Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka seharusnya tidak hanya dirayakan dengan kibaran Merah Putih dan gegap gempita upacara. Dari Natuna, Amran mengingatkan para pemegang kekuasaan dan seluruh anak bangsa agar tidak mengkhianati darah para pejuang dengan korupsi, ketidakadilan, keserakahan, serta kekuasaan yang menjauh dari rakyat.
Pemimpin Redaksi Koranperbatasan.com, Amran, dari Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, menyerukan agar momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi ruang perenungan bagi para pemegang kekuasaan, insan pers, dan seluruh anak bangsa untuk kembali mengingat besarnya pengorbanan para pejuang dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, kemerdekaan tidak cukup diperingati dengan upacara dan kibaran bendera, tetapi harus diwujudkan melalui keadilan, kesejahteraan rakyat, pemerintahan yang amanah, serta keberanian menjaga kebenaran.
DELAPAN puluh satu tahun Indonesia merdeka bukan sekadar perjalanan angka dalam kalender sejarah. Di balik Merah Putih yang berkibar hari ini, ada darah yang pernah membasahi tanah, air mata yang jatuh tanpa sempat diusap, serta nyawa para pejuang yang diberikan agar anak cucunya dapat berdiri sebagai manusia merdeka di tanah sendiri.
Hari ini, 17 Agustus 2026, Indonesia kembali merayakan kemerdekaannya.
Merah Putih berkibar dari halaman istana hingga beranda rumah sederhana. Lagu Indonesia Raya menggema. Jalan-jalan dihiasi warna merah dan putih. Anak-anak mengikuti perlombaan, sementara upacara digelar dari pusat negeri hingga pulau-pulau kecil di garis perbatasan.
Namun, di tengah gegap gempita perayaan itu, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar seberapa tinggi bendera kita kibarkan. Sudahkah kita menjaga kemerdekaan sebaik para pejuang dahulu memperjuangkannya?
Kemerdekaan Dibayar dengan Darah, Bukan Janji. Kemerdekaan Indonesia tidak datang sebagai hadiah. Ia lahir dari perjuangan panjang. Ada ibu yang kehilangan anaknya. Ada istri yang menunggu suaminya pulang, tetapi tak pernah kembali. Ada anak yang tumbuh tanpa ayah karena orang tuanya memilih maju ke medan perjuangan.
Mereka tidak bertanya apakah perjuangan itu akan membuat mereka kaya. Mereka juga tidak bertanya jabatan apa yang akan diberikan setelah Indonesia merdeka. Mereka hanya mempunyai satu cita-cita. Indonesia harus berdiri di atas kakinya sendiri.
Karena itu, ketika hari ini kita menikmati kemerdekaan, jangan pernah menganggap negeri ini sebagai warisan yang dapat diperebutkan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Indonesia adalah titipan darah para pejuang.
Jangan sampai darah yang dahulu mengalir demi kemerdekaan dibalas dengan korupsi. Jangan sampai pengorbanan mereka dibalas dengan ketidakadilan. Jangan sampai negeri yang mereka bebaskan justru kembali “terjajah” oleh keserakahan anak bangsanya sendiri.
Kepada Para Pemegang Kekuasaan
Kepada siapa pun yang hari ini dipercaya memegang kekuasaan, dari pusat pemerintahan hingga daerah paling jauh di perbatasan, ingatlah satu hal. Jabatan bukan mahkota. Jabatan adalah amanah. Kursi kekuasaan tidak pernah mempunyai pemilik abadi.
Hari ini seseorang mungkin duduk di sana. Besok, orang lain akan menggantikannya. Hari ini pintu dibukakan, kendaraan dikawal, tangan dijabat dan ucapan didengarkan. Tetapi ketika masa jabatan berakhir, semua itu perlahan menjadi kenangan. Yang tersisa hanyalah jejak.
Apakah ketika berkuasa, rakyat semakin mudah mencari pekerjaan? Apakah pedagang kecil dapat mempertahankan usahanya? Apakah nelayan memperoleh kehidupan yang layak dari lautnya? Apakah anak-anak dari keluarga sederhana tetap mempunyai kesempatan mengejar pendidikan? Apakah masyarakat di pulau-pulau perbatasan benar-benar merasakan kehadiran negara? Atau rakyat hanya dicari ketika suara mereka dibutuhkan?
Jangan sampai tangan rakyat yang dahulu dijabat untuk meminta kepercayaan menjadi tangan yang sulit menjangkau pemimpinnya setelah kekuasaan berada dalam genggaman. Pemimpin tidak dituntut menjadi manusia sempurna. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dalam sehari.
Namun rakyat berhak melihat kesungguhan. Rakyat berhak didengar. Dan rakyat berhak mengetahui ke mana negeri atau daerahnya sedang dibawa.
Jangan Khianati Darah Para Pejuang
Pengkhianatan terhadap amanat kemerdekaan tidak selalu dilakukan dengan mengangkat senjata melawan negara. Pengkhianatan dapat tumbuh dalam bentuk yang jauh lebih sunyi.
Ketika uang rakyat masuk ke kantong pribadi, amanat kemerdekaan sedang dikhianati. Ketika jabatan dipakai memperkaya keluarga dan kelompok, pengorbanan para pejuang sedang dilupakan. Ketika hukum begitu berani menghadapi rakyat kecil tetapi kehilangan ketegasan di hadapan mereka yang kuat, keadilan sedang terluka.
Ketika kritik dianggap sebagai permusuhan, sementara pujian dibiarkan mengelilingi kekuasaan, pemimpin perlahan kehilangan cermin untuk melihat dirinya sendiri. Ketika penderitaan rakyat diketahui tetapi dibiarkan, kemerdekaan kehilangan sebagian maknanya.
Tidak ada gunanya berteriak “Merdeka!” paling keras apabila tangan kita sendiri ikut merampas hak rakyat. Tidak ada gunanya berdiri tegak menghormati Merah Putih apabila setelah upacara selesai kita kembali mengkhianati nilai yang diperjuangkan di bawah bendera itu.
Dan tidak ada gunanya berbicara panjang tentang nasionalisme apabila kepentingan pribadi selalu ditempatkan di atas kepentingan bangsa.
Jangan Biarkan Rakyat Hanya Menjadi Penonton
Indonesia bukan hanya gedung-gedung tinggi di kota besar. Indonesia juga ada di warung kecil yang setiap pagi membuka pintunya dengan harapan ada pembeli. Indonesia ada pada nelayan yang berangkat sebelum matahari terbit. Indonesia ada pada petani, buruh, pedagang kaki lima, pelaku UMKM, guru, tenaga kesehatan, mahasiswa, hingga masyarakat yang tinggal di pulau-pulau terluar.
Mereka mungkin tidak duduk di ruang rapat tempat kebijakan dibuat. Namun merekalah yang paling cepat merasakan ketika kebijakan berhasil maupun gagal. Angka pertumbuhan boleh menjulang di atas kertas, tetapi keberhasilan pembangunan pada akhirnya harus dapat dirasakan di meja makan rakyat.
Sebab rakyat tidak hidup dari grafik. Rakyat hidup dari pekerjaan, penghasilan, harga kebutuhan pokok yang terjangkau, pendidikan anak-anaknya, pelayanan kesehatan, dan harapan bahwa esok kehidupan mereka dapat sedikit lebih baik daripada hari ini.
Dari Perbatasan, Kami Menjaga Merah Putih
Dari Natuna, salah satu beranda terdepan Indonesia, makna kemerdekaan memiliki rasa yang berbeda. Di sini, laut membentang luas dan pulau-pulau berdiri menjaga batas negeri. Merah Putih yang berkibar di perbatasan bukan sekadar kain dua warna. Ia adalah penanda bahwa sejauh apa pun masyarakat tinggal dari pusat kekuasaan, mereka tetap bagian dari Indonesia.
Karena itu, jangan hanya mengingat masyarakat perbatasan ketika berbicara tentang kedaulatan wilayah. Ingatlah mereka ketika berbicara tentang ekonomi. Ingatlah mereka ketika berbicara tentang lapangan pekerjaan. Ingatlah mereka ketika membangun pendidikan, kesehatan, transportasi dan konektivitas.
Sebab menjaga perbatasan tidak cukup hanya dengan kapal perang, radar dan pasukan. Masyarakat perbatasan yang sejahtera adalah pagar hidup kedaulatan negara. Ketika masyarakat di garis terdepan merasa diperhatikan, di situlah Merah Putih tidak hanya berkibar di tiang, tetapi juga hidup di dalam hati.
Pers Jangan Takut kepada Kekuasaan
Di tengah perjalanan bangsa ini, pers memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. Pers bukan musuh pemerintah. Namun pers juga tidak boleh menjadi pengeras suara kekuasaan. Ketika pemerintah berhasil, pers berkewajiban memberitakannya secara jujur. Ketika pembangunan membawa manfaat, pers patut memberikan ruang agar masyarakat mengetahuinya.
Tetapi ketika ada persoalan, ketika rakyat mengeluh, ketika kebijakan dipertanyakan, atau ketika ada suara kecil yang tidak mempunyai tempat untuk berbicara, pers juga mempunyai kewajiban membuka ruang.
Pers harus menjadi mata ketika banyak orang memilih menutup mata, telinga ketika suara rakyat mulai tenggelam, dan pena ketika kebenaran membutuhkan jalan untuk sampai kepada publik.
Kritik bukanlah kebencian. Pertanyaan wartawan bukanlah permusuhan. Dan pemberitaan yang tidak menyenangkan penguasa tidak otomatis berarti pers sedang melawan pemerintah. Justru kekuasaan yang sehat membutuhkan kritik. Sebab pemimpin yang hanya dikelilingi pujian dapat kehilangan kemampuan melihat lubang di jalan yang sedang ditempuhnya.
Namun pers pun harus bercermin. Kebebasan pers bukan tiket untuk memfitnah. Pena tidak boleh digunakan untuk memeras. Berita tidak boleh menjadi senjata untuk menjatuhkan seseorang karena kepentingan pribadi. Pena harus tajam terhadap persoalan, tetapi tetap tunduk kepada fakta, etika dan hati nurani.
Jangan Bungkam Pena karena Takut pada Kebenaran
Kepada siapa pun yang memegang kekuasaan, jangan takut kepada wartawan yang bertanya. Takutlah ketika tidak ada lagi wartawan yang berani bertanya. Jangan marah kepada media hanya karena sebuah pemberitaan terasa pahit. Kadang-kadang obat memang tidak terasa manis.
Pers yang kritis dapat menjadi cermin bagi pemerintah. Dan seperti cermin, ia mungkin memperlihatkan sesuatu yang tidak selalu ingin kita lihat. Tetapi memecahkan cermin tidak akan menghilangkan wajah yang dipantulkannya. Jangan patahkan pena hanya karena tulisannya tidak menyenangkan telinga. Jangan tutup pintu hanya karena pertanyaannya sulit dijawab.
Jawablah dengan data. Jawablah dengan kebijakan. Jawablah dengan kerja nyata. Sebab satu tindakan yang benar jauh lebih kuat daripada seribu bantahan.
Kepada Mereka yang Mengkhianati Amanat Negeri
Kepada mereka yang masih mengambil keuntungan dari penderitaan rakyat, ingatlah: negeri ini dibangun bukan untuk menjadi ladang memperkaya diri. Kepada mereka yang menjual kepentingan rakyat demi kepentingan pribadi, ingatlah kekuasaan mempunyai batas. Kepada mereka yang menggunakan jabatan untuk menekan yang lemah, ingatlah: suatu hari jabatan itu akan dilepaskan.
