“Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas melalui Dinas Perikanan, Pertanian, dan Pangan (DP3) melakukan penguatan sistem monitoring harga dan ketersediaan stok pangan guna mengantisipasi volatilitas pasar akibat fluktuasi biaya logistik pada periode Musim Utara.”
ANAMBAS — Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perikanan, Pertanian, dan Pangan (DP3) Kabupaten Kepulauan Anambas, Arcan Iskandar, mengonfirmasi bahwa anomali harga pada komoditas beras premium yang mengalami kenaikan sebesar 5 persen bersifat temporer dan dipicu oleh kendala distribusi serta penyesuaian operasional pasar selama periode libur Imlek. Meskipun demikian, otoritas pangan memastikan bahwa ketersediaan beras kategori medium atau Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tetap terjaga pada level harga eceran tertinggi yang terkendali, didukung oleh cadangan pangan daerah yang mencukupi di gudang Bulog.
Ketahanan pangan di wilayah kepulauan terdepan Indonesia kembali menghadapi tantangan musiman yang kompleks. Di tengah dinamika cuaca Musim Utara yang sering kali mengganggu ritme distribusi, Kabupaten Kepulauan Anambas mencatatkan adanya kenaikan harga pada varian beras premium. Berdasarkan hasil survei pasar terbaru, kenaikan tersebut mencapai angka moderat sebesar 5 persen, yang diidentifikasi sebagai dampak dari hambatan transportasi dan penutupan sementara sejumlah gerai distributor selama perayaan Tahun Baru Imlek.
Arcan Iskandar, menekankan bahwa kenaikan ini hanya menyasar segmen premium, sementara komoditas beras medium tetap stabil di angka Rp65.000 per kemasan.
“Informasi dari hasil monitoring pasar menunjukkan bahwa faktor transportasi menjadi variabel utama. Selain itu, terdapat penutupan beberapa toko selama libur Imlek yang memengaruhi kelancaran sirkulasi barang. Namun, masuknya pasokan telur baru-baru ini diharapkan menjadi sinyalemen positif bagi stabilitas harga pangan lainnya,” ujar Arcan saat diwawancarai koranperbatasan.com di ruang kerjanya, Jumat, 20 Februari 2026.
Secara teknis, Anambas memiliki kerentanan geografis yang tinggi karena mayoritas suplai beras premium didatangkan langsung dari Jakarta melalui skema Tol Laut. Pasca non-aktifnya kapal kargo lokal yang selama ini menjadi penopang distribusi, ketergantungan terhadap armada Tol Laut menjadi absolut. Arcan menjelaskan bahwa efisiensi rantai pasok sangat ditentukan oleh ketepatan jadwal kedatangan kapal kargo dan armada Roro.
Untuk memitigasi risiko tersebut, DP3 telah mengaktifkan sistem pengawasan digital melalui tenaga enumerator yang tersebar di titik-titik strategis seperti Palmatak dan Siantan.
“Kami menempatkan petugas enumerator untuk melakukan proyeksi data secara real-time hingga ke tingkat desa. Pengawasan ini krusial untuk mendeteksi dini hambatan distribusi di lapangan,” jelasnya.
Menghadapi ancaman gelombang tinggi yang sering menyertai Musim Utara, pemerintah daerah menjamin bahwa stok cadangan pangan pemerintah (CPP) berada dalam kondisi aman. Saat ini, terdapat sekitar 11 ton beras cadangan yang tersimpan di gudang Bulog sebagai penyangga (buffer stock) jika terjadi disrupsi logistik total.
Terkait intervensi pasar, Arcan menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas tidak mengambil langkah subsidi harga secara langsung. Sebagai gantinya, otoritas menginisiasi strategi Gerakan Pangan Murah (GPM).
“Kami tidak menerapkan program subsidi, namun kami memfasilitasi Gerakan Pangan Murah. Melalui program ini, pemerintah menyediakan lokasi bagi para pedagang untuk menjual komoditas dengan harga di bawah rata-rata pasar guna menjaga daya beli masyarakat,” tambah Arcan.
Dalam upaya menjaga psikologi pasar agar tetap kondusif, DP3 terus berkoordinasi dengan sektor perhubungan guna memastikan kelancaran arus barang. Arcan menilai bahwa saat ini kondisi distribusi mulai kembali ke arah normal seiring dengan beroperasinya armada Tol Laut, Roro, dan kapal kargo swasta secara reguler.
Menutup wawancara, Arcan menghimbau masyarakat untuk tidak melakukan tindakan panic buying yang dapat memicu eskalasi harga secara tidak alami.
“Harapan kami kepada masyarakat adalah agar tetap melakukan pola konsumsi sesuai kebutuhan rill. Jangan terjebak dalam perilaku konsumtif yang berlebihan. Dengan menjaga pola konsumsi yang rasional, kita bersama-sama dapat mempertahankan stabilitas harga pangan di Anambas, meskipun berada di tengah tantangan cuaca ekstrem,” pungkasnya. (KP).
Laporan : Azmi
Editor : Dhitto










