“Perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia di Kelenteng Fuk De Chi, Kampung Tua Penagi, Natuna, tidak hanya diisi dengan doa bersama dan perlombaan rakyat. Momentum kemerdekaan juga menjadi ruang memperkuat persatuan masyarakat Tionghoa sekaligus merefleksikan makna nasionalisme yang dinilai harus dibuktikan melalui tindakan nyata.”
Pemuka Agama Khonghucu, Budi Setyawan, S.Pd., menegaskan bahwa nasionalisme dan cinta tanah air tidak cukup hanya menjadi jargon, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan itu disampaikannya saat masyarakat Tionghoa Natuna merayakan HUT ke-81 Republik Indonesia di Kelenteng Fuk De Chi, Kampung Tua Penagi, Minggu (23/8/2026).
NATUNA — Pemuka Agama Khonghucu, Budi Setyawan, S.Pd., mengatakan perayaan kemerdekaan di Kelenteng Fuk De Chi merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun.
Kegiatan diawali dengan doa bersama sebelum dilanjutkan dengan berbagai perlombaan. Menurut Budi, doa tersebut dipanjatkan untuk negara dan rakyat Indonesia sebagai bagian dari memaknai momentum kemerdekaan.
“Biasanya sebelum lomba kita doa dulu. Menyambut 17 Agustus, kita doakan negara dan rakyat. Setelah doa, baru kita mulai perlombaan. Seperti biasa, semua diawali dengan doa,” ujar Budi kepada Koran Perbatasan.
Setelah doa bersama, kemeriahan dilanjutkan dengan sejumlah perlombaan, seperti balap kardus, memindahkan gelas menggunakan balon, membawa bola di atas piring, makan kerupuk, memasukkan bendera ke dalam gelas, hingga memindahkan karet menggunakan sedotan.
Satukan Masyarakat Tionghoa
Budi menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya diikuti umat Khonghucu. Masyarakat Tionghoa dari latar belakang agama berbeda juga dilibatkan dalam perayaan kemerdekaan.
Menurutnya, berkumpul dan merayakan kemerdekaan bersama menjadi salah satu momentum memperkuat persatuan sekaligus menunjukkan identitas kebangsaan masyarakat Tionghoa sebagai bagian dari Indonesia.
“Ini salah satu momen persatuan dengan berkumpul. Tidak cuma Tionghoa yang beragama Khonghucu, yang non-Khonghucu pun kita libatkan. Yang penting dia Tionghoa yang mengakui Indonesia. Tionghoa, tapi Indonesia,” ujarnya.
Budi kemudian menyampaikan ungkapan dengan gaya berseloroh untuk menggambarkan kuatnya kecintaan terhadap Indonesia.
“Jadi, tulangnya Merah Putih. Matanya saja mungkin yang minimalis,” katanya.
Nasionalisme Harus Dibuktikan Nyata
Di balik kemeriahan perlombaan, Budi mengajak masyarakat melakukan refleksi terhadap makna cinta tanah air. Menurutnya, nasionalisme tidak boleh berhenti pada ucapan atau slogan semata.
Ia menilai salah satu bentuk nyata cinta tanah air dapat dilakukan dengan menggunakan produk buatan Indonesia, mendukung produk UMKM, mencintai Rupiah, serta mendorong produk dalam negeri agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Harus dibuktikan cinta tanah air itu. Buktinya apa? Pakai produk dalam negeri. Kita cintai mata uang kita, produk-produk UMKM kita yang digalakkan, bukan produk luar yang banyak diimpor, tetapi ekspor yang harus digencarkan,” tegasnya.
Budi menilai produk dalam negeri tidak kalah bersaing dengan produk luar. Karena itu, menurut dia, masyarakat juga memiliki peran dalam memperkuat perekonomian nasional melalui pilihan yang dibuat dalam kehidupan sehari-hari.
Ia turut menyinggung kebiasaan menyimpan mata uang asing sebagai bagian dari refleksinya terhadap nasionalisme.
“Kalau dulu zaman saya lagi krisis moneter, cinta Rupiah. Kalau sekarang banyak yang menyimpan dolar. Coba kalau menyimpannya Rupiah, lain cerita,” ujarnya.
Soroti Makna 81 Tahun Kemerdekaan
Memasuki 81 tahun Indonesia merdeka, Budi juga menyampaikan pandangan kritis mengenai makna kemerdekaan yang dirasakan masyarakat.
“Indonesia merdekanya secara tertulis 81 tahun, tapi dengan kenyataan, kalau menurut saya belum merdeka,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut ia kaitkan dengan sejumlah persoalan yang menurutnya masih perlu menjadi perhatian, mulai dari kerusakan lingkungan, respons terhadap masyarakat yang terdampak bencana, hingga persoalan keadilan.
Bagi Budi, cinta tanah air juga harus diwujudkan dengan menjaga kekayaan alam dan tidak melakukan tindakan yang justru merusak lingkungan.
Ia juga menekankan pentingnya kehadiran pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat serta memastikan kebijakan yang dibuat berpihak kepada kepentingan umum.
Keadilan Tak Harus Sama Rata
Budi berharap pemerintah pusat maupun daerah mampu melahirkan kebijakan yang tidak hanya mengakomodasi kepentingan kelompok tertentu.
Menurutnya, keadilan tidak selalu berarti setiap daerah harus memperoleh perlakuan yang sama persis. Kebijakan perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
“Adil itu bukan berarti harus sama. Harus sesuai dengan daerahnya, apa yang dibutuhkan,” jelasnya.
Ia menilai kepercayaan masyarakat menjadi salah satu modal utama dalam memperkuat pemerintahan dan kehidupan bernegara.
“Prinsipnya, kalau negara itu ada kepercayaan rakyat, pemerintahan pasti kuat,” tegas Budi.
Dalam momentum HUT ke-81 Republik Indonesia, Budi berharap Indonesia semakin maju dan makmur, sementara masyarakat tetap menjaga keimanan, ketakwaan, persatuan, serta kecintaan terhadap bangsa dan negara.
Bagi masyarakat Tionghoa di Natuna, kemeriahan perlombaan 17 Agustus pun tidak hanya menjadi hiburan tahunan. Di balik kegembiraan tersebut tersimpan pesan tentang persatuan dan bagaimana rasa cinta terhadap Merah Putih diwujudkan melalui tindakan nyata. (KP)
Laporan: Dini










