KABAR PERBATASANKEPULAUAN RIAUNASIONALNATUNAPARLEMENTARIAPENDIDIKANPOLITIKRAGAM PERBATASAN

HMI Natuna Bicara, 100 Hari Cermin Antara Harapan dan Catatan Kritis

×

HMI Natuna Bicara, 100 Hari Cermin Antara Harapan dan Catatan Kritis

Sebarkan artikel ini

NATUNA – Di ufuk Natuna yang berbalut angin laut dan harapan, seratus hari telah berlalu—sebuah musim pendek dalam kalender kekuasaan, namun cukup untuk menanam benih-benih janji yang pernah disemai.

Cen Sui Lan dan Jarmin, sepasang nama yang kini melekat di bibir rakyat, membawa slogan penu gairah “BUPATI BARU, NATUNA MAJU”. Tapi sejauh mana gema itu menapak bumi?

Dari mimbar pergerakan memecah riuh keheningan, suara anak muda mengalun seperti doa bertanya dalam kebisuan, apakah cukup seratus hari untuk menakar mimpi?

Ayunda Aprianti, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Natuna, duduk tenang dalam riuhnya harap dan pikir. Tak sekadar melihat dari jauh, namun mencatat, mengamati, dan kini bersuara. Seratus hari Cen Sui Lan dan Jarmin dalam tampuk kuasa, dicatat dengan tinta semangat dan nalar antara pujian atau peringatan.

“Kami sangat mengapresiasi masa kerja awal 100 hari pasangan Cermin. Ini bisa menjadi pijakan strategis dan arah baru menuju visi yang dijanjikan,” ungkapnya.

Sosok pemimpin perempuan itu, Cen Sui Lan—bagi Ayunda Aprianti bukan sekadar pemegang jabatan, tapi juga gambaran keteduhan seorang ibu yang humanis, Anggun, bersahaja, dan menyapa rakyat bukan dari menara gading tapi dari jalan berlumpur serta pasar yang penuh keluh.

Namun, dalam pelukan apresiasi itu, tersemat juga catatan kritik.

“Apa yang dikerjakan selama 100 hari ini belum bisa dikatakan ideal,” ujar Ayunda Aprianti.

Sebab Natuna bukan hanya soal tampilan luarnya, melainkan tentang isi perut warganya. Ada sektor ekonomi yang merunduk lesu, pengangguran masih bersembunyi di balik statistik. Pendidikan yang tertinggal seperti daun tua tersapu angin dan akses kesehatan yang belum merata kadang tak sampai pada rumah-rumah di ujung pesisir.

Baca Juga:  Kegiatan Pembinaan Organisasi Kepemudaan Oleh Dispora Natuna Berjalan Lancar

HMI Cabang Natuna, melalui suara Ayunda Aprianti, menyerukan tiga agenda prioritas: Ekonomi, Pendidikan, dan Kesehatan. Bukan sembarang tuntutan, tiga pilar untuk menegakkan rumah bernama Natuna dari panggilan nurani bagi pemimpin yang bersedia mendengar.

Ayunda Aprianti juga menyinggung pula soal anggaran, agar tak hanya habis dalam birokrasi dan janji, agar dialokasikan secara proporsional, transparan, dan partisipatif. Dirinya juga menyelipkan pesan soal efisiensi, bukan hanya hemat tetapi bijak menyalurkan anggaran pada sektor paling butuh dengan transparansi sebagai pondasi dan partisipasi rakyat sebagai atap.

Ayunda Aprianti juga mengingatkan, bahwa pulau ini tak boleh hanya jadi penonton di panggung besar pembangunan. Ayunda Aprianti mengajak pemerintah membuka pintu untuk investor, bukan semata demi modal, tetapi untuk penguatan pondasi ekonomi daerah yang selama ini seperti perahu kecil melawan badai global.

“HMI akan menjadi mitra kritis. Kami akan menjadikan ini bagian dari program kerja, memantau dan mengontrol jalannya pemerintahan, bukan untuk menjatuhkan, tapi sebagai bentuk i’tikad mengawal Natuna menuju keadilan dan kemajuan,” tegas Ayunda Aprianti.

Selain berikrar menjadi mitra kritis, mereka akan mengawal 100 hari kedepan dengan semangat tak lelah untuk memastikan bahwa setiap langkah pemimpin berpijak pada keadilan sosial, keberlanjutan ekologi, dan humanisme struktural.

Ayunda Aprianti menutup dengan sebuah kalimat yang bukan sekadar retorika, melainkan janji dari seorang pejuang peradaban.

“Natuna adalah rumah kita. Membangunnya bukan perkara narasi, tapi kerja kolektif yang berpihak, adil, dan transformative,” tutup Ayunda Aprianti.

Dari bibir perempuan pemimpin HMI Cabang Natuna itu, terdengar suara masa depan yang tak ingin sekadar diam tapi ikut mengukir sejarahnya sendiri di tanah yang disebutnya rumah, Natuna.

Baca Juga:  Fraksi PKAD Soroti Efisiensi Anggaran dan Potensi PAD Maritim dalam Rapat Paripurna DPRD Anambas

HMI akan terus menulis bukan, hanya kritik. Namun menyurakan dengan nada-nada yang tak pernah takut, percaya bahwa perubahan adalah hak semua dan harapan tak boleh diam. (KP).


Laporan : Dhitto

Editor : Dhitto


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *