NATUNA – Dalam upaya pengembangan pendidikan karakter berbasis “Tamadun Melayu” dan menjadikannya “blueprint” sebagai tunjuk ajar yang dimulai dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna.
Pembina Yayasan Abdi Umat, H. Umar Natuna, S.Ag, M.Pd.I kembali menulis sebuah buku. Kali ini buku yang ditulisnya berjudul “Pendidikan Karakter Berbasis Tamadun Melayu di Perguruan Tinggi”.
“Kita ingin meletakkan Tamadun Melayu sebagai beluprint dalam pengembangan sumber daya manusia di Natuna khususnya. Makanya harus menjadi bahan ajar, kekuatan etik, moral dan kekuatan regulasi,” sebutnya kepada koranperbatasan.com di ruang kerjanya, Rabu 04 Agustus 2021.
Menurut H. Umar, meskipun regulasi tentang hal tersebut adalah urusan pemerintah, akan tetapi bahan ajar itu harus dikembangkan. Oleh karenanya, mahasiswa STAI Natuna sekarang sudah harus menulis tentang Tamadun Melayu pada skripsinya.
“Misalnya, aspek pendidikan dalam tujuk ajar Melayu atau aspek ekonomi dalam tunjuk ajar Melayu. Sehingga dengan demikian Melayu menjadi hidup kembali, tidak terasing, terutama dikalangan mahasiswa,” terangnya.
Kemudian kata H. Umar, bisa juga menjadi kekuatan etik dan moral. Artinya ketika orang menyebut Melayu tentu identiknya dengan Islam, moral dan adat. Kekuatan etik itu harus diperkuat dengan regulasi pemerintah.
“Mungkin membuat aturan-aturan yang sudah ada seperti baju kurung. Mungkin ada yang lain lagi, itu perspektipnya. Di pendidikan dari segi materi pembelajarannya. Dari segi etiknya kita bisa garap, tapi dari segi aturan kita tidak bisa garap. Bicara pendidikan Natuna harus berbasis Tamadun Melayu,” ujarnya.
Umar mengakui, yang menjadi motivasi utama sebagai penulis buku tersebut ialah untuk membumingkan Melayu kembali. Karena dirasakannya Melayu disisi pengetahuan masyarakat kurang mengerti. Kemudian dari segi adat juga terpantau mulai melemah.
“Segi warisan-warisan Melayu sekarang banyak terkikis. Warisan budaya sastra, seni sudah semakin hilang. Jadi kita ingin membumingkan kembali, pelan-pelan. Pertama dunia pendidikan kita dorong di STAI Natuna,” imbuhnya.
Ia menegaskan, buku-buku yang telah ditulisnya tidak untuk diperjualbelikan. Buku-buku tersebut dihibahkan ke perpustakaan dan sekolah-sekolah yang ada di Natuna. Memang belum merata, karena keterbatasan anggaran atau jumlah cetakan.
“Kalau pemerintah mau mencetak lain lagi,” cetusnya.
Dalam hal ini, Ia berharap, hal-hal yang berkaitan dengan Natuna akan lebih baik jika dituliskan secara bersama-sama. Pemerintah punya kekuatan punya power, bisa melalui dinas perpustakaan daerah mempogramkan penerbitan buku-buku tentang Natuna.
“Kita juga mengimbangkan dunia pariwisata atau segala macam menjadi daya tariknya. Kalau hanya pantai dan batu, dua hari orang sudah bosan. Harus ada yang lain, oh disini ada informasi ada ini ada itu. Jadi lama mereka (wisatawan-red) bertahan, perbincangan pun lama di kampung mereka. Itu untuk kedepan kalau sekarang memang belum dirasakan,” tutupnya. (KP).
Laporan : Johan