Kepada mereka yang merasa kekuasaan membuat dirinya tidak tersentuh, bukalah kembali sejarah. Tidak ada kekuasaan yang abadi. Kursi akan berganti pemilik, seragam akan dilepas, pengawal akan pergi, tepuk tangan akan berhenti, tetapi catatan tentang apa yang pernah dilakukan akan tetap tinggal.
Jangan tunggu sejarah menuliskan nama kita dengan tinta penyesalan. Merdeka Harus Terasa Sampai ke Rumah Rakyat Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka seharusnya membuat kita semakin dewasa memahami arti kemerdekaan. Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan bangsa asing.
Merdeka adalah ketika rakyat memperoleh keadilan. Merdeka adalah ketika anak muda mempunyai kesempatan bekerja. Merdeka adalah ketika pedagang kecil dapat mencari nafkah tanpa kehilangan harapan. Merdeka adalah ketika masyarakat miskin tidak takut berobat karena tidak mempunyai uang.
Merdeka adalah ketika hukum tidak memilih siapa yang harus ditakuti dan siapa yang boleh diinjak. Dan merdeka adalah ketika rakyat dapat menyampaikan kritik tanpa harus kehilangan rasa aman. Kemerdekaan sejati bukan hanya ketika Merah Putih bebas berkibar di langit, tetapi ketika rakyat dapat hidup dengan kepala tegak di tanah airnya sendiri.
Sebelum Sejarah Menuliskan Nama Kita
Pada akhirnya, kita semua akan pergi.
Presiden akan berganti.
Gubernur akan berganti.
Bupati dan wali kota akan berganti.
Anggota legislatif akan berganti.
Pejabat akan berganti.
Wartawan pun akan berganti.
Tetapi Indonesia harus tetap berdiri.
Karena itu, sebelum sejarah menuliskan nama kita, tanyakanlah kepada hati masing-masing. Apa yang sudah kita berikan kepada negeri yang kemerdekaannya dibayar dengan darah orang-orang yang bahkan tidak pernah mengenal nama kita?
Kepada penguasa, jangan takut kepada kritik. Takutlah ketika rakyat sudah berhenti berharap. Kepada pers, jangan takut menyampaikan kebenaran. Takutlah ketika pena masih berada di tangan, tetapi keberanian telah dibeli kepentingan. Kepada rakyat, jangan pernah berhenti menjaga negeri ini. Karena Indonesia bukan milik pejabat, bukan milik partai politik, bukan milik pengusaha, dan bukan milik satu kelompok.
Indonesia adalah milik kita bersama.
Hari ini kita kembali meneriakkan
Merdeka!
Tetapi setelah suara itu berhenti menggema, masih ada tugas yang jauh lebih berat, menjaga agar kemerdekaan tetap mempunyai makna. Jangan biarkan darah para pejuang hanya dikenang dalam upacara. Jangan biarkan Merah Putih hanya menjadi hiasan setiap bulan Agustus. Jangan biarkan nasionalisme hanya hidup dalam pidato.
Dan yang paling pentingJangan pernah mengkhianati darah mereka yang telah gugur agar kita dapat berdiri sebagai bangsa merdeka hari ini. Dirgahayu Republik Indonesia Ke-81. Merdekalah negeriku. Sejahteralah rakyatnya. Adillah pemimpinnya. Beranilah persnya. Dan tetaplah Merah Putih berkibar di dada setiap anak bangsa.
Dari perbatasan negeri, kami akan terus menjaga kata, merawat kebenaran, dan menyuarakan mereka yang suaranya nyaris tak terdengar.
- OPINI REDAKSI KORANPERBATASAN.COM
- Oleh: Amran – Pemimpin Redaksi koranperbatasan.com










