“Saya cuma menyampaikan keluh kesah warga selama ini. Untuk penerangan, masyarakat Air Mas hanya pakai mesin kcil beli sendiri. Dulu orang PLN ke Pulau Ngenang, katanya mau pasang ke pulau-pulau, kalau Ngenang menyala di tempat kami juga ikut terang. Bahkan kami sudah bayar DP untuk pasang instalasi. Katanya tiga tahap, tapi sampai sekarang belum ada juga,” Ketua RW 002 Kelurahan Ngenang, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Fransiska Raenam.
BATAM – Berawal dari cerita seputar dunia dakwah sambil menikmati kopi panas di sekitar Jalan Hang Lekir Batu 9 Kota Tanjungpinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau, Kamis, 03 Maret 2022 malam itu, koranperbatasan.com memperoleh informasi tentang mirisnya kehidupan masyarakat yang tianggal dibeberapa daerah terpencil di Kota Batam.
Informasi berharga bagi para pekerja pers tersebut diperoleh dari cerita salah seorang ustad bernama Ahmad Arie Anggara yang mengaku sudah berdakwah di banyak tempat. Salah satunya di beberapa pulau terpencil dan tertua yang masuk dalam wilayah Kelurahan Ngenang, Kecamatan Nongsa, Kota Batam.
Diceritakan Ustad Ahmad Arie Anggara, di Kota Batam masih ada masyarakat yang belum dapat merasakan nikmatnya dampak dari perkembangan pembangunan di era revolusi industri 4.0. Sebab masih ada beberapa daerah yang saat ini dipimpin oleh Muhammad Rudi selaku Wali Kota Batam, belum teraliri listrik.
Ustad Ahmad Arie Anggara menceritakan pengalamannya selama berdakwah di beberapa daerah, Kamis, 03 Maret 2022 malam.
“Tak hanya penerangan listrik! disitu juga belum ada sekolah dan puskesmas, padahal jumlah penduduknya lumayan banyak,” ungkap Ustad Ahmad Ari Anggara menceritakan kondisi kehidupan yang sempat menyentuh hatinya selama berada di Selat Desa satu daratan dengan Air Mas, kepada koranperbatasan.com dihadapan Ketua Ormas Generasi Anak Melayu (Geram) Kepri Bersatu, Aryandi.
Ustad Ahmad Arie Anggara, juga mengaku prihatin melihat anak-anak sekolah yang masih kecil-kecil terpaksa harus mendayung sampan bersama orang tuanya menyemberang lautan bergelombang menuju pulau seberang (Pulau Ngenang-red) satu-satunya daerah yang sudah ada sekolahnya di wilayah tersebut.
“Dari Selat Desa, dan Air Mas mereka pergi sekolah pakai sampan ke Ngenang, sampai di Ngenang mereka lanjut lagi berjalan kaki, bukan pula dekat, kasian kan?,” ujarnya.
Menurut Ustad Ahmad Arie Anggara, sudah bertahun-tahun masyarakat di Timur Pulau Batam yang hanya berjarak 15-20 menit jika ditempuh menggunakan kapal motor dari Pelabuhan Telaga Punggur hidup tanpa listrik. Padahal pulau tersebut menjadi lintasan kabel SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) yang menghubungkan Kota Batam dengan Kabupaten Bintan.
Beberapa menara SUTET yang menghantarkan listrik sudah lama berdiri kokoh di Selat Desa hingga Air Mas. Namun sampai saat ini gelap masih saja mengepung warga setempat. Diesel dipakai bersama menjadi satu-satunya harapan warga Selat Desa untuk dapat menikmati listrik yang mengalir ke rumah-rumah.
Menara SUTET yang menghantarkan listrik berdiri kokoh di Pulau Selat Desa hingga Air Mas. (Foto : ACTNews / Eko Ramdani).
“Sebenarnya masih banyak yang kurang, salah satu yang harus digenjot adalah listrik. Saya heran, katanya Batam sendiri dikenal dengan kota gemerlap, tapi kenapa masih ada daerahnya yang redup,” cetusnya.
Kata Ustad Ahmad Arie Anggara, selama mengabdi di daerah tersebut pembinaan agama bagi mualaf rutin dilakukannya. Hampir setiap hari digelar agenda berdakwah melalui berbagai kegiatan, termasuk pengajian bagi anak-anak. Namun sayang fasilitas pendukung seperti musala juga dirasakan masih kurang.
