NATUNA – Ketidakstabilan ekonomi serta tingginya biaya hidup menjadi penghalang pemenuhan kebutuan pangan bergizi bagi anak, dan balita di Natuna. Upaya mencegah stunting pada usia pertumbuhan anak dan balita tersebut menyasar masyarakat Natuna di Kecamatan Bunguran Timur.
Tingginya biaya kebutuhan hidup ini membuat para orang tua tidak sempat memikirkan makanan bergizi yang harus diberikan kepada anak-anaknya setiap hari. Mereka disibukan dengan bagaimana cara mencari uang agar dapat bertahan hidup. Untuk bisa makan sehari-hari saja sudah kepalang susah.
Pernyataan ini diungkapkan Staf Gizi Puskesmas Ranai, Yusuf Amir A.Md.Gz, dalam pemberian edukasi mengenai pentingnya pangan bergizi bagi kebutuhan pertumbuhan anak dan balita. Dimana masalah ekonomi menjadi problematika serius yang dihadapi masyarakat. Kesenjangan ekonomi ini ditemukannya saat melakukan penyuluhan di Ranai, dan Sungai Ulu.
“Beberapa rumah warga ada di bawah standar mereka bahkan tidak punya WC,” ungkap Yusuf Amir kepada koranperbatasan.com di ruang kerjanya Puskesmas Ranai, Selasa, 18 Maret 2025.
Dalam pantauan pemenuhan gizi anak dan balita di Natuna. Puskesamas Ranai melalui penyuluhannya melakukan penimbangan, dan pengukuran tinggi badan balita usia 0-5 tahun. Melakukan pengecekan apakah balita menyusui ASI atau tidak. Hal ini dilakukan setiap bulan mulai dari Posyandu Desa Batu Gajah hingga Desa Sepempang.
Selain penyuluhan, posyandu-posyandu yang ada disetiap desa dan kelurahan juga melaksanakan program pemberian makanan tambahan. Bedanya dulu diberikan susu dan biscuit. Sekarang para balita dan anak diberikan makanan siap saji diantar langsung ke rumah-rumah.
Puskesmas Ranai menjalin kerjasama dengan kader posyandu dalam pemberian makanan tambahan ini. Para kader posyandu terlibat aktif membantu membagikan pangan tambahan kepada balita. Sayangnya tidak semua balita bisa mendapatkan. Program ini hanya menyasar balita yang kondisi badannya kurang berat.
Oleh karenanya permasalahan gizi dalam stunting bagi balita juga berpengaruh pada obesitas. Sehingga obesitas menjadi bagian serius yang harus diperhatikan karena dianggap berbahaya. Sebab kelebihan berat badan yang buruk berdampak panjang pada kesehatan balita.
“Kadang orang terlalu fokus kestunting padahal masalah obesitas banyak di sini. Obesitas ini bahaya, badan besar bisa mempengaruhi kerja jantung. Tulang tidak kuat menopang badan, dan terjadinya pengeroposan,” tegas Yusuf.
Meskipun program bantuan pangan tambahan sudah dilakukan pemerintah. Hal ini bukan berarti sudah bisa menjamin kebutuhan dasar gizi bagi pertumbuhan balita yang sehat, dan bebas stunting serta obesitas.
Harus ada dobrakan serius dari pemerintah menghadapi kondisi ekonomi masyarakat yang terpantau lesu. Tindakan nyata pemenuhan kebutuhan gizi bagi masyarakat kurang mampu ini menjadi tantangan serius pemerintah menuju generasi emas Indonesia.
“Harapan saya pemerintah lebih memperhatikan masyarakat ekonomi di bawah rata-rata khususnya bagi mereka yang punya anak balita dengan berat badannya tidak bagus atau tidak sehat. Bantulah dengan memberikan kebutuhan pangan lebih baik seperti telur, beras, ikan dan lainnya. Karena di Natuna masih banyak kita temukan kayak gitu. Mereka kesulitan dengan kondisi ekominya,” beber Yusuf. (KP).
Laporan : Dhitto