OPINI PERBATASAN

Dialektika Pemikiran Gus Dur Tentang Toleransi dan Kemanusiaan, Menjadi Contoh Generasi Muda Masa kini

×

Dialektika Pemikiran Gus Dur Tentang Toleransi dan Kemanusiaan, Menjadi Contoh Generasi Muda Masa kini

Sebarkan artikel ini

Dialektika Pemikiran Gus Dur Tentang Toleransi dan Kemanusiaan, Menjadi Contoh Generasi Muda Masa kini

 

Abdurrahman Wahid Merupakan Presiden RI ke-4 pada masa jabatan 1999-2001. Presiden RI yang kerap dipanggil Gus Dur itu merupakan Tokoh Muslim Indonesia yang menjunjung tinggi ajaran islam modern. Namanya kerap sekali muncul setiap kali membahas tentang kebangsaan, toleransi, pluralisme, dan kemanusiaan. Pemikiran modern yang ia miliki kini terasa sangat relevan, terutama bagi generasi muda di tengah iklim sosial yang mudah memanas oleh perbedaan agama, suku, dan pandangan politik.

Walaupun kerap disebut sebagai tokoh islam modern, ia tetap tidak meninggalkan ajaran-ajaran dasar yang tercantum di dalam Al-Qur’an dan Hadist. sebagai seorang tokoh muslim terbesar, ia tetap bisa menyesuaikan dengan budaya barat yang membabi buta. Dirinya pernah mengatakan bahwa islam yang mampu berdialektika dengan zaman pasti akan terbuka pada ilmu pengetahuan, demokrasi, dan realitas sosial tanpa kehilangan keadilan, kemanusiaan, dan akhlak.

Menurut Gus Dur, agama tidak boleh kaku. Islam harus hadir sebagai pedoman hidup yang kontekstual. Nilai keadilan dalam Al-Qur’an, misalnya, tidak cukup hanya dibaca sebagai teks, tapi harus diwujudkan dalam sistem hukum, kebijakan publik, dan sikap sosial. Dakwah pun harus menyesuaikan cara berpikir generasi baru, bukan memaksa mereka tunduk pada cara lama yang tidak relevan.

Salah satu gagasan terpenting Gus Dur adalah penolakannya terhadap pertentangan antara iman dan ilmu pengetahuan. Bagi Gus Dur, agama memberi arah moral, sementara sains dan teknologi menyediakan sarana untuk mencapai kemaslahatan. Keduanya saling melengkapi, bukan saling meniadakan.

Namun, warisan terbesar Gus Dur bukan hanya soal pemikiran Islam modern, melainkan keberpihakannya pada nilai kemanusiaan. Ia menjadikan ukhuwah basyariyah persaudaraan sesama manusia sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa. Sebelum melihat orang sebagai pemeluk agama tertentu, Gus Dur mengajak kita melihatnya sebagai manusia yang punya martabat dan hak yang sama.

Prinsip ini terlihat jelas dalam sikap politik dan kebijakannya. Gus Dur tidak ragu membela kelompok minoritas yang dipinggirkan, termasuk etnis Tionghoa dan pemeluk Konghucu. Ia mencabut kebijakan diskriminatif yang telah lama mengakar, meski langkah itu menuai penolakan keras. Baginya, toleransi bukan basa-basi, melainkan tindakan nyata.

Pernyataan Gus Dur yang terkenal “Tuhan tidak perlu dibela, Ia sudah Maha Segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil” menunjukkan arah pikirannya yang lugas. Agama, dalam pandangannya, harus berpihak pada yang lemah, bukan dijadikan alat pembenaran penindasan.

Nilai-nilai ini terangkum dalam Sembilan Nilai Utama Gus Dur, mulai dari ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, hingga keberanian membela kebenaran. Nilai-nilai tersebut bukan slogan moral, melainkan panduan bersikap dalam kehidupan nyata.

Sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia, Gus Dur juga dikenal nyentrik dan sering dianggap kontroversial. Namun, di balik gaya ceplas-ceplos dan keputusan yang tak lazim, ia konsisten menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan politik. Integritas dan keberaniannya membuat ia dikenang, meski masa jabatannya singkat.

Bagi generasi muda usia 18–28 tahun, pemikiran Gus Dur adalah penawar di tengah polarisasi sosial hari ini. Saat perbedaan mudah dijadikan alasan kebencian, Gus Dur mengajarkan tiga hal penting: beragama dengan pikiran terbuka, menjadikan kemanusiaan sebagai titik temu, dan berani bersuara membela keadilan.

Gus Dur menunjukkan bahwa agama seharusnya membuat manusia lebih santai, damai, dan berempati bukan mudah marah dan gemar menghakimi. Warisannya bukan hanya milik satu golongan, tetapi milik seluruh bangsa.

Di era digital hari ini, pandangan Gus Dur terasa sangat relevan. Banyak orang begitu aktif di media sosial, tapi cara berpikirnya masih hitam-putih. Cepat menghakimi, mudah tersinggung, dan merasa paling benar. Gus Dur justru mengajarkan sebaliknya: berpikir kritis, membuka dialog, dan menyadari bahwa kebenaran tidak selalu tunggal.

Baca Juga:  Miskin Bukan Pilihan: Saat Sistem Membuat Rakyat Terjebak

 Iman dan Ilmu Tidak Perlu Bertengkar

Salah satu keberanian intelektual Gus Dur adalah menolak dikotomi antara iman dan ilmu pengetahuan. Ia tidak melihat sains sebagai ancaman bagi agama. Sebaliknya, ia melihat agama sebagai kompas moral, dan ilmu sebagai alat untuk memperbaiki kehidupan manusia.

Dalam pandangan Gus Dur, menjadi Muslim tidak berarti anti sains atau teknologi. Tetapi juga tidak berarti menjadikan teknologi sebagai tujuan hidup. Keseimbangan inilah yang sering hilang hari ini: ada yang mengkultuskan teknologi tanpa nilai, ada pula yang menolak kemajuan atas nama agama.

Gus Dur mengingatkan bahwa agama harus membumi, sementara ilmu harus diarahkan pada kemaslahatan. Tanpa nilai kemanusiaan, kemajuan hanya akan melahirkan ketimpangan dan penindasan baru.

Kemanusiaan sebagai Titik Temu Tertinggi

Jika ada satu kata kunci yang merangkum seluruh pemikiran Gus Dur, maka itu adalah kemanusiaan. Ia berangkat dari konsep ukhuwah basyariyah—persaudaraan sesama manusia.

Menurut Gus Dur, identitas agama, suku, atau golongan datang setelah identitas kemanusiaan. Sebelum seseorang disebut Muslim, Kristen, Hindu, atau Buddha, ia adalah manusia yang memiliki martabat dan hak yang sama.

Pandangan ini membuat Gus Dur berdiri di posisi yang sering tidak populer. Ia membela kelompok minoritas bukan karena kesamaan identitas, tapi karena prinsip keadilan. Ketika minoritas ditindas, Gus Dur hadir. Ketika negara bersikap diskriminatif, Gus Dur melawan.

Pernyataannya yang terkenal—“Tuhan tidak perlu dibela, Ia sudah Maha Segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil”—bukan sekadar kutipan indah, tapi refleksi sikap hidupnya.

Toleransi yang Aktif, Bukan Basa-Basi

Bagi Gus Dur, toleransi bukan sekadar saling mengucapkan selamat hari raya atau menjaga sopan santun formal. Toleransi harus aktif, bahkan jika perlu konfrontatif terhadap ketidakadilan.

Inilah yang membedakan Gus Dur dari banyak tokoh lain. Ia tidak berhenti pada wacana. Saat menjadi presiden, ia mencabut kebijakan diskriminatif terhadap etnis Tionghoa, menghapus istilah “pribumi” dan “nonpribumi”, serta mengakui kembali Konghucu sebagai agama.

Langkah-langkah ini tidak populer dan menuai kritik keras. Namun Gus Dur konsisten: negara tidak boleh membiarkan warganya diperlakukan tidak setara. Karena itulah ia dijuluki Bapak Pluralisme Indonesia. Julukan ini bukan hadiah simbolik, melainkan pengakuan atas keberanian moralnya.

Presiden Nyentrik, Tapi Berprinsip

Sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia, Gus Dur dikenal nyentrik, ceplas-ceplos, dan sering membuat kejutan politik. Banyak kebijakannya dianggap aneh pada masanya. Namun, jika dilihat lebih dalam, keputusan-keputusan itu lahir dari keberanian berpikir di luar kepentingan politik jangka pendek.

Gus Dur menempatkan nilai kemanusiaan dan integritas di atas kompromi kekuasaan. Ia berani mengambil risiko, bahkan jika harus kehilangan jabatan. Dalam iklim politik yang pragmatis, sikap seperti ini menjadi langka.

Gus Dur memimpin di masa transisi yang sangat rumit. Negara sedang rapuh, ekonomi belum pulih dari krisis 1998, konflik horizontal terjadi di berbagai daerah, dan kepercayaan publik terhadap negara masih rendah. Dalam kondisi seperti ini, Gus Dur memilih pendekatan yang berbeda. Ia tidak membangun kekuasaan dengan ketakutan, tetapi dengan keberanian moral dan keterbukaan.

Banyak keputusan Gus Dur yang pada masanya dianggap “aneh” atau “tidak masuk akal”. Ia membubarkan beberapa departemen yang dinilai tidak efektif, merombak struktur birokrasi, dan berani menyinggung langsung kelompok-kelompok kuat, termasuk militer dan elite politik. Langkah-langkah ini membuatnya kehilangan banyak sekutu, tetapi menunjukkan konsistensinya dalam memperjuangkan reformasi.