“Saya hanya ingin memperkenalkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin, apalagi mualafnya dari suku laut yang sebelumnya percaya dan terbiasa dengan hal-hal lain. Sayangnya lampu hidup terbatas, tapi alhamdulillah di musholla sekarang sudah ada tenaga surya dari solar cell yang dapat membantu adzan sampai isya, namun subuh kadang-kadang habis,” terangnya.
Lebih jauh, Ustad Ahmad Arie Anggara menceritakan jarak Selat Desa dan Air Mas dengan Batam memang terlihat dekat pada peta. Tetapi jika hendak mencapai Batam, setiap orang harus mengeluarkan uang sedikitnya Rp100 ribu untuk biaya bahan bakar perahu sekali jalan.
“Alhamdulillah, walaupun kondisi belum ideal, mualaf di pulau ini tetap menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh, tinggal bagaimana pemerintah mempercepat pembangunannya saja,” pungkasnya.
Screnshot Google Maps letak strategis Pulau Air Mas, Selat Desa, Tanjung Sauh dan Kampung Tua RW 002 Kelurhan Ngenang, Kecamatan Nongsa, Kota Batam Provinsi Kepri.
Ketua RW 002 Kelurahan Ngenang, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Fransiska Raenam, ketika diminta keterangan melalui telepon seluler membenarkan kondisi daerahnya yang memiliki banyak kekurangan.
Kata Fransiska, RW 002 terdiri dari tiga Rukun Tetangga (RT) memiliki jumlah penduduk kurang lebih sekitar 450 jiwa dengan rincian RT 001 sebanyak 67 Kepala Keluarga (KK), RT 002 sebanyak 40 KK, dan RT 003 sebanyak 44 KK. Dengan sumber pendapatan utamanya berasal dari hasil tangkapan laut.
“Rata-rata masyarakat disini nelayan, hasil tangkapannya dijual ke penampungan, ada juga orang datang langsung mengambil disini. Selain ikan ada juga ketam, pokoknya hasil laut,” kata Fransiska menjawab koranperbatasan.com, Jum’at 04 Maret 2022 melalui pesan WhatsApp.
Fransiska juga membenarkan bahwa di daerah tersebut belum tersentuh penerangan listrik. Listrik menurutnya hanya dapat dirasakan oleh masyarakat yang berada di Pulau Ngenang, begitu juga layanan pendidikan dan kesehatan.
“Listrik sama sekolah memang belum ada disini. Anak-anak kita sekolahnya di Ngenang,” sebutnya.
Fransiska menjelaskan, pada tahun 2017 sebelum dirinya dipercaya menjabat sebagai Ketua RW 002 Kelurahan Ngenang, permohanan agar daerah tersebut dialiri listrik sudah pernah diajukan, namun sampai saat ini belum terealisasikan.
Potret salah satu warga Selat Desa mendayung sampan mengantar anaknya ke sekolah di Pulau Ngenang. (Foto : ACTNews / Eko Ramdani).
“Listrik sudah lama tidak ada kabar, tahun 2017 kita sudah ajukan, pernah ada orang dari PLN Tanjung Uban datang ke Ngenang, mau pasang ke pulau-pulau, mereka bilang kalau Ngenang menyala, di tempat kami juga terang. Tapi sampai sekarang belum ada juga,” imbuhnya.
Fransiska bahkan mengaku dirinya dan beberapa warga sudah ada yang membayar tanda jadi pemasangan listrik yang katanya akan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan pemasangan instalasi jaringan listrik di rumah-rumah warga.
“Kemarin ada yang urus dari Tanjung Uban pasang instalasi ke rumah-rumah, dan DP-nya sudah kami bayar, bahkan ada yang sudah bayar slot, kerena tiga tahap. Tapi sampai sekarang belum ada kabar, alasan tidak cukup target,” ungkap Fransiska.
Fransiska juga membenarkan keberadaan Ustad Ahmad Arie Anggara yang begitu peduli dengan kehidupan masyarakat di daerah tersebut.
“Ustad Arie sangat membantu kami, jika tidak ada halangan akan dibutkan sumur bor di tempat kami untuk ke rumah-rumah. Ini sangat membantu terutama bagi kami ibu-ibu tak perlu ambil air ke sumur lagi,” ujarnya.
