” jelasnya.
Rifa’i juga menjelaskan bahwa atraksi pencak silat yang ditampilkan tidak diperoleh secara instan. Untuk menjadi warga tingkat satu, peserta menjalani latihan sekitar satu hingga dua tahun, bergantung pada usia. Setelah itu, mereka mengikuti latihan khusus untuk mempersiapkan atraksi yang akan ditampilkan.
Kehadiran PSHT dan Reog Ponorogo di tengah masyarakat Melayu Natuna sekaligus menjadi gambaran keberagaman budaya yang hidup berdampingan. Menurut Rifa’i, meskipun PSHT berasal dari Jawa, ajaran Setia Hati Terate tidak diperuntukkan bagi kelompok atau suku tertentu.
“Kalau Reog itu budaya yang berasal dari Jawa. Tetapi kalau PSHT, walaupun berasal dari Jawa, Setia Hati Terate bukan sekadar budaya. Di situ ada seni, budaya, olahraga, kebatinan, dan kerohanian,” katanya.
Ia mengatakan, keterbukaan tersebut menjadi salah satu alasan PSHT dapat berkembang di berbagai daerah, termasuk di Tanah Melayu. Masyarakat dari berbagai latar belakang dapat mempelajari pencak silat dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya.
“Di Tanah Melayu pun berkembang pesat karena tidak khusus orang Jawa saja. Kalau orang Melayu mau masuk ke PSHT bisa mengambil silatnya, olahraganya maupun kebatinannya. PSHT tidak memandang suku, agama, dan ras. Itulah yang menjadi semangat kita di momentum kemerdekaan ini, berbeda tetapi tetap satu,” jelas Rifa’i.
Mengakhiri keterangannya, Rifa’i mengajak masyarakat untuk tidak membeda-bedakan sesama berdasarkan latar belakang suku maupun kelompok. Menurutnya, setiap manusia pada dasarnya memiliki kedudukan yang sama.
“Prinsipnya sederhana bahwa manusia itu sama. Jadi manusia itu sebenarnya sama, tidak ada beda-bedanya. Tetap solid untuk Indonesia maju,” pungkasnya. (KP)
Laporan: Dini










