Fenomena ini menyoroti kondisi ketergantungan struktural nelayan Natuna terhadap sistem pasar global yang tidak stabil, khususnya ekspor hasil laut ke pasar luar negeri seperti Tiongkok. Ikan kerapu yang selama ini menjadi komoditas unggulan memiliki nilai jual tinggi hanya ketika dibeli oleh kapal penampung asing.
Ketidakhadiran kapal Hongkong dalam beberapa bulan terakhir berdampak langsung terhadap ekosistem ekonomi lokal. Bukan hanya Saleh, namun seluruh komunitas nelayan di Bunguran Utara turut merasakan dampak sistemik ini.
“Ini bukan hanya cerita saya. Semua nelayan di sini terdampak. Kami butuh kebijakan cepat. Kalau kapal asing tidak masuk, pemerintah harus hadir baik dengan membuka lapangan kerja alternatif atau membeli langsung hasil tangkapan kami dengan harga yang layak,” tegas Saleh.
Saleh juga menyoroti lemahnya intervensi pasar dari negara dalam menjamin stabilitas ekonomi sektor perikanan rakyat, serta mendesak DPRD Natuna dan Pemerintah Kabupaten untuk mengambil langkah nyata.