Fransiska berharap pembangunan didaerahnya diperlakukan sama dengan daerah-daerah lain yang sudah berkembang. Karena yang warganya inginkan selama ini adalah tetap bisa tinggal di Air Mas, Dapur Arang dan Tanjung Sauh termasuk Selat Desa. Apa lagi jika sudah bisa dialiri listrik.
Potret kehidupan di Selat Desa salah satu daerah yang membutuhkan perhatian seriau pemerintah setempat. (Foto : ACTNews / Eko Ramdani).
“Selama ini kami hanya melihat tiang tower yang ada di dekat kampung kami. Harapan masyarakat bagaimana agar mereka tidak pindah dari sini dan dapat merasakan seperti di kampung-kampung lain,” pungkas Fransiska.
Terpisah Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Generasi Anak Melayu (Geram) Kepri Bersatu, Aryandi, dengan tegas meminta Wali Kota Batam, Muhammad Rudi melalui instansi terkait segera menjawab keluh kesah yang disampaikan masyarakatnya.
Kata Aryandi, sebagai orang nomor satu di Kota Batam, Muhammad Rudi tidak boleh seperti menutup mata dan mengabaikan permintaan masyaraktnya. Karena membangun Indonesia dari pinggiran menjadi bagian terpenting pendekatan pembangunan pemerintahan presiden saat ini.
“Terus terang kami kecewa, apa lagi bicara marwah dan ketimpangan ekonomi serta pendidikan termasuk keberdaan listrik. Karena listrik bagian dari upaya meningkatkan kecakapan digital sejalan dengan pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang merata di seluruh tanah air,” tegasnya.
Menurut Aryandi, pembangunan infrastruktur menjadi kunci pemerintah untuk membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat dan meningkatkan mobilitas. Tidak berhenti pada infrastruktur, pemerintah juga memiliki tantangan besar dalam mendorong agar infrastruktur tersebut bisa memperkuat ekonomi masyarakat.
“Nah! tentu tidak terlepas dari keberadaan listrik, ini juga salah satu tantangan bagi pemerintah, sebab listrik sudah menjadi kebutuhan sehar-hari. Misalnya kalau sudah ada listrik masyarakat bisa buat es batu untuk kebutuhan nelayan turun ke laut,” terangnya.
Ketua DPP Geram Kepri Bersatu, Aryandi, SE (kopiah putih) menyaksikan wawancara koranperbatasan.com bersama Ustad Ahmad Arie Anggara di Jalan Hang Lekir Batu 9 Kota Tanjungpinang, Kamis, 03 Maret 2022.
Aryandi mengaku heran akan sosok Muhammad Rudi yang kabarnya kerab menjadikan Batam sebagai perbandingan kemajuan pembangunan bagi daerah-daerah lain di Kepulauan Riau. Nyatanya di Batam sendiri masih ada daerah yang belum dialiri listrik.
“Katanya pembangunan di Batam dapat memberikan efek bagi daerah-daerah yang berada di sekitar Batam. Tapi kenapa masih ada masyarakatnya yang ngeluh minta listrik, pergi sekolah harus berdayung sampan, kata Pak Ustad rumah ibadah pun belum memadai,” beber Aryandi.
Cerita seputar dunia dakwah sambil menikmati kopi panas di sekitar Jalan Hang Lekir Batu 9 Kota Tanjungpinang, Kamis, 03 Maret 2022 malam itu membuat Ketua DPP Geram Kepri Bersatu, Aryandi dan kawan-kawan menitipkan pesan khusus melalui pemberitaan media ini kepada Pemko Batam maupun Provinsi Kepri untuk dapat merealisasikan permintaan masyarakat RW 002 Kelurahan Ngenang.
“Kami dari Geram Kepri Bersatu minta Pemko Batam maupun Pemprov Kepri secepatnya menemui dan segera jawab keluhan masyarakat daerah itu, karena sudah terlalu lama masyarakat di pulau-pulau itu diam bergelap,” pinta Aryandi.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Provinsi Kepulauan Riau, Hasan, S.Sos, salah satu instansi yang berhasil ditemui untuk diminta keterangan terkait yang terjadi belum dapat memberikan jawab. Namun ia akan menyampaikan informasi tersebut kepada Gubernur Provinsi Kepri, Ansar Ahmad.
“Kirim ke saya pesan itu, nanti disampikan ke bapak,” kata Hasan, menjawab koranperbatasan.com di ruang dinasnya, Jum’at 04 Maret 2022. (KP).