SAYA lahir dan tumbuh di Desa Tanjung, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Saya adalah seorang perempuan yang dibesarkan di wilayah perbatasan Indonesia, sebuah kawasan yang secara geografis berada di garis terdepan tetapi dalam banyak hal masih menghadapi keterbatasan.
Sejak kecil, saya menyadari bahwa Natuna bukan sekadar tempat tinggal. Natuna berada di kawasan strategis yang berhadapan langsung dengan Laut Natuna Utara dan menjadi bagian dari wilayah penting Indonesia. Kapal-kapal yang melintas di perairannya membawa saya pada kesadaran bahwa saya tumbuh di sebuah wilayah yang memiliki posisi penting bagi bangsa.
Namun, semakin saya tumbuh, semakin saya memahami sebuah kenyataan yang berbeda. Menjadi wilayah terdepan tidak selalu berarti menjadi wilayah yang paling diperhatikan.
Saya menyaksikan keterbatasan fasilitas pendidikan, belum meratanya sumber daya manusia, dan terbatasnya ruang pengembangan diri. Saya melihat anak-anak di sekitar saya memiliki potensi, tetapi tidak selalu memperoleh kesempatan dan dukungan yang memadai untuk mengembangkan potensi tersebut.
Pengalaman itulah yang pertama kali membuat saya bertanya. Jika pendidikan mampu mengubah kehidupan seseorang, mengapa anak-anak di perbatasan masih harus berjuang lebih keras untuk memperoleh kesempatan yang sama? Pertanyaan itu kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya.
Saya Tumbuh dari Keluarga Sederhana
Saya dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayah saya bekerja sebagai petani sekaligus kuli bangunan, sedangkan ibu saya adalah ibu rumah tangga. Tidak banyak kemewahan yang kami miliki, tetapi keluarga saya memberikan sesuatu yang jauh lebih penting, keteladanan.
Saya melihat ayah bekerja di bawah terik matahari untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saya melihat ibu mengelola kehidupan rumah tangga dengan penuh ketekunan dan perhitungan.
Dari mereka saya belajar bahwa kehidupan tidak selalu menyediakan jalan yang mudah. Saya belajar tentang kerja keras, kejujuran, tanggung jawab, dan ketahanan.
Orang tua saya mengajarkan bahwa harga diri seseorang tidak ditentukan oleh apa yang dimilikinya, tetapi oleh bagaimana ia menjalani kehidupan dan mempertanggungjawabkan setiap pilihan. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal ketika saya menghadapi keterbatasan dalam melanjutkan pendidikan.
Ketika Pendidikan Harus Diperjuangkan
Setelah lulus SMA, saya memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Namun, kondisi ekonomi keluarga membuat saya harus mempertimbangkan kembali bagaimana mewujudkan keinginan tersebut. Saya sempat bertanya kepada diri sendiri apakah saya harus menunda pendidikan karena keadaan? Saya memilih untuk mencari jalan.
Saya berkonsultasi dengan guru, mencari peluang, dan memanfaatkan kesempatan yang tersedia. Hingga akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna melalui jalur mahasiswa undangan dengan pembebasan biaya pembangunan. Kesempatan itu menjadi titik penting dalam hidup saya. Saya kemudian menempuh pendidikan S1 Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) pada 2018-2023 dan menyelesaikannya dengan IPK 3,50.
Namun, perjalanan kuliah saya tidak berlangsung dalam kondisi yang mudah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan, saya bekerja sambil belajar dan tinggal di rumah orang. Saya harus membagi waktu antara belajar, bekerja, organisasi, dan kehidupan sehari-hari. Ada masa ketika saya merasa sangat lelah, baik secara fisik maupun emosional.
Dari pengalaman itu saya belajar bahwa ketahanan bukan berarti tidak pernah lelah. Ketahanan adalah kemampuan untuk tetap melangkah ketika rasa lelah datang.
Saya Tidak Ingin Hanya Menjadi Mahasiswa yang Pulang Setelah Kuliah
Saya tidak ingin pengalaman kuliah saya berhenti pada ruang kelas. Karena itu, saya aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Saya dipercaya menjadi Wakil Presiden Mahasiswa DEMA STAI Natuna pada 2021 dan Presiden Mahasiswa DEMA STAI Natuna pada 2022. Saya juga pernah menjadi Sekretaris Umum HMI Cabang Natuna pada 2022-2023 sebelum dipercaya menjadi Ketua Umum HMI Cabang Natuna periode 2024-2025.
Bagi saya, organisasi adalah ruang belajar yang berbeda dari ruang kelas. Di sana saya berhadapan dengan perbedaan pendapat, kepentingan, keterbatasan anggaran, persoalan koordinasi, konflik, kritik, dan tuntutan untuk mengambil keputusan. Saya pernah berada dalam posisi ketika keputusan yang saya ambil mendapat dukungan sekaligus penolakan. Saya pernah dikritik dan diragukan.
Pada awalnya, kritik terasa berat. Namun, perlahan saya belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang selalu menjadi orang yang benar. Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mendengar. Saya belajar menerima kritik, mengevaluasi keputusan, mengakui kekurangan, dan memperbaiki kesalahan melalui komunikasi yang terbuka. Pengalaman tersebut membentuk saya menjadi pribadi yang lebih adaptif dan terbuka terhadap evaluasi.
Lebih jauh lagi, organisasi membuat saya memahami bahwa persoalan pendidikan tidak berdiri sendiri. Pendidikan berkaitan dengan keluarga, ekonomi, lingkungan sosial, budaya, kebijakan, dan kondisi psikologis peserta didik.
Ketika Aktivisme Membawa Saya pada Pertanyaan Akademik
Kaderisasi di HMI semakin memperluas cara pandang saya terhadap persoalan masyarakat. Saya belajar bahwa sebuah masalah tidak cukup dilihat dari permukaannya. Kita harus memahami penyebab, lingkungan yang memengaruhinya, serta manusia yang berada di dalam persoalan tersebut. Dari pengalaman organisasi dan kegiatan advokasi pendidikan, muncul pertanyaan yang semakin kuat dalam diri saya.
Mengapa ada anak yang memiliki potensi tetapi tidak percaya diri? Mengapa lingkungan tertentu mampu mendorong anak berkembang, sementara lingkungan lain justru membuat mereka kehilangan kesempatan? Bagaimana keluarga, sekolah, teman sebaya, dan lingkungan sosial membentuk motivasi serta perkembangan seorang anak?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa saya semakin dekat kepada psikologi pendidikan. Saya mulai menyadari bahwa memperbaiki pendidikan tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas. Kita juga harus memahami manusia yang belajar di dalamnya.
Saya Belajar Menulis agar Perbatasan Tidak Hanya Diceritakan dari Luar
Selain aktif dalam organisasi, saya berusaha mengembangkan kemampuan literasi. Saya memperoleh penghargaan tingkat nasional dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai penulis dalam Program Inkubator Literasi Pustaka Nasional (ILPN) pada 2022. Saya juga menulis sejumlah buku, di antaranya Pelangi di Natuna, Membangun Tapak Peradaban di Ujung Negeri, dan Sentimen Maritim Kepri 2045.
Bagi saya, menulis merupakan cara untuk menjaga agar pengalaman masyarakat perbatasan tidak hanya menjadi cerita dari sudut pandang orang luar. Saya ingin masyarakat di wilayah seperti Natuna memiliki kesempatan untuk menceritakan dirinya sendiri tentang keterbatasan, potensi, kebudayaan, pendidikan, dan harapan mereka.
Saya juga memiliki pengalaman dalam penelitian dan pengabdian masyarakat, termasuk pengabdian berbasis aksi riset di Kampung Tua Segeram serta kegiatan penelitian dan pengabdian pendidikan keagamaan. Pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinan saya bahwa pengetahuan seharusnya tidak berhenti di ruang akademik. Pengetahuan harus kembali kepada masyarakat.
Saya Pernah Gagal Mengatur Prioritas
Perjalanan saya juga tidak selalu berhasil. Ada masa ketika saya terlalu fokus pada organisasi dan berbagai aktivitas di luar perkuliahan sehingga manajemen waktu saya kurang baik. Dampaknya, capaian akademik saya sempat tidak maksimal.
Saya tidak ingin menyembunyikan pengalaman tersebut. Justru dari sana saya belajar bahwa idealisme tanpa manajemen diri dapat menjadi persoalan. Saya mulai menyusun ulang prioritas, memperbaiki cara belajar, mengatur waktu, dan berusaha menyeimbangkan tanggung jawab organisasi dengan tanggung jawab akademik.
Pengalaman itu membuat saya memahami bahwa keberhasilan bukan hanya tentang seberapa banyak kegiatan yang dapat kita lakukan, tetapi seberapa baik kita mampu mempertanggungjawabkan setiap amanah. Kegagalan tersebut akhirnya menjadi salah satu proses pembentukan diri saya.
Mengapa Saya Memilih Psikologi Pendidikan?
Keinginan melanjutkan studi Magister Psikologi Pendidikan lahir dari perjalanan tersebut. Saya ingin memahami pendidikan secara lebih mendalam dari sisi manusia yang menjadi pusat proses pendidikan.
Latar belakang saya sebagai lulusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini membuat saya memiliki perhatian khusus terhadap perkembangan anak. Pengalaman saya sebagai guru pembantu di RA Az-Zahra Desa Tanjung pada 2023-2024 juga memberikan pengalaman langsung dalam lingkungan pendidikan anak usia dini.
Saya semakin memahami bahwa pendidikan anak tidak cukup hanya dengan mengajarkan pengetahuan. Anak membutuhkan lingkungan yang aman, dukungan keluarga, guru yang memahami perkembangan mereka, kesempatan untuk bertanya, ruang untuk mencoba, serta dorongan untuk mengenali potensi dirinya.
Di wilayah perbatasan, kebutuhan tersebut menjadi semakin penting. Saya ingin mempelajari psikologi pendidikan secara lebih mendalam agar dapat memahami persoalan pendidikan bukan hanya berdasarkan pengalaman, tetapi juga berdasarkan pendekatan ilmiah.
Saya ingin mengembangkan kemampuan riset untuk memahami persoalan psikologis dan pendidikan anak di daerah perbatasan. Saya ingin belajar bagaimana pengetahuan psikologi pendidikan dapat diterapkan untuk membantu anak, guru, keluarga, dan lingkungan pendidikan.
Mengapa Saya Harus Kembali ke Natuna?
Saya tidak ingin pendidikan tinggi hanya mengubah kehidupan saya secara pribadi. Saya ingin pendidikan yang saya peroleh memiliki dampak bagi tempat saya berasal.
Ia merupakan kelanjutan dari perjalanan hidup saya. Saya tahu bagaimana rasanya tumbuh dalam keterbatasan. Saya tahu bagaimana rasanya harus berjuang mendapatkan kesempatan pendidikan. Saya juga tahu bagaimana lingkungan pendidikan dapat memengaruhi cara seseorang melihat masa depan.
Karena itu, saya ingin membantu menciptakan lingkungan pendidikan yang membuat anak-anak Natuna percaya bahwa keterbatasan geografis tidak boleh menjadi batas bagi cita-cita mereka.
Saya Tidak Ingin Sekadar Pulang Membawa Gelar
Saya menyadari bahwa melanjutkan pendidikan magister bukan perkara sederhana. Saya harus siap menghadapi tuntutan akademik, penelitian, membaca literatur, menulis, berdiskusi, menerima kritik, dan mempertanggungjawabkan setiap proses ilmiah.
Namun, pengalaman hidup telah mengajarkan saya untuk tidak takut terhadap proses yang sulit. Saya pernah belajar sambil bekerja. Saya pernah hidup dalam keterbatasan. Saya pernah memimpin organisasi. Saya pernah menghadapi kritik. Saya pernah gagal mengatur prioritas.
Semua itu tidak membuat saya merasa telah selesai belajar. Justru sebaliknya, pengalaman tersebut membuat saya semakin sadar bahwa masih banyak hal yang harus saya pelajari. Saya ingin datang ke pendidikan magister bukan dengan perasaan bahwa saya sudah mengetahui semuanya, tetapi dengan kesadaran bahwa saya harus belajar lebih banyak agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar.
Perbatasan Bukan Garis Akhir
Saya adalah anak Desa Tanjung.
Saya tumbuh di Natuna.
Saya dibesarkan oleh keluarga sederhana.
Saya mendapatkan pendidikan melalui perjuangan.
Dan kini saya ingin melanjutkan perjalanan tersebut melalui pendidikan yang lebih tinggi. Bagi saya, menjadi perempuan dari wilayah perbatasan bukan sekadar identitas geografis. Ini adalah tanggung jawab. Saya ingin membuktikan bahwa anak yang tumbuh jauh dari pusat pembangunan juga dapat memiliki kesempatan untuk belajar, memimpin, menulis, meneliti, dan memberikan kontribusi.
Saya ingin menjadi bagian dari generasi yang tidak hanya berbicara tentang pembangunan perbatasan, tetapi ikut membangunnya. Saya percaya pembangunan Natuna tidak cukup hanya berbicara tentang infrastruktur, pertahanan, dan ekonomi. Pembangunan harus dimulai dari manusia.
Jika pendidikan telah memberi saya kesempatan untuk mengubah arah hidup saya, mengapa kesempatan yang sama tidak diperjuangkan untuk lebih banyak anak di perbatasan? Pertanyaan itulah yang ingin saya bawa dalam perjalanan pendidikan saya.
Saya ingin melanjutkan studi Magister Psikologi Pendidikan bukan semata-mata untuk memperoleh gelar, tetapi untuk memperoleh ilmu yang dapat saya bawa pulang. Saya ingin kembali ke Natuna dengan pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan yang lebih kuat.
Karena bagi saya, perbatasan bukanlah tempat di mana cita-cita berhenti. Perbatasan adalah tempat di mana perjuangan untuk membuktikan bahwa setiap anak Indonesia berhak memiliki masa depan justru harus dimulai.
Dan saya ingin menjadi bagian dari perjuangan itu.
- Aprianti, S.Pd.
- Penulis dan pemerhati pendidikan anak usia dini dari Natuna, saat ini tengah mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan Magister Psikologi Pendidikan di Universitas Paramadina.










