Kehadiran negara seharusnya terasa paling nyata saat rakyat berada dalam tekanan. Tapi hari ini, yang hadir justru narasi “penguatan daya tahan” dan “adaptasi masyarakat”. Kalimat-kalimat itu tak menjawab pertanyaan utama, bagaimana caranya bertahan hidup di tengah ekonomi yang menghimpit dari segala arah?
Rakyat kini menanggung banyak hal sendiri. Biaya hidup, pendidikan anak, bahkan perawatan orang tua. Semua ditanggung dengan tenaga dan pendapatan yang makin terkikis. Negara seperti hilang dalam kebisingan kebijakan makro, sementara dapur-dapur rakyat kian sunyi.
Apakah semua ini akan dibiarkan? Apakah pemerintah akan terus bicara angka tanpa menyentuh kenyataan? Rakyat tidak menuntut mewah. Mereka hanya ingin hidup yang layak, akses yang adil, dan kebijakan yang berpihak.










