KABAR PERBATASANKEPULAUAN RIAUNATUNAPOTRET PERBATASANRAGAM PERBATASAN

Sampah Numpuk Masyarakat Ngeluh, Syuparman: Mau Tak Mau Swadaya Masyarakat

×

Sampah Numpuk Masyarakat Ngeluh, Syuparman: Mau Tak Mau Swadaya Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Tumpukan sampah di pinggir pantai RT 02 RW 07 Batu Kapal, Kelurahan Ranai Kota, Kecamatan Bunguran Timur, Minggu 22 Agustus 2021.

NATUNA – Gotong royong sepertinya menjadi salah satu dari sekian banyak kebiasaan positif masyarakat Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, yang masih terlestarikan.

Kebiasaan positif yang telah membudaya tersebut, tidak ubah seperti yang dilakukan oleh warga RT 02 RW 07 Batu Kapal, Kelurahan Ranai Kota, Kecamatan Bunguran Timur.

Pantauan wartawan koranperbatasan.com, Minggu 22 Agustus 2021 terlihat warga sekitar berbondong-bondong dan saling bahu membahu membersihkan tumpukan sampah di sisi pantai dan eceng gondok yang tumbuh liar menutupi selokan.

Nanang selaku Ketua RT setempat, membenarkan sampah didaerahnya menjadi musuh nyata, karena suka menyelimuti bagian pinggir pantai. Sampah yang muncul setiap hari dari berbagai sumber itu, terbilang sulit diatasi.

“Sudah sering kita lakukan gotong royong, namun begini lah, selalu ada sampah yang menumpuk,” katanya kepada koranperbatasan.com.

Kemudian lanjut Nanang, selain tumpukan sampah, keberadaan enceng gondok yang tumbuh liar juga terpantau cepat berkembang. Saking cepatnya, tumbuhan liar itu tidak membutuhkan waktu lama untuk dapat menyelimuti selokan setelah dibersihkan.

“Itu tumbuh secara alami, tidak terlalu menjadi persoalan, masih bisa kita bersihkan perlahan. Yang dikeluhkan masyarakat adalah sampah ini,” pungkasnya.

Warga setempat sedang membersihkan eceng gondok yang tumbuh liar menyelimuti bagian bawah rumah warga, Minggu 22 Agustus 2021.

Menurutnya, sampah-sampah datang dari daerah lain hanyut terbawa air dan menumpuk di pinggir pantai daerahnya. Selain itu, fasilitas yang minim juga menjadi kendala bagi meraka untuk dapat mengatasi persoalan sampah-sampah tersebut.

“Kadang kita bingung juga, mau di buang kemana? Fasilitas untuk menampung baik skala kecil maupun besar itu kita tidak punya,” ungkapnya.

Ia bahkan memastikan sudah berupaya untuk mendapatkan fasilitas yang dibutuhkan melalui musrenbang tingkat kelurahan.

“Tiap tahun kita usulkan, 10 tong sampah untuk di belakang dan 10 untuk depan. Sampai sekarang belum terealisasi,” ujarnya.

Baca Juga:  Bantuan Strategis Pemkab Natuna Disalurkan ke Desa Batu Gajah

Selama ini sampah-sampah yang ada, diantar ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) dengan menyewa kendaraan. Hal itu dikarenakan tidak adanya petugas pengangkut sampah yang sampai ke wilayahnya.

“Tidak pernah ada petugas yang mengangkut disini. Kita sewa motor tossa atau mobil pick up secara pribadi,” tegasnya.

Oleh karena itu, Ia berharap teralisasinya pengadaan tong sampah dan adanya petugas pengangkut sampah dari pemerintah daerah sampai ke wilayahnya.

“Jika teralisasi itu kami bersyukur, namun alangkah labih baik juga petugas itu sampai disini. Ada pun kita nanti tong sampah, tidak ada yang ngangkut, artinya kita sewa lagi kendaraan untuk diantar ke TPS,” tutupnya.

Sejalan dengan itu, Lurah Ranai Kota, Syuparman, SE yang juga ikut serta dalam gotong royong saat itu. menyebutkan, pihak kelurahan tidak bosan-bosannya menghimbau dan mengajak masyarakat supaya senantiasa melaksanakan gotong royong. Minimal satu bulan sekali dalam program jum’at bersih.

Diakuinya, sudah beberapa kali mengikuti kegiatan gotong royong di wilayah tersebut. Tumpukan sampah menurutnya datang dibawa gelombang dan arus dari arah laut. Karena daerah itu termasuk wilayah pesisir, maka sampah-sampah yang hanyut terbawa gelombang menumpuk. Ada banyak faktor menjadi penyabab tumpukan sampah tersebut. Bisa jadi dari orang yang berada di wilayah lain membuang sampah di laut, kemudian hanyut dan menumpuk di sisi pantai tersebut.

“Atau memang masyarakat setempat yang buang sampahnya sembarangan,” pungkasnya.

Lurah Ranai Kota, Syuparman, SE yang juga ikut serta dalam gotong royong bersama warga saat itu, terlihat sedang memasukan sampah pada sebuah angkutan untuk di buang.

Ia juga membenarkan, bahwa RT setempat sudah pernah mengusulkan pengadaan tong sampah dalam musrenbang tingkat kelurahan. Bahkan sudah diprogramkan untuk pengadaan di tahun 2021 sebanyak 85 unit tong sampah, untuk dibagikan ke wilayah se-Kelurahan Ranai Kota. Namun, karena adanya refocusing anggaran, pengadaan tersebut tidak terealisasikan.

Baca Juga:  Bupati Natuna Resmikan Gedung Perpustakaan Idrus M. Thahar, Dorong Perpustakaan Tetap Eksis di Era Digital

“Seperti yang disampaikan Pak RT, kita sudah masukan dalam musrenbang. Dan pengadakaan tong sampah itu ada 85 unit. Tetapi karena refocusing anggaran, tidak bisa kita laksanakan atau realisasikan,” ungkapnya.

Jadi lanjutnya, jika pengadaan tong sampah itu teralisasikan. Maka akan dibagikan ke setiap RT yang ada di Kelurahan Ranai Kota.

“Mana RT yang rawan sampahnya banyak kita kasih tongnya. Tujuannya, untuk mengurangi sampah-sampah tadi. Mereka ketemu sampah dipungut, mungkin seperti itu upaya-upaya yang akan terus dilakukan,” imbuhnya.

Bahkan tuturnya, sudah ada program untuk pengadaan 1 unit mobil pick up dan 1 atau 2 unit motor tossa, namun tidak juga bisa terealisasikan. “Karena anggaran terbatas, mau tak mau itu dicoret dari kegiatan kita,” tuturnya.

Ia juga mencerikan, untuk Kelurahan Ranai Kota, sudah ada mendapatkan bantuan dari AirNav berupa 2 unit motor tossa dan sekitar 30 unit tong sampah. Tetapi peruntukannya khusus di wilayah Jemengan.

“Bisa saja tekhnisnya nanti kita minta bantu, tetapi untuk Jemengan saja tidak cukupkan. Karena luas juga, Jemengan itu ada darat dan laut,” cetusnya.

Oleh karena itu, Ia memastikan, jika kedepannya terdapat bantuan-bantuan tong sampah dari pemerintah daerah. Maka akan diutamakan untuk wilayah Batu Kapal.

“Daerah luar dan dalam ini (depan dan belakang batu-red),” ujarnya.

Terkait persoalan kendaraan pengangkut sampah yang disewakan, sebagai solusi sementara, karena tidak ada anggaran untuk mengelola itu. Maka, diupayakan swadaya, tenaga dan pengorbanaan masyarakat.

“Mau tak mau swadaya masyarakat dulu,” tegasnya.

Sekali lagi, Ia memastikan pihak kelurahan akan terus berupaya agar sampah-sampah tidak semakin menumpuk. Dengan adanya program jum’at bersih, diharapkan masyarakat ikut bahu membahu membersihkan lingkungan. Agar terciptanya rasa keamanan dan ketertiban umum.

“Apa lagi saat pandemi, kita wajib menjaga kesehatan agar tidak mudah terpapar virus Covid-19. Dengan lingkungan bersih maka kita akan sehat. Jika sehat bisa melaksanakan aktivitas. Mudahan terlaksana diseluruh wilayah se-Kelurahan Ranai Kota,” tutupnya. (KP).


Laporan : Johan


📊 Views: 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *