NATUNA – Ketua Umum DPP Generasi Anak Melayu Provinsi Kepulauan Riau Bersatu (Geram Kepri), Aryandi, mengingatkan Bupati Natuna Cen Sui Lan tentang pentingnya menjaga ucapan dan adab seorang pemimpin. Pesan itu disampaikan menyusul pernyataan yang disebut ditujukan kepada wartawan Koran Perbatasan saat meliput acara makan siang bersama insan pers di Rumah Makan Ajo Basamo, Jumat (23/10/2026).
Melalui pernyataan yang dikirimkan melalui WhatsApp pada Selasa (27/10/2026), Aryandi mengangkat nilai-nilai adat Melayu sebagai pengingat bagi pemimpin dalam bersikap dan berkomunikasi, termasuk ketika berhadapan dengan wartawan.
Salah satu pesan yang disorot Aryandi berbunyi, “Tersesat di ujung jalan, balik ke pangkal jalan, tersalah cakap, cepat bertobat.”
Menurut Aryandi, apabila ucapan yang dipersoalkan tersebut benar disampaikan dan menimbulkan rasa tersinggung atau mempermalukan wartawan di hadapan orang ramai, klarifikasi perlu dilakukan agar persoalan tidak berkembang menjadi kesalahpahaman berkepanjangan.
Ia mengingatkan bahwa perkataan seorang pemimpin bukan sekadar komunikasi pribadi, tetapi juga berkaitan dengan kepercayaan masyarakat dan marwah kepemimpinan.
Dalam nilai adat Melayu, kata Aryandi, seorang pemimpin diharapkan mampu menjaga tutur kata, menempatkan diri, serta memberikan teguran dengan cara yang patut.
Ia juga mengangkat pepatah, “Raja alim raja disembah, raja zalim raja disanggah,” sebagai pengingat bahwa penghormatan kepada pemimpin berkaitan dengan sikap dan keteladanan yang ditunjukkan.
Aryandi turut menyinggung prinsip “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”. Menurutnya, nilai tersebut mengingatkan pentingnya keselarasan antara adat, etika, dan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam menjalankan kepemimpinan.
Ia menilai, pemimpin perlu berhati-hati dalam memilih kata, terutama ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih muda atau pihak yang berada dalam posisi berbeda. Teguran, menurut pesan yang disampaikannya, semestinya menjadi sarana membimbing, bukan merendahkan.
Aryandi juga mengingatkan pentingnya kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Ia mengutip pepatah, “Kerbau pegang tali, manusia pegang kata,” untuk menekankan bahwa perkataan harus dijaga dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pesan lain yang diangkatnya adalah “Mulutmu harimaumu.” Pepatah tersebut menjadi pengingat bahwa ucapan yang tidak dipertimbangkan dapat menimbulkan persoalan dan berdampak terhadap hubungan antarpihak.
Bagi Aryandi, apabila seorang pemimpin merasa telah keliru dalam berkata-kata, mengakui kekeliruan dan memberikan penjelasan secara terbuka merupakan langkah untuk memperbaiki keadaan. Klarifikasi juga dapat mencegah munculnya penafsiran yang berbeda di tengah masyarakat.
Minta Cen Sui Lan Beri Klarifikasi
Sebelumnya, Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan, Amran, telah mengirimkan surat permohonan klarifikasi terkait ucapan, “Kamu dari mana? Koran Perbatasan? Tidak masuk!!” kepada Bupati Natuna Cen Sui Lan dan pihak Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Natuna.
Redaksi meminta penjelasan mengenai maksud ucapan tersebut, apakah terdapat alasan khusus di balik pernyataan itu, serta apakah kejadian tersebut berkaitan dengan persoalan antara Bupati Natuna dan Koran Perbatasan.
Amran juga menyampaikan kekhawatiran bahwa kejadian tersebut dapat memengaruhi kepercayaan diri, kondisi psikologis, dan motivasi wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik. Menurutnya, wartawan perlu mendapat ruang untuk bekerja secara profesional tanpa perlakuan yang dapat menghambat pelaksanaan tugasnya.
Aryandi berharap persoalan tersebut dapat dijernihkan melalui penjelasan terbuka dan sikap yang mencerminkan nilai-nilai adat Melayu. Baginya, menjaga perkataan merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang pemimpin dalam mempertahankan marwah diri sekaligus kepercayaan masyarakat.
Redaksi