Gus Dur juga dikenal berani berdialog dengan siapapun, termasuk pihak-pihak yang selama ini dianggap musuh negara. Pendekatannya terhadap konflik di Aceh dan Papua, misalnya, lebih mengedepankan dialog dan pengakuan atas martabat manusia, bukan sekadar pendekatan keamanan. Pada masa itu, cara ini dianggap terlalu lembek. Namun hari ini, banyak yang mengakui bahwa pendekatan humanis Gus Dur jauh lebih visioner dibanding cara-cara represif.

Baca Juga:  Selamat Hari Guru, Penggerak Peradaban Indonesia Maju

Dalam politik luar negeri, Gus Dur menunjukkan sikap independen yang jarang dimiliki pemimpin Indonesia saat itu. Ia berani membuka komunikasi dengan Israel, bukan untuk mengkhianati solidaritas terhadap Palestina, tetapi sebagai upaya diplomasi yang realistis. Langkah ini menuai kecaman keras dan semakin mempersempit ruang geraknya secara politik. Namun bagi Gus Dur, diplomasi tidak boleh dikendalikan oleh sentimen emosional semata, melainkan oleh kepentingan kemanusiaan dan perdamaian.

Salah satu kelemahan terbesar Gus Dur sebagai presiden adalah gaya komunikasinya yang sering kali tidak terstruktur dan sulit dipahami publik. Humor, sindiran, dan pernyataan spontan kerap menimbulkan salah tafsir. Lawan politik memanfaatkan celah ini untuk membangun narasi bahwa Gus Dur tidak serius atau tidak cakap memimpin negara. Dalam politik yang keras dan penuh intrik, kejujuran dan spontanitas justru menjadi kelemahan.

Namun, disitulah letak paradoks Gus Dur. Ia bukan presiden yang piawai memainkan intrik kekuasaan, tetapi ia adalah presiden yang berani mempertaruhkan jabatannya demi prinsip. Ketika kompromi politik bertabrakan dengan nilai kemanusiaan, Gus Dur memilih nilai, meski konsekuensinya kehilangan dukungan.

Pemakzulan terhadap Gus Dur pada 2001 menjadi puncak dari konflik antara idealisme dan realitas politik. Ia jatuh bukan karena skandal korupsi besar atau kejahatan moral, tetapi karena pertarungan kekuasaan. Sejarah kemudian mencatat bahwa banyak kebijakan dan pandangannya justru baru dipahami nilainya bertahun-tahun setelah ia lengser.

Hari ini, ketika kita melihat politik yang semakin pragmatis dan transaksional, sosok Gus Dur terasa semakin kontras. Ia mungkin bukan presiden yang paling efektif secara administratif, tetapi ia adalah simbol kepemimpinan yang berani berbeda, berani jujur, dan berani kalah.

Gus Dur menunjukkan bahwa kekuasaan bukan tujuan akhir. Jabatan hanyalah alat untuk memperjuangkan nilai. Ketika alat itu tidak lagi bisa digunakan tanpa mengorbankan prinsip, ia rela kehilangannya. Dan justru dari sikap inilah, Gus Dur dikenang bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai negarawan.

Guru Bangsa dan Jembatan Peradaban

Jauh sebelum menjadi presiden, Gus Dur adalah cendekiawan Muslim dengan wawasan luas. Ia membaca lintas disiplin dan lintas ideologi. Dari pesantren hingga filsafat Barat, dari tradisi Islam hingga pemikiran kiri.

Inilah yang membuatnya menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas. Ia tidak menolak budaya lokal, tapi juga tidak menutup diri dari pemikiran global. Gelar Guru Bangsa disematkan bukan karena jabatan, melainkan karena kontribusi intelektual dan moralnya.

Relevansi bagi Generasi Muda

Bagi generasi muda hari ini, warisan Gus Dur bukan nostalgia. Ia adalah panduan sikap di tengah era polarisasi, hoaks, dan politik identitas.

Gus Dur mengajarkan bahwa:

Beragama harus membuat kita lebih manusiawi, bukan lebih mudah membenci.

Perbedaan bukan ancaman, melainkan kenyataan yang harus dikelola dengan akal sehat.

Keberanian moral lebih penting daripada popularitas.

Agama, dalam pandangan Gus Dur, seharusnya menghadirkan kedamaian, bukan ketakutan. Membuka dialog, bukan menutup pintu. Membela yang lemah, bukan menguatkan yang menindas. Pada akhirnya, pertanyaan yang ditinggalkan Gus Dur untuk kita bukan soal seberapa religius kita terlihat, tetapi seberapa jauh kita berani berdiri di pihak kemanusiaan.


Alfidelma Nelza (1215230101)

Komunikasi dan Penyiaran Islam

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *