Senyum Sahna Memilukan Cuma Nyiru dan Tapis Penyambung Hidup

oleh
Sahna-pengrajin-anyaman-nyiru-dan-tapis-tersenyum-pilu

NATUNA, (KP),- Nek Sahna perempuan tua berusia 60 tahun, dan Busman Ali seorang kakek berusia 80 tahun ini, hidup dalam rumah usang keterasingan. Pasangan separuh baya tanpa buah hati ini, mengaku selama ini hanya bisa bertahan hidup, meskipun tinggal di Kabupaten terkaya se-Provinsi Kepri. Singkat cerita, sang kakek bekerja di sebuah warung kecil. Warung tersebut menyediakan aneka jenis sayuran muda seperti, mentimun, daun ubi, cabe kecil, dan sebagainya. Sedangkan sang nenek, hanya bisa mengayam tapis, nyiru, dan pengayak sagu. Dari hasil ini-lah mereka dapat meneruskan kelangsungan hidup.

Menurut sang nenek, anyam-mengayam yang ditekuninya selama ini bermodalkan uang saku milik pribadi. Hampir tiga bulan belakangan ini, sang nenek menjalani propesi sebagai pengrajin nyiru. Untuk mendapatkan bahan-bahan pembuatan tapis dan nyiru sang nenek mengaku bahwa dirinya terpaksa harus memasuki hutan belantara mencari rotan. Karena untuk membeli sepuluh potong roton berukuran sekitar dua meter harus memiliki uang sebesar Rp. 20 ribu.

Meski sudah tua, dan hidup dalam badai derita, sang nenek mengaku dirinya tidak pernah mengeluh, bahkan selalu tersenyum. Anyaman nyiru yang dibuatnya tidak pernah bisa dititipkan di wanrung-warung, karena orang yang ingin membeli nyiru dan tapis hasil kerajinan tangannya itu, langsung datang membeli ke rumah. Jika sedang bernasib baik, sang nenek mengatakan, ada sebagian dari pembeli yang datang memesan tapis dan nyiru tersebut. Dari pengakuannya, sang nenek hanya sanggup membuat tapis dan nyiru dalam satu hari sebanyak 4 buah saja.

Dari cerita yang ada, terkait usaha pembuatan nyiru dan tapis, nenek tua ini, mengatakan selama ini dirinya belum pernah menerima bantuan dari pemerintah setempat. Dia berharap agar pemerintah setempat melalui pihak terkait kiranya dapat mendatangkan bantuan modal usaha untuk mengembangkan anyaman nyiru dan tapis yang selama ini ditekuninya. ” Kendalanya dengan rotan, karena rotan sangat mahal harganya. Kalau bambu tidak terlalau susah, karena bambu itu didalam hutan banyak. Mudahan ada bantuan modal dan bisa maju, orang banyak yang tau lalu datang membeli, “ tutur sang nenak tersenyum.(Amran).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *