Ketika pemerintah pusat menggembar-gemborkan efisiensi anggaran sebagai langkah strategis menghadapi tekanan fiskal global, ada yang luput dari perhatian, denyut ekonomi di dapur-dapur rakyat kecil yang perlahan melemah. Rasionalisasi belanja negara kerap dibingkai sebagai solusi manajemen keuangan negara, namun di sisi lain, realitas keseharian masyarakat menampilkan kontras yang mencolok. Pertanyaannya, siapa yang benar-benar berhemat dan siapa yang justru menanggung akibatnya?
EFISIENSI anggaran adalah istilah yang terdengar positif dalam narasi kebijakan makroekonomi. Ia menyiratkan kecermatan, kehati-hatian, dan penataan ulang prioritas pengeluaran negara. Namun, dalam praktiknya, efisiensi anggaran sering kali bermakna pemangkasan belanja sosial, penghentian program kerakyatan, dan rasionalisasi subsidi yang justru menyentuh kebutuhan dasar warga paling rentan.
Tahun 2025 menjadi saksi dari gelombang efisiensi besar-besaran yang diberlakukan oleh pemerintah. Belanja modal dan operasional dikaji ulang, namun tak sedikit program pemberdayaan masyarakat yang juga ikut terdampak. Padahal, bagi kelompok miskin dan hampir miskin, bantuan sosial dan intervensi harga melalui subsidi adalah satu-satunya tameng dari krisis yang tak henti datang.
Ketika negara melakukan penghematan pada pos-pos yang menyentuh rakyat langsung, maka beban justru dialihkan ke tingkat rumah tangga. Dalam istilah ekonomi, ini disebut sebagai fiscal burden shifting. Rakyat diminta bertahan di tengah biaya hidup yang naik, harga bahan pokok yang melonjak, dan pendapatan riil yang stagnan. Dengan minimnya perlindungan sosial, daya tahan ekonomi warga dipaksa mengandalkan strategi bertahan hidup individual yang pada akhirnya mendorong mereka pada jerat utang konsumtif dan kerja berlebihan.
Data resmi mungkin menunjukkan pertumbuhan PDB yang masih positif, namun indikator ini tidak merepresentasikan distribusi manfaat secara merata. Dalam perspektif ilmu ekonomi kesejahteraan (welfare economics), ketimpangan distribusi belanja negara menciptakan jurang yang makin lebar antara elit kebijakan dan realitas lapangan. Negara tumbuh, tapi kesejahteraan rakyat mengecil.










