NASIONALNATUNAOPINIPENDIDIKANPOTRET PERBATASAN

23 Tahun Provinsi Kepri, Natuna Masih Jadi Simbol di Atas Kertas

×

23 Tahun Provinsi Kepri, Natuna Masih Jadi Simbol di Atas Kertas

Sebarkan artikel ini
Formateur Ketua Umum HMI Cabang Natuna, Fergiawan, saat menyampaikan refleksi 22 tahun Provinsi Kepulauan Riau.
Formateur Ketua Umum HMI Cabang Natuna, Fergiawan, menyampaikan ucapan selamat hari jadi ke-23 tahun Provinsi Kepulauan Riau.

MERENUNGKAN kembali asa lama yang mulai meredup bagaikan sang jingga terbenam di ufuk barat. Memantulkan kilauan minyak yang kemarah-merahan dalam bayang-bayang sang bujang muda bertelanjang dada berlari kencang mendaki di atas karang penuh lamunan diselimuti kebisuan menatap luasnya samudera.

Kini Provinsi Kepulauan Riau telah merayakan hari jadinya yang ke 23 tahun setelah resmi pemekarannya dari Provinsi Riau pada tanggal 24 September 2002.

Provinsi Kepulauan Riau adalah provinsi berbentuk kepulauan yang saling terputus sambung oleh lautan, terdiri dari 5 kabupaten, 2 kota, 52 kecamatan serta 299 kelurahan/desa.

Terdapat sekitar 2.408 pulau besar dan kecil terbentang dalam peta wilayah Provinisi Kepri, sementara 30% dari total tersebut belum bernama bahkan berpenduduk.

Luas wilayahnya mencapai 8.201,72 km², sekitar 96% merupakan lautan dan hanya 4% berupa daratan.

Setelah 23 tahun berdiri, Provinsi Kepri tampak gemerlap kemewahannya mengangkat derajat martabat masyarakat melayu, namun hanya segelintir wilayahnya yang terang benderang oleh gemerlap dari kemehawan pembangunan.

Beberapa daerah terujung termasuk Kabupaten Natuna sendiri belum jelas kemana arahnya dan menjadi sebuah pertanyaan sebagai apa dalam bagian tubuh Provinsi Kepri. Akankah hanya menjadi sebuah simbol semata atau menjadi sebuah boneka rekayasa kebijakan di atas kertas. Kiranya perlu menjadi sebuah perhatian bersama oleh para penguasa pemangku kebijakan dan pemangku kepentingan di tanah melayu ini untuk sudi membuka dan melirikkan sedikit bola matanya yang hampir buta ke arah daerah kami yang terujung dan seakan terbuang jauh dari pusat pembangunan.

23 Tahun adalah usia yang cukup muda bagi berdirinya sebuah provinsi di Republik ini, namun hembusan angin dingin yang membawa aroma batu karang dan buih lautan masih menjadi primadona bagi masyarakat melayu pesisir.

Baca Juga:  Pemkab Anambas Temui Menteri Perdagangan Usulkan Pembangunan Dua Pasar

Provinsi Kepri kini tak lagi berusia belia hanya untuk sekadar merangkai mimpi bak bocah kecil yang masih mengelap ingus bercampur air liur dengan tanganya. Usianya yang matang seharusnya telah melahirkan kesejahteraan dan kemajuan seutuhnya bagi seluruh wilayahnya. Namun, di perayaan ini kita seolah dipaksa memandang cermin yang retak.

Provinsi Kepulauan Riau yang secara geografis adalah gugusan pulau-pulau, sesungguhnya terbelah dalam realitas pembangunan. Di satu sisi, Batam dan Tanjungpinang berdenyut dalam gemerlap kota metropolitan menjadi etalase kemajuan yang membanggakan.

Di sisi lain ada Natuna, berada di ujung utara yang di sebut-sebut dengan mulut manis berlapis madu dan berlidah ular sebagai perisai kedaulatan yang seakan terlupakan, namun justru terlihat dalam mata telanjang menjadi sebuah ladang mega proyek kepentingan belah semangka dan menjadi “anak tiri” yang hanya diingat saat peta geopolitik memanas.

Sudah 23 tahun Provinsi ini mekar, namun Natuna masih merasakan pilu keterbatasan terbalut dalam luka-luka nyeri menusuk hati yang dibalut dalam kepalsuan birokrasi.

Pembangunan seringkali hanya terasa sebagai sebuah simbol sebatas tinta di atas lembaran kertas rekayasa kebijakan bukannya hadir sebagai denyut nadi kemajuan, seolah dipertahankan sebagai “boneka kebijakan” yang berfungsi sebagai lambang keutuhan wilayah di peta tanpa diberi darah dan daging pembangunan yang sesungguhnya.

Kita mengakui, Natuna adalah daerah perbatasan paling strategis, namun ironisnya juga terasa paling terisolasi dalam awan kelabu terputus ke ibukota dan terputus ke negeri luar oleh Laut China Selatan.

Akses konektivitas, infrastruktur dasar, dan pemerataan ekonomi masih tertinggal jauh. Posisi kami yang berada di ujung paling utara republik seolah menjadi penanda jarak yang semakin jauh dari pusat kekuasaan dan anggaran, membuatnya terasa terbuang jauh dan ditinggalkan di kesunyian pulau-pulau.

Baca Juga:  SKK Migas dan KKKS Bagikan Ratusan Paket Sembako di Anambas

Rabbana atina fiddunya hasanah…
(Ya tuhan kami berikanlah kami kebaikan di dunia)

Wahai para penguasa pemangku kepentingan dan pemangku kebijakan, janganlah engkau telanjang bugilkan kami dalam keadaan menjerit dengan derita penuh luka-luka.

Wa fil akhiroti hasanah…
(Dan kebaikan di akhirat)

Wahai para penguasa pemangku kepentingan dan pemangku kebijakan, sesungguhnya diantara engkau yang terhormat dan mulia harus dengan cara apa kami memelas untuk tulisan tanda tanganmu yang dapat melepaskan kami dari jeratan deru mesin keserakahan yang mencangkul dan menelanjangi kami di tanah sendiri.

Waqina adzabannar…
(Serta lindungilah kami dari siksa neraka)

Ya tuhan kami sesungguhnya engkaulah yang maha perkasa lagi maha kuat, seandainya engkau menidurkan para penguasa kami untuk selamannya, tidurkanlah mereka dalam keadaan sempurna dan sebaik-sebaiknya.

Kepada para pemangku kebijakan dan pemangku kepentingan, renungkanlah. Apakah cukup bagi provinsi ini hanya merayakan kemegahan di ibukota sementara di garda terdepan masyarakat kami masih berjuang melawan keterbatasan.

Dalam Usia 23 tahun Provinsi Kepri, seharusnya menjadi momentum untuk mengakhiri drama ketimpangan ini yang kian terseok-seok, mengubah daerah terujung dan terluar dari sekadar simbol di atas kertas menjadi ujung tombak pembangunan yang nyata dan berdaulat.


Oleh : Formateur Ketua Umum HMI Cabang Natuna, Fergiawan dalam ucapan Hari ulang tahun Provinisi Kepri ke 23 (24 September 2002 – 24 September 2025)


📊 Views: 10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *