Untung juga menyoroti kecenderungan masyarakat yang lebih cepat menilai negatif apabila terjadi pelanggaran atau kenakalan di dalam Lapas. Padahal, menurut data internal mereka, jumlah WBP yang berhasil berubah dan tidak mengulangi kesalahan jauh lebih besar dibandingkan mereka yang kembali berurusan dengan hukum setelah bebas.
“Yang muncul di permukaan hanya sisi negatifnya. Masyarakat jarang melihat bahwa sebenarnya lebih banyak WBP yang kembali menjadi orang baik dan menjalani hidup normal setelah keluar dari Lapas,” jelasnya.
Ia berharap masyarakat dapat ikut mendukung kerja-kerja pembinaan yang dilakukan. Tujuan mereka tetap sama, bagaimana agar warga binaan memiliki kesempatan memperbaiki diri, meski capaian itu memang belum sepenuhnya sempurna.
Pada aspek pembinaan, Lapas Narkotika Tanjungpinang lebih banyak mengarahkan program ke bidang spiritual, seperti pesantren dalam Lapas dan pengajian rutin. Mereka percaya bahwa pondasi moral menjadi faktor penting dalam membentuk pribadi WBP pasca bebas.
BACA JUGA: Lapas Narkotika Tanjungpinang Bongkar Sajam Rakitan hingga Barang Terlarang di Blok Hunian










